Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 48
Hari ini :314
Kemarin :587
Minggu kemarin:4.240
Bulan kemarin:32.329

Anda pengunjung ke 2.198.170
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 30 Ramadhan 1435 (Senin, 28 Juli 2014)
 
28 Agustus 2009 03:34

Menguak Nasib Tapak Sejarah Kebesaran Melayu Islam di Kepri (Bagian 2)*

Dana Rp 600 Juta Mengucur, Situs Tetap Hancur
Menguak Nasib Tapak Sejarah Kebesaran Melayu Islam di Kepri (Bagian 2)*
Situs sejarah di Sungai Timun yang terancam hilang akibat eksplorasi bauksit

Oleh: Nandy Pinta

Raung buldozer dan gemuruh lalu lalang  puluhan truk pengangkut bauksit, menjadi pemandangan ‘mengerikan‘ jika kita memasuki Kampung Sungai Timun dan Sungai Carang. Adalah PT. Syahnur, perusahaan yang menguras bauksit di lokasi ini, seakan tak peduli dengan keberadaan sejumlah situs yang masih tersebar tak terawat. Praktis kawasan cagar budaya yang dulu disebut Kota Rebah atau Kotalama itu, kini meranggas dan menjadi tanah lapang yang gersang.

Mengapa perusahaan ini begitu keji meluluhlantakkan peninggalan sejarah kebesaran Melayu Islam di lokasi ini? Ternyata, dibalik tindakan ini memang ada sesuatu yang pantas dipertanyakan. Masalahnya, pada tahun 2006 silam, kawasan yang dikuras bauksitnya oleh PT Syahnur ini, ternyata sudah dibebaskan oleh pemerintah kota Tanjungpinang. Luas seluruhnya 10 hektar untuk kepentingan cagar budaya.

Tidak tanggung-tanggung, dana ganti rugi lahan tersebut mengucur dari APBD Kota Tanjungpinang sebesar Rp 600 juta melalui Bagian Pemerintahan Kota. Yang menarik, saat itu ganti rugi justru diberikan kepada seorang pengusaha bernama Djodi Wirahadikusuma, yang mengaku sebagai pemilik kawasan tersebut.

Padahal, berdasarkan UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya disebutkan: Barang siapa yang memiliki benda cagar budaya atau di lokasi tanah tersebut terdapat benda cagar budaya, harus melapor ke pemerintah setempat dan harus melindungi situs tersebut. Artinya yang namanya situs sejarah jelas-jelas tidak boleh diperjual-belikan.

Pertanyaannya, darimana Djodi bisa menguasai lahan situs tersebut? Lalu apa motif Pemko Tanjungpinang bersedia memberikan ganti rugi? Pertanyaan ini pun agaknya pantas dikemukakan, karena berdasarkan Undang-undang Agraria, setiap alas hak luas maksimal hanya dua hektar. Itu pun harus satu nama. Jika ingin memiliki lahan sebelahnya, itu harus meminjam nama orang lain. Tidak boleh berbatasan dengan pemilik yang sama.

Anehnya dalam pembebasan lahan seluas 10 hektar di areal cagar budaya tersebut, yang menerima dana Rp 600 juta justru Djodi sendiri. Berarti, Djodi diduga sudah lama memonopoli kawasan cagar budaya tersebut hanya berdasarkan alas hak yang dibelinya dari penduduk yang mengaku sebagai penggarap lahan.

Lalu mengapa pula, belakangan justru PT Syahnur yang mengeksplorasi kawasan situs yang sudah diganti rugi itu? Prof. M. Zein, yang juga pemerhati sejarah Malayu, sangat menyayangkan tidak tegasnya pemerintah kota Tanjungpinang dalam menyikapi keberadaan situs-situs sejarah peninggalan masa lampau tersebut.

Situs sejarah dengan gampangnya dicaplok dan dihancurkan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai luhur budaya Melayu yang masih hidup dan berkembang. Menurut Zein, seharusnya pihak-pihak yang memperjualbelikan lahan cagar budaya dihukum berat karena undang-undang tidak membenarkan lokasi situs dikelola untuk kepentingan lain.

Yang Tersisa

Keberadaan situs dan puluhan makam di lokasi Istana Kotalama menunjukkan adanya sebuah sistim kekerabatan yang kuat pada masanya. Sayangnya, bukti kejayaannya tersebut belum dapat diungkap hingga saat ini. Penyebabnya adalah belum ditemukannya petunjuk yang bisa dijadikan pedoman, selain kuburan tua dan puing-puing bangunan istana.

Menurut Raja Fadli, warga setempat, Istana Kotalama merupakan pusat pemerintahan terbesar yang pernah ada di Kepulauan Riau, Johor, Pahang dan Lingga sebelum pusat kerajaan dipindahkan ke Daik Lingga. Sejak pindahnya pusat kerajaan ke Daik-Lingga,  mata rantai kejayaan Istana Kotalama Hulu Riau yang berada di Sungai Carang tersebut akhirnya putus.

Beberapa saat berada di lokasi situs Istana Kotalama, perjalanan dilanjutkan ke makam, Daeng Celak, Yang Dipertuan Muda Riau II. Lokasi makam Daeng Celak berada sekitar 300 meter dari situs Istana Kotalama. Akses menuju ke makam Daeng Celak agak bagus dibandingkan menuju Istana Kotalama. Secara umum, kondisi makam ini terlihat lebih terawat, walau jalan menuju makam tersebut belum diaspal, tapi sisi kanan-kiri jalan cukup bersih.

