Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 110
Hari ini :745
Kemarin :1.534
Minggu kemarin:8.273
Bulan kemarin:43.436

Anda pengunjung ke 2.300.985
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 25 Dzul Hijjah 1435 (Senin, 20 Oktober 2014)
 
10 April 2008 03:26

Raja Ali Haji, Raja Sastra Melayu

Raja Ali Haji, Raja Sastra Melayu

Oleh: Darso Arief Bakuama[1]

Nama Raja Ali Haji bagi masyarakat Melayu, khususnya Kepulauan Riau begitu melekat. Ia adalah pahlawan bahasa dan kesusastraan. Bukan hanya itu, kapasitas intelektualitas dan keulamaan serta sumbangsihnya pada bangsa, memposisikannya sebagai tokoh Melayu nomor wahid. Karena itu, penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Raja Ali Haji adalah suatu kepantasan.

Dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suatu upacara di Istana Negara, Jakarta, menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada sejumlah anak bangsayang telah berjasa besar bagi Indonesia. Satu di antaranya adalah Raja Ali Haji, tokoh yang besar jasanya dalam perkembangan budaya dan bahasa Indonesia.

Bagi masyarakat Melayu, khusus Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Raja Ali Haji telah lama ditunggu-tunggu. Karena penganugerahan gelar pahlawan nasional tersebut sekaligus menjadi pengakuan bangsa Indonesia terhadap karya-karya besar putra terbalk Kepri itu.

Raja Ali Haji (1809-1870), lahir di Pulau Penyengat, Kepri, merupakan tokoh bahasa Melayu, Pada 1847 ia mencipta sebuah karya sastera yang begitu populer: Gurindam Dua Belas. Karyanya tersebut diterbitkan di Belanda pada 1953.

Tokoh itu juga memelopori perkamusan monolingual Melayu dengan karya-karyanya seperti Kitab Bustanul Katiban (1851) tentang tata bahasa dan tata huruf Arab-Melayu serta tata bahasa Melayu dengan panduan tata bahasa Arab.

Raja Ali Haji menulis pula Kitab Pengetahuan Bahasa (1858) dalam bahasa Melayu yang dicetak dan tersebar di berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, dan Belanda.
 

Keturunan Bugis

Raja Ali Haji adalah keturunan bangsawan Bugis yang mendiami Pulau Penyengat, tidak jauh dari Tanjungpinang (Pulau Bintan). Ayahnya bernama Raja Ahmad. Sementara kakeknya bernama Raja Haji, seorang pahlawan Bugis terkenal. la tercatat juga pernah menjabat sebagai Yamtuan Muda (Yang Dipertuan Muda/Perdana Menteri) ke-4 dalam Kesultanan Johor-Riau.

Orang-orang Bugis tiba di kawasan tersebut sekitar abad 18. Pada saat yang bersamaan tengah terjadi perebutan kekuasaan antara para pewaris Kesultanan Johor setelah terbunuhnya Sultan Mahmud Syah II. Mereka bangga terhadap asal usul, hubungan kekerabatan dan tetap merasa sebagai bagian integral masyarakat Melayu-Bugis.

Raja Haji (kakek Raja Ali Haji) berhasil menjadikan kesultanan Johor-Riau sebagai pusat dagang dan budaya paling penting di kawasan itu. Beliau wafat ketika bertempur melawan Belanda tahun 1784. Raja Haji meninggalkan dua putra, yaitu Raja Ahmad dan Raja Ja’far. Raja Ahmad (ayah Raja Ali Haji) adalah pangeran pertama dari Riau yang naik haji.

Raja Ahmad adalah orang yang sangat menyukai bidang sejarah. Salah satu karyanya "Syair Perang Johor" menguraikan tentang perang antara Kesultanan Johor dan Kesultanan Aceh abad ke-17. Selain itu, Raja Ahmad juga orang pertama yang menyusun sebuah epos tentang sejarah orang Bugis di daerah Melayu dan hubungannya dengan raja-raja Melayu.

Bakat menulis ini lantas menurun kepada putranya, Raja Ali Haji. Sejak remaja, Raja Ali Haji sering mengikuti ayahnya berekspedisi ke sejumlah wilayah, termasuk ke Batavia, perjalanan dagang serta naik haji ke Tanah Suci. Pengalaman bepergian ini secara langsung memberikan wawasan pengetahuan luas pada Raja Ali Haji.

Menginjak usia 20 tahun, dia sudah diberikan tugas-tugas kenegaraan yang tergolong penting. Hingga usianya 32 tahun, Raja Ali bersama sepupunya, Raja Ali bin Raja Ja’far, dipercaya memerintah di daerah Lingga, mewakili Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang masih berusia muda.

Sebelum mencapai usia 40 tahun, Raja Ali Haji sudah dikenal sebagai ulama dan sering dimintakan fatwanya oleh Kerabat kerajaan. Pengetahuannya di bidang agama sangat menonjol dan dimanfaatkan guna membimbing para guru agama di Riau ketika itu. Pada waktu Raja Afi bin Raja Ja’far diangkat menjadi Yamtuan Muda tahun 1845, Raja Ali Haji juga dikukuhkan sebagai penasehat keagamaan negara.

Kontribusi dan sumbangsih Raja Ali Haji di bidang intelektual adalah berupa sejumlah karyanya mengenai masalah agama, sastra, politik, sejarah, filsafat serta hukum. Di bidang sastra, satu karyanya berjudul Hikayat Abdul Muluk merupakan karya sastrawan Riau yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1846, Sejak itu, banyaklah karya Raja Ali Haji terpublikasi, Dalam beberapa buah karyanya, ia selalu menekankan bahwa satu-satunya jalan untuk mengatasi hawa nafsu dan mencegah terjadinya konflik adalah dengan taat kepada hukum Allah SWT yang telah digariskan kitab suci Al Quran.

Selain itu tiap-tiap individu harus menjaga nama baik, ilmu dan akalnya. Pada setiap pesan etik yang disampaikan, Raja Ali Haji kerap menyisipkan lukisan peristiwa nyata yang terjadi di masanya. Ia pun tak lupa menyoroti akhrak kepemimpinan, Menurutnya, seorang raja yang melalaikan tugasnya dan mendurhakai Tuhan tidak dapat diterima sebagai penguasa lagi. Jabatannya itu harus diserahkan kepada orang lain yang lebih tepat. Ada pun pemimpin yang baik, urai Raja Ali Haji, adalah yang pantang terhadap hal-hal keduniawian dan kemungkaran. Sebaliknya raja yang buruk adalah yang punya sifat congkak, boros, dan tidak memperhatikan sarana pendidikan.

Sekian banyak hasil karya Raja Ali Haji, tampak tidak pernah meninggalkan ciri khasnya, yakni mengakar pada tradisi kesusasteraan Islam serta Melayu, juga kesungguhannya dalam menyajikan sejarah masa lalu disesuaikan dengan tuntutan kondisi di zamannya. Di samping itu, karyanya berjudul Gurindam Dua Betas (1847) menjadi karya yang tak ternilai bahkan paling menonjol di antara karyanya yang lain.
 

Nahwu Melayu

Raja Ali Haji juga mengekalkan bahasa klasik yang banyak dipengaruhi oleh perkataan Arab dan struktur bahasa Arab. Perhatikan bahasa yang terdapat dalam petikan satu karyanya berjudul Tuhfat ai-Nafis berikut ini:

Bismillahirrahmanirrahim, Maka pada ketika di dalam Hijrat al-Nabi salia Allahu ’alaihi wasallam seribu dua ratus delapan puluh dua tahun dan pada tiga hari buian Syaaban yang maha besar dan berbangkitlah hatiku bahawa memperbuat kitab ini yang simpan, dan di daiamnya menyatakan silsilah dan perjalanan dan tawarikh dan segaia khabar-khabar danpada kisah Raja-raja Melayu serta Bugis dan kepada segaia anak-anak mereka itu. Dan aku namai akan dia ’Tuhfat al-Nafis’ pada menyatakan ke/akuan danpada Raja-raja Melayu serta Bugis. Padahal mengharapkan aku akan Allah yang mengampuni danpada tersaiah pada segaia tawarikh dan pada perjalanannya. Ya Tuhanku, perkenankan oleh-Mu akan pinta hamba-Mu intiha.

Walaupun Raja Ali Haji dapat dikatakan sezaman dengan sastrawan besar Melayu Abdullah bin Abdul Kadir Munshi (Abdullah Munshi), bahasa mereka tampak berbeda. Ini tentu tidak aneh karena mereka memiliki latar belakang pendidikan dan lingkungan berkarya yang berbeda. Abdullah Munshi berpendidikan Inggris, bekerja sebagai penerjemah bahasa Inggris dan hidup di tengah-tengah masyarakat perdagangan di Singapura. Sedangkan Raja Ali Haji berpendidikan Arab, pendakwah, dan hidup di lingkungan istana di Pulau Penyengat, Riau.

Raja Ali Haji di samping menulis karya susastra, juga menulis nahwu (gramatika) bahasa Melayu. Karena pengetahuan bahasa Arabnya tinggi maka nahwu Melayu yang ditulisnya itu berdasarkan bahasa Arab. Buku itu berjudul Bustanulkatibin, diterbitkan pada 1850. Walaupun nahwu Melayu ini berdasarkan nahwu bahasa Arab, ia tetap dianggap penting karena buku inilah merupakan gramatika bahasa Melayu pertama yang ditulis oleh orang Melayu.

Raja Ali Haji juga menulis kamus Bahasa Melayu yang diterbitkan pada 1859, Buku ini sebenarnya tidak dapat dianggap sebagai kamus sesungguhnya, karena para bagian awalnya membincangkan nahwu bahasa Melayu secara ringkas dan sederhana. Banyak yang menganggap buku ini lebih sesuai dikatakan sebagai ensrklopedi. Walaupun tidak semua abjad ada di dalam kamus ini, namun semua arti kata disertakan penjelasannya.

Lewat karya-karyanya, Raja Ali Haji membuktikan dirinya tak hanya sekadar sejarawan dalam arti sempit Dia juga adalah guru dan teolog yang punya komitmen memelihara nilai keislaman serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakatnya. Sehingga untuk melestarikan karya-karyanya, pada awal tahun 1890, segenap sanak keluarganya mendirikan perkumpulan bernama Rusdyiah Club yang bergerak di bidang pembinaan umat serta penerbitan buku Islami.

Raja Ali Haji dimakamkan di Pulau Penyengat. Ini pun turut membuat pulau tersebut memiliki nilai sejarah tinggi, Selain makamnya, di pulau ini terdapat banyak peninggalan Kerajaan Melayu. Ketika pusat kerajan Riau dipindahkan ke Pulau Penyengat tahun 1900, dibangunlah sebuah istana yang disebut Kedaton.

Makam Raja Ali Haji terdapat di kompleks pemakaman Engku Putri Raja Hamida, yakni di luar bangunan utama makam Engku Putri. Karyanya Gurindam Dua Belas diabadikan di sepanjang dinding bangunan makam. Setiap pengunjung dapat membaca atau mencatat karya besarnya yang luar biasa indah tersebut.

---------------ooOoo------------------


  [1] Darso Arief Bakuama adalah wartawan Majalah AMANAH

Kredit Foto : http://photo.net (dengan pengolahan seperlunya)
Dibaca 1.521 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Opini terkait