Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 120
Hari ini :866
Kemarin :1.405
Minggu kemarin:8.416
Bulan kemarin:43.436

Anda pengunjung ke 2.305.014
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Jum'ah, 28 Dzul Hijjah 1435 (Kamis, 23 Oktober 2014)
Historiografi Melayu: Studi Atas Kitab Tuhfat Al-Nafis

HISTORIOGRAFI MELAYU

(Studi Atas Kitab Tuhfat Al-Nafis)

 

Judul Skrispi          : Historiografi Melayu: Studi Atas Kitab Tuhfat Al-Nafis
Penulis                   :
Moh. Zulham Al-Syahdian
Jurusan                  :
Sejarah Peradan Islam
Fakultas                 :
Adab
Asal Universitas    :
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

 

Raja Ali Haji adalah seorang intelektual terkenal di penghujung abad ke-19. Kecemerlangan Raja Ali Haji dalam dunia intelektual berkat karya-karya dan perjuangannya dalam mencerdaskan masyarakatnya. Karya-karyanya tidak hanya terbatas pada Gurindam Dua Belas, sebagai sebuah karya sastra yang sangat dikenal di Indonesia, tetapi juga meliputi berbagai bidang seperti agama, sejarah, bahasa dan budaya Melayu.

Salah satu karya besar Raja Ali Haji di bidang sejarah adalah Tuhfat Al-Nafis. Karya ini merupakan karya sejarah Melayu yang terpenting setelah Sejarah Melayu, karya Tun Sri Lanang, Bendahara Kerajaan Melaka. Virginia Matheson menyebut karya Raja Ali Haji ini sebagai “babad sejarah agung” dan “catatan abadi” tentang Kerajaan Johor-Riau. Menurut Datuk Zainal Abidin Abdul Wahid, tidaklah sempurna bagi seorang sejarawan yang menulis sejarah negeri-negeri Melayu, terutama Johor, Riau, dan Selangor, jika tidak merujuk pada karya ini.

Berbagai pernyataan dan komentar di atas menunjukkan nilai penting dan keistimewaan kitab Tuhfat Al-Nafis. Keistimewaannya tidak hanya pada aspek materi yang ada di dalamnya, tetapi juga pada aspek penulisan sejarah (historiografi)-nya. Proses penulisannya hampir menyamai penulisan sejarah dalam definisi sejarah modern, yaitu dalam hal penggunaan sumber, penanggalan, demitologisasi dan sebagainya. Walaupun demikian, Tuhfat Al-Nafis merupakan karya historiografi tradisional, yang menurut Sartono Kartodirjo, memiliki beberapa ciri, yaitu bersifat lokal, etnosentris, rajasentris, dan setengah mitologi, sehingga tidak menutup kemungkinan karya ini hanya sebagai sebuah “dongeng yang tidak berguna”. Hal inilah yang melatarbelakangi Moh. Zulham Al-Syahdian menulis skripsi ini untuk menelusuri dan menggali konsep penulisan sejarah (historiografi) secara arif, agar tidak terjebak dalam “sejarah dongeng yang tidak berguna”.

Ada beberapa pokok permasalahan yang dibahas oleh Moh. Zulham Al-Syahdian dalam skripsinya, yaitu: Apa dan bagaimana serta siapa pengarang Tuhfat Al-Nafis?; Bagaimana metode penulisan historiografi Tuhfat Al-Nafis?; Latar belakang apa yang memengaruhi historiografi Tuhfat Al-Nafis? Dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, teori hermeneutika Hans Goeorg Gadamer dijadikannya sebagai pisau analisa untuk membedah permasalahan historiografi dalam Tuhfat Al-Nafis. Dengan teori ini, Moh. Zulham Al-Syahdian menginginkan agar teks dalam skripsi ini “berbicara” sendiri tentang “kediriannya”, dan ia hanyalah sebagai “penyambung lidah” yang mencoba menerjemahkan apa yang ingin disampaikan teks tersebut kepada pembaca. Dengan kata lain, penulis mengandaikan hermeneutika tersebut sebagai upaya untuk mencari asal-usul dari pemikiran historiografi Tuhfat Al-Nafis, dengan melihat pada latar belakang pengarang dan konteks kehadiran karyanya. Dengan cara demikian, dapatlah ditarik benang merah yang bisa menjelaskan pemikiran historiografi dalam Tuhfat Al-Nafis tersebut.

Metode yang digunakan oleh penulis dalam skripsi ini adalah metode bibliografi, yaitu metode sejarah untuk mencari, menganalisa, menginterpretasi, dan  menggeneralisasi fakta-fakta. Metode ini bertumpu pada empat langkah, yaitu; pengumpulan data (heuristik); kritik sumber data (verifikasi); melakukan interpretasi; dan penulisan sejarah (historiografi).

Untuk menjawab permasalahan pertama dalam skripsinya, penulis menyajikan selayang pandang tentang kitab Tuhfat Al-Nafis. Kata “Tuhfat Al-Nafis” diambil dari bahasa Arab yang berarti “hadiah berharga”. Karya Raja Ali Haji yang ditulis di Pulau Penyengat sejak 3 Sya‘ban 1983 H hingga 17 Rajab 1283 H ini, bercerita tentang kiprah anak raja-raja Melayu dan Bugis di tanah Melayu dalam waktu hampir dua abad lamanya. Selain itu, karya ini juga merupakan sumber informasi yang berharga tentang sejarah Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya, dengan deskripsi peristiwa-peristiwa yang terinci.

Kehadiran karya ini dalam bentuk cetak (publikasi) tidak terlepas dari peran serta Sir Richard Winstedt yang telah memprakarsai penerbitannya pada tahun 1932. Penerbitan ini berdasarkan naskah yang dipinjam dari Tengku Fatimah, Putri Sultan Abu Bakar Johor. Kitab Tuhfat Al-Nafis edisi Winstedt ini terbit dalam tulisan Arab Melayu atau Jawi, terdiri dari 330 halaman, termasuk summary of contents oleh Winstedt.

Kontroversi mengenai pengarang naskah Tuhfas Al-Nafis juga menjadi perhatian penulis dalam pembahasan skripsi ini. Ada dua pendapat tentang siapa pengarang naskah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa setiap berbicara tentang Tuhfas Al-Nafis, maka pengarangnya selalu dikaitkan dengan Raja Ali Haji. Pendapat  ini diwakili oleh Bakkar Hatta dalam bukunya Sastra Nusantara: Suatu Pengantar Studi Sastra Melayu ; Jalal Ahmad dalam artikelnya yang berjudul “Tuhfat Al-Nafis”; Moh. Taib Usman dalam bukunya Tuhfas Al-Nafis: Corak Historiografinya Persamaan dan Penyimpangan dari Tradisi Historiografi Melayu; dan Hasan Junus dalam bukunya Raja Ali Haji: Budayawan  di Gerbang Abad XX.

Berbeda dengan pendapat di atas, Virginia Matheson mengatakan bahwa Raja Haji Ahmad (ayah dari Raja Ali Haji) yang pertama kali mengarang naskah ini. Awalnya Raja Haji Ahmad telah menulis dan menyusun naskah ini sehingga tamat (selesai) dan putranyalah, Raja Ali Haji, yang menyusun kembali naskah itu. Dari sini lahirlah dua versi, yaitu naskah versi pendek dan versi panjang. Naskah versi pendek ditulis oleh Raja Haji Ahmad, sedangkan naskah versi panjang ditulis oleh Raja Ali Haji.

Mengenai perbedaan kedua versi naskah tersebut, Moh. Zulham Al-Syahdian kembali mengutip pendapat Virginia Matheson, bahwa setidaknya ada tiga aspek yang membedakan naskah versi pendek dengan versi panjang. Pertama, aspek bahasa. Naskah versi panjang lebih banyak mengalami penambahan kata untuk menjelaskan suatu perkataan melalui ekspresi yang menggunakan formula tertentu dan juga menggunakan bahasa Arab. Kedua, aspek perkara yang dipermasalahkan. Versi panjang telah mengalami banyak penambahan keterangan. Ketiga, aspek kuantitas. Jumlah kalimat pada versi panjang mencapai 127.000, sedangkan pada versi pendek hanya sekitar 80.000 kalimat (hal. 48). Dari kedua versi di atas, penulisan skripsi ini mengacu pada naskah versi yang kedua, yaitu versi panjang. Dengan demikian, pengarang Tuhfat Al-Nafis yang dimaksud adalah Raja Ali Haji.

Moh. Zulham Al-Syahdan juga menggambarkan tentang isi Tuhfat Al-Nafis dalam bentuk sinopsis dengan berdasar pada sinopsis Liaw Yock Fang dalam kesusastraan Melayu klasik. Dalam sinopsis Liaw Yock Fang itu terdapat beberapa perubahan yang telah dilakukan, yaitu menyangkut penyesuaian bahasa, dari Melayu ke Indonesia, dan keterangan seperlunya tentang nama-nama tempat, gelar, serta sebagian teks yang dianggap kurang jelas. Hanya saja, penulis skrips ini memberikan keterangan tersebut berdasarkan keterangan yang ada dalam Tuhfat Al-Nafis. Sinopsis yang disajikan penulis bercerita tentang sejarah Singapura, sejarah Melaka, sejarah Johor, sejarah Bugis di Lingga, dan sejarah kedatangan Belanda. Sinopsis tersebut juga bercerita tentang perjuangan Raja Haji melawan Belanda hingga tewas dan tentang Raja Ahmad yang membawa serta Raja Ali Haji pergi haji berserta rombongannya, sebagai rombongan haji yang pertama di Kerajaan Melayu Riau.

Moh. Zulham Al-Syahdan menemukan bahwa historiografi Melayu memiliki ciri yang dapat dipetakan dalam tiga bagian, yaitu dilihat dari segi bentuk, isi, dan tujuan penulisannya. Pertama, ditinjau dari segi bentuk. Penulisan historiografi Tuhfat Al-Nafis memiliki ciri-ciri seperti berikut: (1) Penulisannya menggunakan huruf Arab Melayu atau Jawi; (2) Penulisannya banyak diselingi dengan bahasa Arab, termasuk judulnya; (3) Model penulisannya berbentuk prosa; (4) Pengarangnya cukup jelas, yaitu Raja Ali Haji; (5) Penulisannya banyak mencantumkan pantun; (6) Adanya pengutipan ayat-ayat Alquran; dan (7) Adanya doa-doa. Kedua, dilihat dari segi isi, Tuhfat Al-Nafis memiliki “penyimpangan” dari mainstream yang berkembang dalam penulisan sejarah Melayu. Paling tidak ada empat poin yang krusial dalam Tuhfat Al-Nafis, yaitu: (1) Penghilangan mitos; (2) Penanggalan; (3) Penceritaan secara kronologis; dan (4) Pengunaan sumber. Ketiga, ditilik dari segi tujuannya. Penulisan Tuhfat Al-Nafis sebagai “hadiah berharga” atau persembahan kepada penguasa Bugis di Penyengat, Riau, khususnya dan masyarakat Bugis pada umumnya.

Akhirnya, Moh. Zulham Al-Syahdan dalam skripsinya menyimpulkan bahwa beberapa capaian yang didemonstrasikan Raja Ali Haji dalam karyanya Tuhfat Al-Nafis seakan menegaskan bahwa karya ini tidak sekadar sebagai karya “sastra sejarah” saja, tetapi juga sebagai “kitab sejarah” dari dunia Melayu yang sekaligus menempatkan Raja Ali Haji sebagai perintis penulisan sejarah modern di wilayah Melayu. Namun, hasil yang dicapai oleh Moh. Zulham Al-Syahdan dalam penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Kajian tentang karya Raja Ali Haji ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kajian sejarah Melayu, sehingga masih banyak ruang untuk melakukan penelitian berikutnya. Oleh karena itu, Moh. Zulham Al-Syahdan berharap agar penelitian tentang Tuhfat Al-Nafis perlu dilakukan dengan pendekatan multidisipliner, sebab wilayah kajian ini terlalu luas untuk didekati hanya dari satu pendekatan saja.

                                            -----------------ooOoo-------------------------

Dibaca 4.644 kali