Aura yang  beda cukup terasa saat sampai di areal pemakaman ini, apalagi ditambah lagi dengan kicauan burung dipohon, suasana pemakaman cukup menggidik perasaan pengunjung yang datang.

Makam Daeng Celak termasuk yang cukup beruntung, selain makam ini sudah dipagari dengan besi, areal sekitar kompleks ini relatif agak terawat. Di lokasi makam Daeng Celak ada beberapa kuburan lainnya, hanya saja tidak semegah kuburan Daeng Celak. Menurut Raja Fadli, yang dikubur di sini adalah kerabat dekat istana dan kolega Daeng Celak.

Kesan makam Daeng Celak terawat  menjadi sirna ketika kita mengamati makam ini lebih dekat. Makam tersebut dipenuhi lumut dan daun-daunan yang berserakan. Kondisi ini menandakan kalau perawatan makam itu tidak dilakukan secara rutin, padahal setiap tahun pemerintah Kota Tanjungpinang selalu menganggarkan dana untuk perawatan makam.

Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemkot Tanjungpinang tahun 2009, dialokasikan anggaran sebesar Rp180 juta untuk perawatan benda cagar budaya yang ada di Tanjungpinang. Sedangkan untuk makam Daeng Celak dan Daeng Marewah dianggarkan Rp24 juta setahun. Namun melihat kenyataan yang ada di lapangan, nampaknya anggaran perawatan tersebut belum “dimanfaatkan”.

“Makam Daeng Celak dan Daeng Marewah ini, sebenarnya direhab saat Bintan dan Tanjungpinang masih dalam Kabupaten Kepulauan Riau. Sejak Tanjungpinang menjadi pemerintahan sendiri, baru plang nama yang berasal dari Kota Tanjungpinang terpasang. Kita juga dengar ada anggaran setiap tahun untuk perawatan makam dua pahlawan Melayu tersebut, tapi kita belum lihat apa yang sudah berubah dari makam ini,” ungkap Raja Fadli.

Seperti diketahui Daeng Celak merupakan Yang Dipertuan Muda Riau II kerajaan Riau–Lingga  pada tahun 1728-1745. Daeng Celak diangkat menjadi YDM Riau II menggantikan kakaknya Daeng Marewah, Yang Dipertuan Muda Riau I. Daeng Celak merupakan salah satu Upu Bugis yang menikah dengan bangsawan Melayu bernama Tengku Mandak.

Setelah Daeng Celak mangkat, pemerintahan kerajaan Riau–Lingga dipegang oleh Daeng Kamboja yang bergelar Yang Dipertuan Muda Riau III. Tidak lama setelah Daeng Kamboja memerintah, tampuk pimpinan kerajaan selanjutnya di pegang oleh anak cucu Daeng Celak, yaitu Raja Haji Fisabilillah yang bergelar Yang Dipertuan Muda Riau IV.

Tidak jauh dari makam Daeng Celak, terdapat makam pahlawan Melayu lainnya, Tun Habib. Tun Habib adalah seoarang ulama yang terkenal setia kepada pemerintahan kerajaan Riau-Lingga. Tun Habib membaktikan dirinya hingga akhir hayatnya. Atas jasa beliau semasa hidup, pihak kerajaan menguburkan jasad Tun Habib tidak jauh dari makam Daeng Celak.

Kira-kira 500 meter dari areal pemakaman Daeng Celak dan Tun Habib, ada sebuah makam yang namanya cukup terkenal, yakni Daeng Marewah. Daeng Marewah adalah kakak dari Daeng Celak yang bergelar Yang Dipertuan Muda Riau I. Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, Daeng Marewah berasal dari tanah Bugis Sulawesi Selatan.

Sebelum diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I, Daeng Marewah dikenal sebagai Kelana Putra Jaya. Atas jasanya kepada negeri Riau. Daeng Marewah dianugrahi jabatan sebagai Yang Dipertuan Muda Riau I (1721-1728). Setelah mangkat beliau bergelar Marhum Mangkat di Kota.

Melihat areal makam Daeng Marewah yang terletak di atas bukit, menandakan kalau status Raja Riau-Lingga ini cukup tinggi dan disegani. Ukuran makam Daeng Marewah terlihat agak panjang dibanding makam-makam lainnya. Hal ini disebabkan karena Daeng Marewah mempunyai tubuh yang lumayan jangkung. Tidak heran jika makamnya juga berukuran lebih. Di areal makam ini terdapat juga makam-makam tua lainnya. Diduga makam tersebut merupakan tempat bersemayamnya istri, anak, dan kerabat Daeng Marewah.

Tidak jauh dari makam Daeng Marewah, ada sebuah makam cukup megah, yaitu makam Tun Abbas.  Tun Abbas merupakan bendahara kepercayaan raja Riau-Lingga yang sangat terkenal kejujuran dan kepandaianya dalam mengelola uang negara.(*)

 

* Tulisan ini telah diedit seperlunya oleh redaktur http://www.rajaalihaji.com. Naskah asli tulisan ini dapat dilihat di: http://koranpeduli.com

** Kredit Foto: Buku Panduan Cagar Budaya Kota Tanjungpinang (2007), diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. 

Dibaca 2.171 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !