Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 133
Hari ini :1.222
Kemarin :2.296
Minggu kemarin:10.323
Bulan kemarin:51.287

Anda pengunjung ke 3.669.542
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 04 Sya'ban 1438 (Senin, 1 Mei 2017)
Politik Islam Melayu (Studi Pemikiran Raja Ali Haji 1808-1873)

Judul Tesis                 : Politik Islam Melayu (Studi Pemikiran Raja Ali Haji 1808-

  1873)

Penulis                        : Faishal Shadik

Program Studi            : Hukum Islam

Konsentrasi                : Studi Politik dan Pemerintahan dalam Islam

Asal Universitas         : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 
Perbincangan mengenai politik Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh pemikiran politik para ulama Timur Tengah. Karya-karya mereka, bahkan, kerapkali menjadi rujukan utama para pemikir politik Islam di negeri ini. Sementara, pemikiran ulama-ulama dunia Islam Melayu hampir tidak tersentuh dan jarang dijadikan rujukan dalam tulisan para pemikir politik Islam Indonesia. Oleh karenanya, tesis yang berjudul “Politik Islam Melayu (Studi Pemikiran Raja Ali Haji 1808-1873)” mencoba mendeskrip­­­sikan secara gamblang pemikiran politik Islam di Nusantara yang digagas oleh tokoh Melayu, Raja Ali Haji, yang tertuang dalam karyanya, Tsamarat al-Muhimmah Difayah li al-Umara wa al-Kubara wa li ahl al-Mahkamah dan Muqaddimah fi Intidzam.


Raja Ali Haji adalah sosok ulama yang tidak hanya fasih berbicara agama, namun juga menguasai bidang politik, ketatanegaraan, sejarah, hukum, sastra, dan bahasa. Buah pemikirannya dikenal dengan kekhasannya yang selalu berakar pada syari‘at Islam dan juga tradisi Melayu. Karya-karyanya di bidang sastra, bahkan sangat diperhitungkan pada masanya (abad ke-19), hingga ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling terkemuka di zamannya, baik di kalangan agamawan, cendekiawan, bangsawan, maupun sastrawan.


Raja Ali Haji, melalui karyanya Tsamarat al-Muhimmah Difayah li al-Umara wa al-Kubara wa li ahl al-Mahkamah, secara tegas menyatakan bahwa seorang raja yang melalaikan tugasnya dan mendurhakai Allah swt, tidak dapat diterima sebagai penguasa, dan jabatannya harus diserahkan kepada orang yang lebih tepat. Pandangan Raja Ali Haji tersebut agaknya dipengaruhi oleh Imam al-Ghazali. Hal ini dapat dilihat dari karya-karyanya yang banyak menyebutkan buku Ihya Ulum ad-Din, karya ulama besar tersebut. Pengaruh al-Ghazali sangat terasa dalam bagaimana Raja Ali Haji menggambarkan sosok raja yang ideal yang seharusnya bisa menahan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi dan lebih mementingkan untuk mengurus kemaslahatan umat.


Selain dipengaruhi pemikiran al-Ghazali, pemikiran politik Raja Ali Haji juga dipengaruhi ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Abu al-Hasan Ali bin Muhammad Habib al-Mawardi. Pengaruh pemikiran al-Mawardi, secara jelas, dapat dilihat dari pernyataan Raja Ali Haji yang menjelaskan bahwa suatu negara lebih baik dipimpim oleh raja yang dzalim selama enam puluh tahun daripada satu malam tanpa raja. Sebagaimana dijelaskan dalam karyanya, “bahwa raja itu di dalam negeri adalah seperti nyawa di dalam tubuh adanya, maka jika nyawa itu bercerai daripada tubuh niscaya binasalah tubuh itu” (Raja Ali Haji, 1887: 65).


Menurut Faisal, penjabaran Raja Ali Haji mengenai politik yang terangkum dalam bukunya, “Tsamarat al-Muhimmah” memperlihatkan adanya persamaan dengan pemikiran Imam al-Ghazali yang tertuang dalam karyanya “Nasihat al-Mulk”. Kedua karya tersebut memandang bahwa fungsi negara dan kewajiban utama masyararakat adalah menciptakan iklim yang mendorong pelaksanaan agama yang wajar, sehingga setiap orang mampu melaksanakan tugas spiritualnya demi mempersiapkan dirinya untuk hari akhir nanti.


Pada karya lain, Muqaddimah fi Intidzam, Raja Ali Haji mencita-citakan pemerintahan yang berbentuk kerajaan dan kekuasan mutlak dipegang oleh seorang raja yang selalu berusaha mewujudkan kesejahteraan rakyat. Seorang raja idealnya mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang dapat digunakan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, sehingga setiap tindakan yang dilakukannya dapat menjadi suri tauladan bagi seluruh rakyatnya. Artinya, ia menghendaki bentuk pemerintahan yang ideal berbentuk kerajaan dan berlandaskan kepada syari‘at Islam. Dengan demikian, bentuk pemerintahan yang diidealkan Raja Ali Haji dapat dikategorikan sebagai bentuk pemerintahan ‘teo-monarki‘, yaitu pemerintahan yang berbentuk kerajaan dengan mendasarkan kepada hukum Tuhan atau syari‘at Islam.


Raja Ali Haji menyadari bahwa dalam pandangan Islam, Tuhan memiliki posisi yang sangat sentral dalam setiap bentuk dan manifestasi pemikiran. Tuhan merupakan sumber dari kebenaran, dan kebenaran hanya datang dari Tuhan. Sementara, sesuatu yang dianggap oleh manusia sebagai suatu kebenaran masih perlu diukur dengan standar kebenaran yang datang dari Tuhan yang tertuang dalam syari‘at Islam. Dengan demikian, peran serta seorang raja sangat penting dan dominan untuk membumikan syari‘at Islam di muka bumi ini. Sebab, hanya raja yang arif dan bijaksana yang mampu menterjemahkan syari‘at Islam demi kepentingan rakyatnya, sehingga mereka dapat menuju kepada kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.


Selain itu, Raja Ali Haji juga menekankan pentingnya hubungan yang harmonis antara raja dan rakyat dengan menyatakan bahwa“rakyat itu umpama akar, yang raja itu umpama pohon. Jikalau tiada akar niscaya pohon tiada akan dapat berdiri” (Raja Ali Haji, 1887: 186). Dengan demikian, untuk menjadi raja yang ideal, setidaknya, diperlukan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya: pertama, seorang raja hendaknya beragama Islam; kedua, laki-laki yang mukallaf; ketiga, merdeka; keempat, adil; kelima, memiliki kemampuan ijtihad yang baik; keenam, memiliki kemampuan berbicara dengan baik; ketujuh, mempunyai pendengaran yang baik; kedelapan, mempunyai penglihatan yang baik; kesembilan, memiliki keberanian yang kokoh; dan kesepuluh, rajin, tidak bermalas-malasan dalam menangani permasalahan pemerintahannya. Dengan terpenuhinya persyaratan tersebut, seorang raja yang berkuasa diharapkan benar-benar mampu melaksanakan dan mencapai kemaslahatan bagi rakyatanya. Dengan kata lain, Raja Ali Haji menghendaki adanya seorang raja yang sempurna, baik jasmani maupun rohaninya demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

Pemikiran politik Raja Ali Haji di atas, menurut Faishal Shadik, dibentuk oleh beberapa faktor, baik agama, lingkungan, maupun kondisi sosial, di antaranya: pertama, pengaruh ajaran Islam pada diri Raja Ali Haji; kedua, dominasi kekuasaan penjajah Belanda di wilayah Riau-Lingga; ketiga, adanya konflik internal yang timbul akibat dari bentuk pemerintahan yang dualistis (Sultan dan Yang Dipertuan Muda yang banyak diduduki oleh bangsawan Melayu keturunan Bugis); keempat, kekhawatiran masyarakat Islam Penyengat terhadap westernisasi yang terjadi di Singapura karena kedekatan jarak antara keduanya.


Dengan demikian, konsep politik Islam yang digagas oleh Raja Ali Haji pada era 1860-an merupakan khazanah intelektual anak bangsa yang terus dikembangkan demi tegaknya masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera.
Dalam sejarah perkembangan awal pemikiran politik Melayu, pengaruh pemikiran dari ulama Timur Tengah memang telah memainkan peran yang penting, dan hal ini telah diawali oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat. Tokoh seperti Raja Ali Haji tergugah atas perkembangan politik yang berlaku pada masanya, sehingga ia mencoba memberikan kesadaran kepada masyarakat Melayu dengan menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Iklim politik yang tidak kondusif pada saat itu menuntut Raja Ali Haji untuk menyuarakan pandangannya agar daratan Melayu terbebas dari kungkungan penjajahan Belanda. Kini, Raja Ali Haji adalah salah satu putra terbaik bangsa ini yang dianugerahi gelar pahlawan bukan karena heroiknya berperang melawan penjajah di medan perang, namun karena sejumlah goresan tulisannya yang memberikan sumbangan yang amat berharga bagi bangsa Indonesia. 

 

                                                                                        
Dibaca 12.588 kali