Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 44
Hari ini :182
Kemarin :808
Minggu kemarin:5.023
Bulan kemarin:20.531

Anda pengunjung ke 2.201.044
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Sabtu, 04 Syawal 1435 (Jumat, 1 Agustus 2014)
 
22 Maret 2008 04:59

Raja Ali Haji, Magma Sastra Melayu

Raja Ali Haji, Magma Sastra Melayu

Oleh: Jodhi Yudono

Raja Ali Haji. Sekali-sekala, nama ini lewat dalam ingatan. Satu yang masih kerap menggumpal pada kenangan mengenai nama ini adalah, salah satu karya sastranya yang kerap diucapkan orang: "Gurindam Dua Belas".

Siempunya Gurindam Dua Belas, ya Raja Ali Haji sendiri, menerangkan, "adapun arti gurindam itu, yaitu perkataan yang bersajak pada akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja, jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu jadi seperti jawab."

Beberapa waktu lalu, ketika saya berkunjung ke Pekanbaru, Riau, ada juga namanya disebut-sebut oleh kawan Al Azhar, budayawan yang juga Ketua Dewan Kesenian Riau.

Menurut Al, begitu saya memanggil Al Azhar, Raja Ali Haji adalah tonggak sastra Melayu yang tiada terperi pentingnya bahkan dalam khasanah sastra Indonesia.

Senada dengan Al, dalam "Temu Sastra se-Riau 1999", di Pekanbaru, penyair Sutardji Calzoum Bachri juga menegaskan, "Bila tradisi modern sastra Indonesia bermula dari tahun 1920-an, yaitu pada masanya pra-Pujangga Baru dan Pujangga Baru, maka tradisi sastra di Riau satu abad lebih dahulu tumbuh dan gemilang sedemikian rupa. Kemampuan Raja Ali Haji menukilkan sejarah sastra yang cemerlang dan sangat fundamental menjadikannya sebagai puncak sastra. Beranjak dari kenyataan itu, sastra Riau bermula dari puncak, sedangkan sastra Indonesia bermula dari percobaan-percobaan atau eksperimentasi".

Atas fakta inilah, dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Rabu (10/11), menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sejumlah anak bangsa yang telah berjasa besar bagi Indonesia, di antaranya adalah Raja Ali Haji.

Tapi saya dengar, penghargaan itu berbuntut konflik lantaran mereka yang mengaku sebagai pewaris sah dari Raja Ali Haji justru tak diundang ke istana untuk menerima penghargaan tersebut. Itulah soal, para pewaris sah mengunci rapat-rapat makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat.

Ah, tapi saya tak mau terlibat dengan silang sengketa itu. Saya hanya hendak berkisah tentang Raja Ali Haji (RAH) yang mengagumkan reputasinya itu. Moga-moga, anda (pembaca) dan saya dapat berkaca pada sepak terjang RAH yang juga mendapat gelar sebagai Bapak Bahasa Indonesia itu. Seperti tertulis dalam kitab-kitab sejarah Melayu, RAH juga menulis Kitab Pengetahuan Bahasa (1858) dalam bahasa Melayu yang dicetak dan tersebar di berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, dan Belanda.

* * *

RAH kerap memperkenalkan namanya dengan "Raja Ali al-Haj". Tapi kadang-kadang menuliskan namanya dengan "Raja Ali Haji ibni Raja Haji Ahmad".

Beliau adalah putera Raja Ahmad, cucu Raja Haji Fisabilillah. Menurut kitab berjudul "Raja dan Kerajaan dalam Kepustakaan Melayu" karya Dr. Mahdini MA, nama "Ali" dalam masa Kesultanan Lingga-Riau cukup banyak. Selain Ali bin Raja Ahmad, terdapat nama Ali lain, yaitu Raja Ali bin Daeng Kamboja atau Yang Dipertuan Muda (selanjutnya disingkat YDM) Riau V (1784-1805); Raja Ali bin Jakfar, yaitu YDM VIII (1845-57); Raja Ali Kelana atau Raja Ali Haji bin Ahmadi dan Raha Ali Pulau.

Mahdini perlu mengemukakan soal ini, sebab katanya, sering menimbulkan kekeliruan di kalangan penulis dalam memahami secara kronologis mereka yang bernama Raja Ali. Misalnya, Zuber Usman dalam bukunga "Kesusteraan Lama Indonesia mengacaukan antara RAH  seorang pengarang dengan Raja Ali, yang menjadi YDM Riau VIII (1844/5-1857).

Mahdini menambahkan, baik Raja Ali Haji maupun Raja Ali yang YDM Riau VIII itu memang saudara sepupu, sama-sama cucu Raja haji yang juga mantan YDM Riau II.

RAH lahir tahun1808 dan meninggal (1870) di Pulau Penyengat. RAH berasal dari keluarga suku Bugis. Garis keturunan mereka berasal dari seorang bernama La Madusilat, raja Bugis yang mula-mula masuk Islam.

Madusilat memiliki keturunan, di antaranya Daeng Rilaka yang juga mempunyai keturunan, di antaranya Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Cellak, dan Opu Daeng Kemasi.

Daeng Rilaka membawa kelima puteranya itu ke luar dari tanah Bugis dan mengembara hingga Riau-Johor dan mendapat kedudukan di istana kerajaan. Anak keempat, yakni Daeng Cellak yang merupakan moyang RAH menjadi YDM Riau II (1728-1745), menggantikan saudaranya Daeng Marewah, YDM Muda Riau I (1723-1728).

RAH adalah seorang terpelajar, karena keluarga YDM Sultan Melayu Lingga-Riau memiliki tradisi keagamaan dan keilmuan yang kuat. Sementara Raja Ahmad, ayahanda RAH, termasuk pengarang Riau-Lingga yang giat menuntut ilmu.

Beberapa sumber menyebutkan, RAH juga pernah belajar bahasa Arab dan ilmu agama di Mesir dan Mekkah. RAH bersama ayahandanya serta sebelas kerabat lainnya, termasuk bangsawan Riau pertama yang mengunjungi Tanah Suci Makkah pada 1828.

Setelah kembali dari Makkah, RAH menjadi ulama terkemuka di zamannya yang menjadi tumpuan dan tempat orang-orang mengajukan berbagai masalah keagamaan maupun lainnya.

Memasuki usia 40, RAH mulai mencurahkan perhatian terhadap karya-karya kreatif yang mengantarkan dirinya menjadi pengarang Riau paling produktif di zamannya.

Karya-karya RAH berbentuk prosa dan puisi. Di dalamnya ia mengangkat tema-tema keagamaan, hukum, sastra dan bahasa, sejarah dan kenegaraan. Lewat karya-karyanya itulah, RAH dinilai telah membawa pemikiran-pemikiran Riau mencapai puncaknya pada pertengahan abad XIX.
   
Setidaknya, menurut U.U. Hamidy, ada 11 karya RAH. Masing-masing berjudul Syair Sultan Abdul Muluk, Gurindam Dua Belas, Bustan al-Katibin, Pengetahuan Bahasa, Silsilah Melayu Bugis, Tuhfat al-Nafis, Tsamarat al-Muhimmah, Syair Siti Sianah, Syair Hukum Nikah (Syair Suluh Pegawai), Sinar Gemala Mustika Alam, Taman Permata; al-Wusta dan al-Kubra.

* * *

Ironi, begitulah adanya saat kita membicarakan RAH dan karya-karyanya. Nama harum RAH sebagai sastrawan Melayu terdepan, ternyata tak berbanding lurus dengan karya-karyanya yang langka di pasaran.

Itulah soalnya, awam barangkali hanya kenal dengan Gurindam Dua Belas saja dari puluhan karya RAH. Menurut kajian Abu Hassan Sham (1993), masih ada beberapa puisi lain yang sebetulnya bisa berdiri sendiri seperti pada karya prosa RAH berjudul Ikat-ikatan Dua Belas Puji yang terdapat pada ujung Bustan al-Katibin; Syair nasihat pada akhir Thamarat al-Muhammah; serta beberapa syair dalam Kitab pengetahuan bahasa; dan beberapa syair panjang dalam Silsilah Melayu dan Bugis.

Boleh jadi, kelangkaan ini berkait dengan sejarah penerbitan karya RAH yang sebagian di antaranya baru diterbitkan dalam bentuk cetak (cap batu) sesudah RAH meninggal. Sebagian lagi mula-mula hanya diketahui kalangan sarjana lantaran karya RAH pernah diterbitkan dalam majalah ilmiah Barat atas usaha orang Belanda dan Inggris.

Dalam Kandil Akal di Pelantar Budi, E. Ulrich Kratz menulis, bahkan Syair Hukum Faraid agaknya baru sekarang ini diterbitkan untuk pertama kali, dan baru belakangan ini sebagian lainnya dari karangan RAH dapat dicari dengan mudah di Malaysia.

"Di Indonesia, setahu saya karya Raja Ali Haji selain daripada Gurindam Dua Belas (dan Syair Abdul Muluk) tidak pernah diterbitkan secara komersil--baik di zaman merdeka maupun di zaman Hindia Belanda," ungkap Kratz.

Selanjutnya Kratz mencatat, satu atau dua karya RAH sebetulnya pernah menjadi obyek penelitian khas di Indonesia juga, tetapi hasil penelitian ini tidak semuanya diedarkan untuk masyarakat ramai.

Saat ini, Gurindam Dua Belas saja yang "selamat" sebagai kutipan dalam buku sekolah, dalam antologi dan buku pengantar sastra atau dalam pedoman apresiasi puisi.

Berkat jasa Mohd, Yusof Md. Nor, Virginia Matheson Hooker, dan Abu Hassan Sham, buku-buku RAH seperti Silsilah Melayu dan Bugis, Tuhfat al-Nafis dan puisi-puisi RAH sudah terbit di Malaysia dalam edisi yang baik.

* * *

Tentu, RAH juga manusia biasa. Di antara kelebihannya, ada pula kekurangannya. Di samping yang memuja, ada juga yang mencercanya.

Misalnya, RAH tidak mempunyai persepsi psikologi dan kekuatan pena seperti yang dimiliki Tun Seri Lanang. RAH meniru puisi Arab dengan tidak meuaskan. Isi kamusnya ada yang kasar tetapi menghibur dan cabul.  RAH tetap pengarang klasik. Sumbangan RAH pada kesusasteraan Melayu penting. Pelopor yang telah melicinkan jalan ke arah terbentuknya Bahasa nasional Indonesia.

Lepas dari silang pendapat di atas, RAH tetaplah manusia luar biasa untuk zamannya. Bahkan, reputasi dan namanya, tak lekang dimakan zaman. Dialah magma sastra Melayu yang terus bergelucak.

Nah, sebagai pengingat-ingat, di bawah ini saya kutip sebagian naskah Gurindam Dua Belas karya RAH yang sohor itu.

Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat maka ia itulah orang yang ma‘ rifat.

Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya 2 tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia mudarat.

------------------ooOoo--------------------------

 
Sumber        : Kompascyber media, 25 November 2004
Kredit foto : Buku "Gurindam Duabelas dan Sejumlah Sajak Lain" terbitan Yayasan Pusaka Riau-Peklanbaru (dengan pengolahan seperlunya)

Dibaca 1.438 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Opini terkait