Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 101
Hari ini :758
Kemarin :1.231
Minggu kemarin:8.416
Bulan kemarin:43.436

Anda pengunjung ke 2.306.143
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Ahad, 01 Muharam 1436 (Sabtu, 25 Oktober 2014)
 
12 April 2008 03:09

Raja Haji, Pahlawan Teragung Nusantara

Raja Haji, Pahlawan Teragung Nusantara


Oleh : Wan Mohd. Shaghir Abdullah[2]

Masyarakat Melayu masih belum banyak yang mengetahui bahwa di Melaka ada beberapa orang tokoh dunia Melayu yang wafat sebagai syuhada karena membela kemuliaan Islam dan bangsa Melayu.

Mereka sanggup berkorban apa saja, termasuk harta dan nyawa, demi berjuang mengusir penjajah Portugis maupun Belanda. Di antara sekian banyak yang gugur sebagai syuhada di antaranya seorang ‘ulama‘ sufi dunia Melayu yang paling terkenal. Beliau di makamkan di Melaka. Ulama yang dimaksudkan adalah Syeikh Syamsuddin as-Sumatra-i yang meninggal sebagai syuhada karena berperang dengan Portugis.

Sejarah juga mencatat tokoh besar yang syahid fisabilillah di Melaka, yaitu Raja Haji bin Upu Daeng Celak yang meninggal karena melawan penjajah Belanda. Saya berpendapat bahwa Raja Haji adalah pahlawan dunia Melayu yang terbesar atau teragung dan terhebat semacam Hang Tuah yang daerah operasinya meliputi daratan dan maritim yang amat luas. Raja Haji inilah yang menjadi topik perbicaraan dalam opini ini.

Dari garis keturunan ayahnya, Raja Haji berasal daripada keturunan raja-raja di tanah Bugis, negeri Luwuk. Di garis ibunya, ia berasal daripada keturunan raja-raja Melayu. Raja Haji lahir di Kota Lama, di Hulu Sungai Riau, pada tahun 1139 H/1727 M dan wafat pada hari Rabu di Teluk Ketapang, Melaka, 19 Rejab 1198 H/8 Jun 1784 M.
 

Hubungan dengan Ulama

Raja Haji walaupun bukan seorang ulama, namun dibicarakan juga dalam ruangan ini, disebabkan beberapa faktor. Pertama adalah karena beliau sempat bergaul dengan beberapa orang ulama. Dipercayai beliau sempat berjumpa dengan Saiyid Husein al-Qadri di Mempawah, yaitu guru ayah saudaranya Upu Daeng Menambon. Putera Upu Daeng Menambon bernama Gusti Jamiril ini mendapat pendidikan Islam yang padu. Gusti Jamiril adalah saudara sepupu Raja Haji, keduaya sempat bergaul. Dengan demikian tata cara pergaulan Islam, sekaligus amalan keilmuan saudara sepupunya itu, berpengaruh terhadap Raja Haji.

Pada saat yang bersamaan, Raja Haji dan Gusti Jamiril sempat belajar kepada Syeikh Ali bin Faqih yang berasal dari Patani. Beliau ini adalah Mufti Mempawah yang kedua, menggantikan Saiyid Husein al-Qadri. Makam beliau yang disebut ‘Keramat Pokok Sena‘ terletak di Perkuburan Kampung Pedalaman Mempawah. Hubungan Raja Haji dengan Saiyid Abdur Rahman bin Saiyid Husein al-Qadri, Sultan Pontianak yang pertama juga sangat dekat. Saiyid Abdur Rahman al-Qadri adalah suami Utin Cenderamidi bin Upu Daeng Menambon. Faktor kedua, banyak keturunan Raja Haji yang menjadi ulama, di antaranya Raja Ali Haji (cucu beliau) yang sangat terkenal itu. Keturunan beliau yang turut menjadi ulama adalah Raja Haji Umar bin Raja Hasan bin Raja Ali Haji dan lain-lain.
 

Gelaran yang Disandang

Raja Haji menyandang pelbagai gelaran yang diberikan di antaranya adalah Engku Kelana (1747M - 1777M), Pangeran Sutawijaya, Yang Dipertuan Muda Riau-Johor IV (1777M - 1784M), Raja Api, Marhum Teluk Ketapang, Marhum Asy-Syahid fisabilillah. Yang terakhir, secara resmi atas nama sebuah pemerintahan, Raja Haji dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berupa Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Republik Indonesia di Jakarta pada tanggal 11 Agustus 1997.

Tahun 1756M - 1758M Raja Haji bersama sepupunya Daeng Kemboja memimpin Perang Linggi melawan Belanda. Perang Linggi melibatkan pasukan-pasukan Melayu yang berasal dari Linggi, Rembau, Klang, Selangor dan Siak.

Sewaktu Syarif ‘Abdur Rahman al-Qadri memerangi Sanggau, Raja Haji gugur sebagai pahlawan. Perang berlangsung pada tanggal 26 Muharram 1192 H / 24 Februari 1778 M sampai 11 Safar 1192H / 11 Maret 1778 M. Raja Haji juga yang melantik Syarif Abdur Rahman al-Qadri sebagai sultan yang pertama Kerajaan Pontianak sekaligus menyusun kerangka pentadbiran kerajaan itu.

Raja Haji merupakan satu-satunya pahlawan Nusantara yang pernah menjejakkan kakinya hampir ke seluruh negeri-negeri Melayu. Di antaranya Terengganu, Pahang, Johor, Selangor, Kedah, Langkat, Inderagiri, Jambi, Muntok/Bangka, Pontianak, Mempawah dan lain-lain. Jika kita bandingkan dengan semua pahlawan di Nusantara, seumpama Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan lain-lain, mereka hanya beroperasi di daratan saja dan tidak mengalami perang maritim. Jika kita bandingkan dengan Sultan Hasanuddin, beliau hanyalah pahlawan maritim saja, tidak banyak pengalaman dalam peperangan di daratan. Kalau ada hanyalah sekitar Sulawesi Selatan.

Kalau kita bandingkan dari segi yang lain, bukan berarti mengecilkan perjuangan yang lain, tetapi sejarah mencatat bahwa banyak pejuang yang menyerah kepada penjajah. Ada yang tertangkap karena ditipu secara licik dan lain-lain. Semua yang tersebut berbeda dengan Raja Haji. Beliau lebih rela mati di medan juang daripada menyerah ataupun tertipu oleh pihak musuh. Pada 18 Juni 1784 M Raja Haji terbunuh sebagai syahid fisabilillah dalam peperangan melawan Belanda pimpinan Jacob Pieter van Braam di Melaka. Pasukan Melayu yang tewas bersama Raja Haji diperkirakan berjumlah sekitar 500 orang. Sebagaimana pada mukadimah yang telah saya nyatakan, "... Raja Haji bin Upu Daeng Celak merupakan pahlawan dunia Melayu yang terbesar atau teragung dan terhebat sesudah Hang Tuah...."

Walau bagaimanapun, haruslah kita sadari bahwa kisah Hang Tuah lebih bercorak mitos. Berbeda dengan Raja Haji. Kisah beliau tercatat sebagai sejarah yang dibuktikan dengan data dan fakta yang tidak dapat ditolak. Oleh karena itu, jika ditinjau dari segi sejarah berarti ‘Raja Haji pahlawan dunia Melayu yang terbesar dan terhebat, bukan Hang Tuah.‘
 

Kejadian Aneh

Raja Ali Haji dalam Tuhfat an-Nafis meriwayatkan kejadian aneh terhadap jenazah Raja Haji setelah wafat dalam keadaan syahid fisabilillah seperti berikut:

"Syahdan adalah aku dapat khabar daripada itu daripada orang tua-tua yang mutawatir, adalah sebelum lagi ditanamnya mayat Yang Dipertuan Muda Raja Haji, al-Marhum itu, maka ditaruhnya di dalam peti hendak dibawanya ke Betawi, sudah sedia kapal akan membawa jenazah al-Marhum itu. Maka menantikan keesokan harinya sahaja, maka pada malam itu keluar memancar ke atas seperti api daripada peti jenazah al-Marhum Raja Haji itu. Maka gaduhlah orang Melaka itu melihatkan hal yang demikian itu. Di dalam tengah bergaduh itu kapal yang akan membawa jenazah al-Marhum itu pun meletup, terbakar, terbang ke udara segala isinya serta orang-orangnya. Seorang pun tiada yang lepas.

"Syahdan kata qaul yang mutawatir, tiadalah jadi dibawa jenazah al-Marhum itu pindah ke negeri yang lain. Maka ditanamkan jua di Melaka itu, hingga datang diambil dari negeri Riau adanya. Dan kata setengah qaul yang mutawatir sebab itulah digelar oleh Holanda yang dahulu-dahulu dengan nama Raja Api adanya...." (Tuhfat an-Nafis, Naskhah Terengganu, hlm. 151)

Dalam pandangan saya, riwayat di atas mencerminkan kemuliaan seseorang yang wafat dalam syahid fisabilillah karena berjuang untuk kepentingan agama Islam atau memperjuangkan bangsanya, yaitu bangsa Melayu yang dicintainya. Perjuangan demikian mencerminkan karena patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, tulisan Abdullah Munsyi dalam buku Hikayat Abdullah yang mengatakan bahwa mayat Raja Haji dikuburkan di kandang babi perlu diperdebatkan dan dibahas secara ilmiah. Tulisan Abdullah Munsyi selengkapnya sebagai berikut:

"Sebermula di balik kebun kompeni itulah ditanamkan Raja Haji. Iaitu seorang Raja Melayu yang berkuasa adanya. Asalnya iaitu keturunan Bugis. Maka isterinya bernama Ratu Emas. Maka ialah yang telah datang memerangi Melaka pada zaman Holanda – maka adalah daripada zaman itu sampai masa ini (maksudnya hingga masa Abdullah Munsyi menulis hikayatnya, pen:) kira-kira lebih sedikit daripada 60 tahun – maka hampir-hampir dapat Melaka olehnya. Maka berkeliling jajahan Melaka dan kampung-kampung semuanya sudah didapatnya melainkan tinggallah Melaka bulat-bulat sahaja yang belum didapatnya. Maka pada masa itu segala bangsa yang ada di dalam Melaka masuk perang melawan Holanda daripada Melayu, Keling, Cina, Serani masing-masing ada dengan kapitannya dan kepala perangnya. Maka adalah beberapa tahun diperanginya lalu matilah Raja Haji itu dimakan peluru di Tanjung Palas nama tempatnya. Kemudian diambil Holanda mayatnya itu ditanamkan di balik kebun yang tersebut itu. Ada pun khabarnya yang kudengar, tempat itu kandang babi. Kemudian ada kira-kira 20, 30 tahun di belakang datanglah anak buah-anak buah Raja Haji itu dari Lingga dan Riau ke Melaka meminta izin kepada raja Inggeris hendak dipindahkannya kubur itu ke Riau. Maka diberikanlah izin. Lalu dibawanyalah pergi...." (Hikayat Abdullah, hlm. 57 - 58)

Cerita Abdullah Munsyi tentang Raja Haji ditanam di kandang babi adalah sulit untuk diterima, disebabkan: Pertama, jauh berbeda dengan yang ditulis oleh Raja Ali Haji seperti tersebut di atas. Kedua, orang yang wafat keadaannya syahid fisabilillah adalah dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam al-Quran disebutkan bahwa "orang-orang yang mati syahid adalah tidak mati, dalam kubur mereka diberi rezeki." Dalam hadis Nabi s.a.w. pula sangat banyak menyebutkan kelebihan orang yang mati syahid. Pandangan saya ini bukan berarti menuduh Abdullah Munsyi telah melakukan pembohongan dalam tulisannya, karena beliau sendiri menyebut pada awal kalimatnya, "Ada pun khabarnya yang kudengar". Oleh karena itu, berbagai pandangan bisa dibuat. Yang pertama, boleh jadi khabar yang didengar itu sengaja diproses oleh pembohong-pembohong dari kalangan penguasa penjajah ketika itu untuk menghapuskan kebangkitan jihad orang-orang Melayu Islam yang tidak suka negerinya dijajah oleh golongan yang bukan Islam. Kedua, kemungkinan tekanan kuasa penjajah memaksa supaya Abdullah Munsyi menulis sedemikian. Oleh karena itu, kita perlu berfikir dan teliti setiap kalimat dan perkataan yang ditulisnya.

Selain itu, jika kita berfikir secara kritis dan membuat analisis secara bebas, khususnya pada konteks di atas, memang banyak kalimat ataupun perkataan demi perkataan Abdullah Munsyi mengandung unsur-unsur politik yang menguntungkan pihak penjajah pada zamannya. Sebagai contoh, walaupun Abdullah Munsyi mengakui bahwa Raja Haji adalah seorang Raja Melayu, namun pada sambungan kalimat Abdullah Munsyi menyebut pula bahwa asal Raja Haji adalah keturunan Bugis. Kenapa Abdullah Munsyi tidak menyebut Raja Haji dari garis keturunan ibunya yang keturunan Melayu. Di sini dapat diduga, jika dikatakan bahwa Raja Haji merupakan orang Melayu, maka semangat orang Melayu untuk berpihak kepada Raja Haji sukar dipadamkan.


-------------ooOoo---------------

 [1] Bahasa dalam tulisan ini sedikit banyak telah dialih-bahasakan dari bahasa Malaysia ke bahasa Indonsia. Naskah asli tulisan ini dikutip dari: www.mail-archive.com

[2] Tuan Guru Haji Wan Mohd Shaghir bin Wan Abdullah adalah salah seorang ulama Melayu yang mempunyai koleksi ratusan naskah Melayu kuno, baik dalam tulisan Jawi atau Arab. Ulama yang mempunyai karya tulis lebih kurang 100 buah ini, wafat pada hari Kamis, tanggal 24 Rabi‘ul Awwal 1428 atau 12 April 2007.

Dibaca 5.458 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !