Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 100
Hari ini :891
Kemarin :1.245
Minggu kemarin:7.388
Bulan kemarin:33.321

Anda pengunjung ke 2.092.466
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Jum'ah, 16 Jumadil Akhir 1435 (Kamis, 17 April 2014)
 
19 April 2008 03:27

Istana Kota Piring yang Terlupakan

Istana Kota Piring yang Terlupakan
Situs Istana Damnah, Kerajaan Riau-Lingga, di Daik

Oleh : Indira Permanasari
 

Sering kali saat Effendi Husin (35) mencari udang di tepi Sungai Riau, ada saja piring atau mangkuk yang ditemukannya. Tidak ada yang utuh. Terkadang sompal di satu bagian atau bahkan hanya tersisa seperempatnya saja.

Ada yang berwarna dasar putih dengan motif biru seperti keramik China, putih polos bergaya Eropa, atau kecoklatan. Pecahan-pecahan piring itu dikumpulkannya, walaupun dia tidak pernah pasti apakah akan ada gunanya. Teman-temannya kerap menertawakannya.

Siang itu, di ruang tengah rumahnya, Effendi memperlihatkan “harta karun” temuannya. Jumlahnya seember penuh. Beberapa keping mata uang dengan huruf Arab, yang sebagian sudah menghitam dan tidak jelas lagi motifnya, tersebar di atas meja.

“Kalau orang lain yang menemukannya paling hanya dibuang. Barangkali kalau ada yang menemukan utuh diambil juga. Bisa dijual. Kalau saya mengumpulkan ini karena yakin ini bagian dari sejarah. Siapa tahu suatu saat ada yang cari,” katanya.

Effendi dan keluarganya, yang sesungguhnya berasal dari Kalimantan, tinggal di atas situs Kota Piring yang terletak di Kelurahan Melayu Kota Piring, Kepulauan Riau. Situs itu menjadi bagian dari perjalanan dan kejayaan Kesultanan Melayu, khususnya Kerajaan Riau-Lingga.

Awalnya, kawasan di hulu Sungai Riau itu merupakan pulau tersendiri, yakni Pulau Biram Dewa, dengan luas sekitar 3,5 hektar. Belakangan, pemerintah menyatukannya dengan daratan Pulau Bintan dengan timbunan tanah. Sungai tempat Effendi mencari ikan itu sendiri tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, Anastasia Wiwik Swastiwi, berpendapat bahwa di Kota Piring terdapat Istana Kota Piring yang merupakan tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda Riau. Adapun istana untuk kedudukan sultan bergelar Yang Dipertuan Besar berada di Sungai Galang Besar.

Wilayah Kerajaan Riau-Lingga itu sendiri sangat luas, meliputi Johor, Pahang, Riau, dan Lingga. Istana Kota Piring menjadi salah satu lokasi pusat kendali pemerintahan selain istana Yang Dipertuan Besar.

 

Keturunan Bugis

Politik dan pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga saat itu telah mencerminkan kehidupan multikultural. Tidak ada istilah pemerintahan harus di tangan putra daerah. Yang Dipertuan Besar yang merupakan sultan Melayu, memimpin berdampingan dengan Yang Dipertuan Muda Riau, yang tak lain adalah raja muda keturunan Bugis. Bahkan, Kerajaan Melayu mencapai masa jayanya pada masa bertakhtanya Sultan Mahmud III sebagai raja bersama dengan Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda Riau selaku pengendali roda pemerintahan.

Aswandi Syahri dari Yayasan Khazanah Melayu mengungkapkan, di dalam karya fenomenalnya berjudul Tuhfat Al-Nafis, Raja Ali Haji melukiskan tentang Istana Kota Piring. Dia lalu menunjukkan nukilan karya yang telah diterjemahkan tersebut. Konon, bila ke Riau, maka Yang Dipertuan Muda dibuatkan istana di Pulau Biram Dewa dengan kota yang indah-indah.

“Kota baru yang bertatahkan dengan pinggan dan piring sangatlah indah, dan sekarang masih ada bekasnya, di ulu Riau adanya. Dan, satu pula balai dindingnya. Cermin adalah tiang balai itu, bersalut dengan kaki pahar. Kaki tiang itu yaitu tembaga, dan kota itu sebelah atasnya berkisi-kisikan bocong. Kota itu ketika terkena sinar matahari memancar-mancarlah cahayanya.”

“Kemudian dibuat pula satu istana di Sungai Galang Besar. Perhiasan istana dari emas dan perak, hingga rantai-rantai setelob-nya dengan rantai perak. Juga talam dan ceper kebanyakan dibuat di negeri China dan seperti tepak dan balang air mawar daripada emas dan perak yang dibuat di negeri Benila (Manila) yang berkarang dan bertakhtakan intan dan yang ber-serodi. Dan, adapun pinggan mangkuk dan cawan khawa dan cawan teh kebanyakan diperbuat di negeri China serta berserut dengan air emas. Pada pantat cawan tersebut tertera nama Pulau Biram Dewa atau Malim Dewa”.

Kemegahan yang digambarkan dalam Tuhfat Al-Nafis itu kini tidak terlihat lagi. Kalau Anda berkunjung ke situs tersebut, yang tampak hanya potongan sisa tembok tua. Tiada lagi Istana Kota Piring. Di kawasan bekas fondasi istana sendiri sudah didirikan bangunan baru oleh warga.

Menurut Effendi, ketika dia tiba di sana belasan tahun lalu, di tembok-tembok tua masih ada beberapa piring yang menempel, tetapi kemudian dicongkeli oleh warga.

Warga yang semula merambah hanya di luar pagar kini sudah merangsek mengisi bagian dalam pagar. Terlebih lagi setelah pemerintah menimbun bagian hulu Sungai Riau dengan tanah dan menghubungkan Pulau Biram dengan daratan Pulau Bintan. Sudah tidak jelas lagi kini batas-batasnya. Papan yang menunjukkan bahwa tempat itu merupakan kawasan bersejarah pun, menurut penduduk, baru terpasang beberapa tahun lalu ketika ekspansi warga tidak lagi terbendung.

Anastasia Wiwik mengatakan, setelah kekalahan Kerajaan Riau-Lingga dalam Perang Riau tahun 1784, Istana Kota Piring tidak lagi digunakan sebagai pusat pengendalian pemerintahan. Pada tahun 1787, Sultan Mahmud Shah III bahkan memindahkan pusat pemerintahannya ke Daik, Lingga. Di sana, Sultan Mahmud Shah III membangun pasar, masjid, dan benteng kota berupa parit. Seiring pindahnya Sultan Mahmud Syah III, istana untuk Yang Dipertuan Besar dan Istana Kota Piring ditinggalkan begitu saja.

Lantaran cerita tentang istana itu pula, pada 1980-an banyak orang berdatangan untuk mencari harta. “Tapi, biasanya tidak dapat. Ada kepercayaan harta-harta itu dijaga orang-orang kecil atau orang bunian. Tempat itu tetap disakralkan walaupun telah ditinggalkan oleh keluarga raja sekian lamanya,” ujar Effendi Husin.

Di tengah gerimis hujan dan udara dingin, Kota Piring menjadi semakin mistis. Di sela-sela rumah penduduk masih terlihat tembok-tembok yang gagah. Bukan terbuat dari bata, tetapi dari campuran batu karang dan telah ditumbuhi lumut.

Anastasia Wiwik mengatakan, sebagai istana tempat dikendalikannya segala kegiatan kerajaan, Istana Kota Piring seolah kurang populer dibandingkan istana-istana Kesultanan Melayu lainnya. Itu karena belum adanya satu kesatuan informasi yang lengkap dan menyeluruh.

“Padahal, Istana Kota Piring itu sendiri dibangun sebagai cerminan puncak Kesultanan Melayu pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah III dan Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji. Keadaan ekonomi tahun 1777-1787 sangat maju dengan tumbuh dan berkembangnya perdagangan dengan kerajaan lain, seperti India, China, Siam, Jawa, dan Bugis. Pertahanan juga tangguh,” ujarnya.

Ada berbagai pendapat tentang keruntuhan Istana Kota Piring. Sebagian mengatakan istana itu turut hancur dalam Perang Riau tahun 1784. Namun, ada yang menyebutkan sampai tahun 1884 diperkirakan bangunannya masih utuh.

------------------ooOoo-------------------

Sumber: http://blue4gie.com/2006/09/28/mozaik-peradaban-melayu-3-habis/

 
Dibaca 2.388 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Opini terkait