Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 137
Hari ini :946
Kemarin :1.109
Minggu kemarin:8.273
Bulan kemarin:43.436

Anda pengunjung ke 2.302.302
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Arbia', 26 Dzul Hijjah 1435 (Selasa, 21 Oktober 2014)
20 Agustus 2008 08:22
Ekspedisi Borneo Barat: Merajut Kembali Cultural Heritage
Ekspedisi Borneo Barat: Merajut Kembali Cultural Heritage

Pagi itu masih cukup gelap (20 Juli 2008), ketika rombongan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) yang terdiri dari Pemangku BKPBM Mahyudin Al Mudra, SH., MM., Pelaksana Harian BKPBM Hadi Kurniawan S.H.I., Public Relations BKPBM Yuhastina Sinaro SST.Par., Pimred www.wisatamelayu.com Lukman Solihin, S.Ant, redaktur www.melayuonline.com Khidir Marsanto, S.Ant., Pimred www.rajaalihaji.com Ahmad Salehudin, MA., dan fotografer Aam Ito Tistomo, dengan ditemani oleh staf Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABM-KB) tiba di satu hotel yang ada di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.


“Perjalanan yang sangat berat dan melelahkan. Sepanjang perjalanan, hampir tidak sekejap pun dapat memejamkan mata.” Ungkap salah seorang staf BKPBM ketika turun dari mobil sambil memegang perutnya. Memang, perjalanan Pontianak-Sanggau yang berjarak 178 KM dan melelahkan. Sejak keluar dari kota Pontianak sekitar pukul 19.20 WIB, kondisi jalan banyak yang rusak dan bergelombang. “Ya beginilah kondisi jalan di sini, karena tanahnya berupa tanah gambut yang mudah bergerak, jadi wajar kalau jalannya banyak yang rusak,” ungkap Bang Edi sang driver yang sekaligus merangkap guide kami.


Nampaknya cukup wajar jika ada staf BKPBM yang teler, sebab sejak menginjakkan kaki di Bandara Supadio Pontianak, Sabtu (19/07) pukul 11.00 WIB, sampai di Sanggau pada keesokan harinya belum sempat istirahat. Setelah dari bandara, dengan mengendarai dua mobil yang disediakan oleh pengurus MABM-KB kami langsung menuju rumah Melayu Kalimantan Barat dan bersilaturahim dengan pengurus MABM-KB yang dipimpin langsung oleh ketuanya, H. Abang Imien Thaha. Pukul 14.45 WIB, kami langsung meluncur ke Istana Kadriah Pontianak untuk bertemu dengan Ketua Umum Majelis Musyawarah Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Syarief Selamat Joesoef Alkadarie. Pertemuan tim BKPBM dengan Bapak Simon, panggilan akrab Syarief Selamat Joesoef Alkadarie, menghasilkan kesepakatan untuk melakukan kerjasama pelestarian Keraton Kadriah Kesultanan Pontianak. Pukul 18.50 WIB tim BKPBM meluncur ke Sanggau untuk menghadiri Festival Seni dan Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBM-KB) V, dan baru tiba keesokan harinya pukul 02.50 WIB.

Air Keruh Sungai Kapuas

Keesokan harinya, setelah istirahat sekitar 3 jam dan sarapan pagi yang disediakan pihak hotel, sekitar pukul 06.30 WIB beberapa kru menuju Sungai Kapuas yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari hotel yang kami tempati. Sungai yang mempunyai lebar antara 200-600 meter dan kedalaman rata-rata 5-27 meter ini, merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Sebelum dikenal jalur transportasi darat, Sungai Kapuas dan anak-anak cabangnya merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah-wilayah di Kalimantan Barat. Bahkan, sampai saat ini ada wilayah-wilayah di Kalimantan Barat yang masih harus ditempuh dengan menggunakan transportasi air. Dan, dengan panjang sekitar 1.145 KM, sungai ini merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Peran vital sungai yang didiami oleh 300 - 500 spesies ikan air tawar ini dapat dilihat salah satunya dari keberadaan kerajaan-kerajaan yang ada di Kalimantan Barat. Nampaknya bukan sebuah kebetulan jika kerajaan-kerajaan itu didirikan di pinggiran Sungai Kapuas atau di pinggir cabang-cabang Sungai Kapuas.

Jika selama ini kami hanya membaca dan mendengar cerita tentang Sungai Kapuas, maka pagi itu kami dapat menyaksikan, bahkan menyusuri sungai Kapuas. Namun tidak seperti foto-foto yang kami lihat, air Sungai Kapuas yang saat itu kami arungi dengan menggunakan perahu motor tampak keruh dan kotor. Aktivitas penebangan hutan yang tidak terkendali di hulu dan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas menyebabkan kondisi Sungai Kapuas cukup memprihatinkan. Selain keruh, Sungai Kapuas juga mengalami pendangkalan dan volume airnya berkurang. Pembuangan zat mercury yang digunakan dalam penambangan emas secara illegal di bagian hulu, semakin memperburuk kualitas air Sungai Kapuas. Apa jadinya jika air yang mengandung zat mercury tersebut dikonsumsi oleh masyarakat?


Di tengah sungai, perahu-perahu bermotor hilir mudik membawa sembako dan keperluan rumah tangga lainnya. Di pinggiran sungai kami menyaksikan banyak “bangunan-bangunan” terapung yang bergoyang-goyang terhempas gelombang air Sungai Kapuas. Ada rumah Lanting yang terlihat kumuh, kapal Bandong yang begitu melegenda, dan bangunan-bangunan kecil untuk membuang hajat yang di depannya terdapat landasan untuk tempat mandi dan mencuci pakaian. Di landasan itulah, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, mandi dan mencuci pakaian, bahkan tidak jarang mereka melompat dan berenang. Mereka seolah-seolah tidak peduli dengan kualitas air yang mereka gunakan.

Eksplorasi Situs-situs Cultural Heritage

Setelah sekitar 70 menit menikmati keindahan pagi dan menyaksikan aktivitas di pinggir Sungai Kapuas, kami pun naik menuju Masjid Jami‘ Syuhada atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Sultan Ayyub. Masjid yang berdiri sekitar 15 meter dari bibir Sungai Kapuas ini, didirikan oleh Sultan Ayyub Paku Negara pada tahun 1825-1828. Ketika kami sedang asik mengagumi dan memotret bagian-bagian dari arsitektur Masjid Sultan Ayyub, datang salah satu pengurus MABM-KB H. Abang Zahry Abdullah menemui kami. Ternyata, Abang Zahry mempunyai cukup banyak informasi tentang masjid bersejarah tersebut. 


Masjid Sultan Ayyub merupakan masjid tertua di wilayah Sanggau, dan merupakan pusat dakwah Islam di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Pada awalnya, masjid ini tepat berada di bibir sungai Kapuas. Demi alasan keamanan, akhirnya masjid dipindah ke tempat ini, namun tetap dengan arsitektur aslinya. “Masjid ini awalnya berada tepat di pinggir Sungai (Kapuas) itu. Namun karena tanahnya selalu longsor, maka oleh masyarakat dipindahkan ke sini,” Beber Abang Zahry kepada tim BKPBM.

“Arsitektur masjid masih seperti yang dulu. Kayu-kayu yang digunakan pun masih kayu yang asli. Hanya sebagian atapnya yang diganti, itupun karena sudah lapuk. Pada awalnya, konstruksi bangunan masjid tidak menggunakan paku, jika sekarang ada paku yang digunakan, itu setelah direnovasi. Tangga ini, misalnya, pada awalnya sama sekali tidak menggunakan paku, baru setelah direnovasi menggunakan paku,” Jelasnya lebih lanjut.


Setelah memotret dan mencatat data-data yang berkaitan dengan Masjid Sultan Ayyub, kami pun beranjak menuju rumah mantan penghulu kerajaan Sanggau, yaitu rumah Ade Ahmaden Baduwi. Rumah panggung yang telah berumur lebih dari 200 tahun dengan tinggi 2 meter tersebut kondisinya cukup memprihatinkan. Atapnya yang terbuat dari sirap kayu sudah mulai lapuk, dan tangga rumah yang jumlahnya ganjil juga telah keropos di sana-sini. Kolong rumah bagian depan digunakan oleh keturunan Ade Ahmaden Baduwi untuk berjualan, dan pada bagian belakang dibiarkan tidak terawat.


Namun sayang, karena waktu yang tersedia sangat terbatas, kami tidak sempat memasuki rumah Melayu. Kami hanya dapat mencatat keterangan yang disampaikan Abang Zahry dan mengabadikan bagian-bagian penting Rumah Melayu tersebut dengan memotretnya. Kami berharap, di lain waktu dapat kembali ke tempat ini untuk melakukan eksplorasi lebih mendalam.

Kemudian kami bergegas menuju tempat pameran untuk mempersiapkan stand. Perjalanan menuju lokasi stand terpaksa kami hentikan, karena melihat ada beberapa meriam yang cukup besar teronggok tidak terawat. Meriam itu dibiarkan tergeletak begitu saja, dan hanya bagian moncongnya yang diberi landasan. Kami mengamati dan memotretnya. Namun sayang, tidak cukup banyak informasi tentang meriam-meriam tersebut.

Dari kunjungan kami ke beberapa kerajaan di Kalimantan Barat sebelumnya, kami mengetahui bahwa biasanya meriam-meriam tersebut dipajang di depan Istana pada sisi kanan dan kirinya. Aneh rasanya ketika di tempat itu terdapat meriam tetapi tidak ada bangunan istananya.


Ternyata benar dugaan kami, di tempat itu merupakan lokasi kerajaan. Salah seorang penduduk menginformasikan bahwa di tempat itu pada awalnya merupakan lokasi kerajaan Sanggau. “Di sini awalnya lokasi kerajaan Sanggau. Meriam ini persis berada di depan Istana. Itu lihat, tiang-tiang kayu itu merupakan bekas tiang keraton. Tapi sayang, kami dari keturunan Paku Negara tidak mampu untuk membangunnya kembali.” Ungkap salah seorang pemuda yang mengaku keturunan Paku Negara.

Menurut Abang Zahri, Keraton Sanggau adalah keraton yang unik. Di sini ada dua trah keluarga yang memerintah, yaitu trah Paku Negara dan Surya Negara. Pada zaman dahulu, kedua garis trah tersebut memerintah secara bergantian, jika Surya Negara menjadi raja, maka Paku Negara menjadi mangkubumi. Demikian juga sebaliknya, jika keturunan Paku Negara menjadi raja, maka mangkubuminya dari keturunan Surya Negara. Tetapi, akhir-akhir ini ada perubahan kebiasaan dalam sistem kepemimpinan di Kraton Sanggau, yaitu kedua garis trah tersebut berjalan sendiri-sendiri.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat stand www.melayuonline.com dan segera menginventarisir kebutuhan untuk men-settingnya. Kami lihat, peserta pameran yang lain sibuk mempercantik stand masing-masing. Mereka menghias stand dengan warna-warna khas Melayu, kuning. Sedang stand www.melayuonline.com, masih belum dipercantik karena masih sibuk mencari bahan-bahannya. 

Belum lagi selesai menata stand, Bang Dedi, salah seorang panitia menginformasikan bahwa beberapa raja sedang menunggu pemangku BKPBM Mahyudin Al Mudra. Akhirnya tim dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama menemami pemangku BKPBM menemui para raja dan kelompok kedua mempersiapkan stand pameran. 


Setelah makan siang, kami berkesempatan memasuki keraton Surya Negara Sanggau yang telah dipugar pada tahun 2004 lalu. Dengan warna Dasar Kuning, keraton ini nampak megah. Untuk memasuki keraton ini, ada tiga tangga yang dapat dilalui, satu di depan yang terbuat dari beton dan dua di samping yang terbuat dari kayu. Setiap tangga tersebut memiliki anak tangga berjumlah ganjil.

Secara garis besar, bangunan keraton terdiri dari empat bagian, ruang depan, ruang tengah, ruang dalam, dan ruang belakang. Di dalam ruang dalam, terdapat kamar-kamar yang digunakan untuk tempat tidur raja, ruang permaisuri, dan ruang penyimpanan benda-benda kerajaan.


Namun sayang, kemegahan bangunan istana tidak diimbangi dengan informasi tentang keraton yang komprehensif. Tidak adanya leaflet, booklet, dan media informasi lainnya menyebabkan bangunan keraton yang megah tersebut tidak cukup banyak memberikan informasi. Bahkan, staf keraton yang mendampingi kami tidak cukup memberikan informasi tentang nilai-nilai yang terkandung pada simbol-simbol yang ada pada bangunan keraton. Staf keraton tersebut misalnya mengatakan bahwa simbol-simbol tersebut sekedar untuk keindahan saja. Padahal, siapapun tahu kalau semua simbol-simbol yang ada pada bangunan keraton mengandung makna filosofis yang dalam.

Belum Ada Kepedulian

Beragam situs cultural heritage baik yang tangible maupun intangible yang terdapat di kawasan Keraton Sanggau merupakan kekayaan tidak saja milik masyarakat Sanggau tetapi juga bangsa Indonesia dan dunia. Melalui beragam cultural heritage tersebut, dapat diketahui sejarah perkembangan dan pencapaian kebudayaan sebuah masyarakat. Sungai Kapuas misalnya, merupakan saksi bisu perkembangan sosial, budaya, agama, dan politik di Kalimantan Barat.


Sungai Kapuas kala airnya surut, dalam istilah tempatan peristiwa ini disebut
Aek Kerosik (Pasir Timbul).

Banyaknya situs-situs cultural heritage di Sanggau yang kurang terawat menunjukkan bahwa kesadaran tentang manfaat sebuah warisan budaya masih cukup rendah. Sungai Kapuas yang semakin keruh, Rumah Limas Melayu yang semakin rapuh, dan meriam-meriam yang teronggok tak berharga secara nyata menunjukkan masih minimnya kesadaran itu. Padahal, dengan merangkai sejarah antara Sungai Kapuas, Keraton Sanggau, Masjid Sultan Ayyub, dan meriam-meriam itu, akan diketahui proses perkembangan budaya, dan dinamika sosial-politik di Sanggau.  

Nampaknya, pembangunan ulang Keraton Sanggau pada tahun 2004 merupakan salah satu bukti munculnya kesadaran segenap elemen masyarakat Sanggau (eksekutif, legislatif, keluarga keraton, dan masyarakat umum) untuk menyelamatkan warisan budayanya. Namun sayang, kesadaran untuk menyelamatkan cultural heritage tersebut masih sebatas fisiknya, belum pada nilai-nilai yang dikandungnya. Contohnya, tidak adanya data yang cukup informatif baik berupa leaflet, booklet, atau buku-buku yang menjelaskan tentang keraton tersebut. Bagaimana keraton akan menjadi sumber pengetahuan sehingga layak untuk dikunjungi jika tidak ada data-data tertulis yang dapat dijadikan sumber informasi yang akurat?

Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan kaget jika tidak lama lagi cultural heritage tersebut akan hilang, baik karena proses alam maupun ulah manusia. Oleh karena itu, jika berkunjung ke Keraton Sanggau dan berjalan-jalan di sekitarnya, maka Anda akan terpana melihat kekayaan cultural heritage-nya, dan pada saat bersamaan akan mengelus dada karena kekayaan itu dibiarkan begitu saja. Dan mungkin saja, jika kondisi ini tidak segera disikapi, pada kunjungan Anda berikutnya waisan budaya itu telah “hilang”. Jika masyarakat yang berada di kawasan cultural heritage tidak peduli terhadap pelestariannya baik secara fisik maupun nilai-nilainya, bagaimana dengan masyarakat sekitarnya?

Sebagai Objek Wisata

Warisan budaya yang melimpah baik yang tangible maupun intangible di Sanggau harus dilestarikan, karena dengannya akan diketahui sejarah perkembangan sosial, budaya, politik dan agama di Sanggau. Selain itu, dalam paradigma ekonomi kreatif, warisan budaya merupakan deposit yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan pemilik kebudayaan itu. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan kawasan Keraton Sanggau sebagai daerah tujuan wisata. Pembangunan Keraton Sanggau pada tahun 2004 merupakan permulaan yang cukup penting untuk menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata budaya, sejarah, dan olahraga.

Permulaan yang cukup baik itu harus segera diikuti dengan langkah-langkah konkrit lainnya, seperti inventarisir dan dokumentasi warisan budaya baik yang tangible maupun intangible. Cara ini, dapat meminimalisir kemungkinan warisan budaya yang ada di kawasan Keraton Sanggau rusak.   

Tahap selanjutnya adalah merevitalisasi sehingga warisan budaya tersebut tidak ketinggalan zaman, dan mengolahnya sehingga dapat menjadi sumber ekonomi yang mensejahterakan pemiliknya. Jika kawasan Keraton Sanggau dikelola dengan baik, dan didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, maka para wisatawan baik lokal maupun asing akan berdatangan ke Sanggau. Seiring dengan mobilisasi orang ke daerah ini, maka dengan sendirinya ekonomi masyarakat Sanggau akan semakin baik. “Buat apa mempunyai warisan jika tidak mensejahterakan apalagi malah memelaratkan ahli warisnya”, Ungkap Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra SH. MM., dalam pertemuannya dengan raja-raja di kediaman Raja Sanggau Drs Gusti Arman, M.Si. 


Rumah Melayu lama, salah satu warisan budaya.

Jika warisan budaya mampu mensejahterakan pemiliknya, maka mereka dengan sendirinya akan menjaga kelestariannya. Jika kesadaran ini telah dimiliki oleh segenap elemen masyarakat Sanggau, mungkin Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992, yang berisi larangan merusak, mengambil atau memindahkan, mengubah bentuk, dan memisahkan bagian, kelompok, dan kesatuan benda cagar budaya yang berada di dalam situs dan lingkungannya, tidak diperlukan lagi. Apalagi, seringkali kita jumpai bahwa ketika warisan budaya mendapat stempel Benda Cagar Budaya (BCB), maka itu menjadi awal mula rusaknya warisan budaya tersebut.  (Ahmad Salehudin)

Dokumentasi : Aam Ito Tistomo, Iqbal, dan Kru MelayuOnline.com.


Sila Tulis Komentar Anda Disini !

Dibaca 2.028 kali
Berita terkait