Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 147
Hari ini :591
Kemarin :1.213
Minggu kemarin:8.917
Bulan kemarin:40.086

Anda pengunjung ke 2.350.070
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Khamis, 03 Safar 1436 (Rabu, 26 November 2014)
15 Agustus 2011 07:50
Sastra untuk Pahami Budaya Bangsa Lain
Sastra untuk Pahami Budaya Bangsa Lain

Yogyakarta - Pembelajaran Bahasa Inggris dan  bahasa asing lain yang komunikatif dapat dicapai secara efektif. Salah satunya melalui apresiasi karya sastra untuk memahami budaya bangsa lain. Pemahaman terhadap budaya negara atau bangsa lain itu dapat digunakan untuk menjembatani kesenjangan budaya (cultural gap) antarbangsa.

Hal itu dikemukakan Dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Dr Hermaya- wati dalam forum ‘TESOL Asia & Asian EFL Journal International ‘TESOL Conference’, Sabtu (13/8) di University  Southern Philippines (USP) Cebu yang kemudian disampaikan ke KR, sore harinya. Konferensi tersebut berlangsung Jumat-Sabtu (12-13/8). Indonesia diwakili 5 orang. Selain Hermayawati, utusan lain berasal dari Polines Semarang, Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Politeknik Pontianak.

Hermayawati memaparkan  makalah berjudul ‘Analisis Pengajaran Bahasa Inggris di SMA Melalui Apresiasi Karya Sastra (ELT Analysis Through Literary Works Appreciation)’.

“Masalahnya, pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah terutama di tingkat lanjutan atas (SLTA) pada umumnya belum mengarah kepada pemahaman karya sastra. Karena kebanyak-an guru belum menyadari tentang hal itu,” ujarnya.

Padahal menurut Hermayawati, berbagai ragam karya sastra seperti cerita pendek, novel, komik, puisi, naskah drama dan sejenisnya dapat digunakan sebagai bahan atau materi pembelajaran bahasa yang sangat berguna untuk memperkenalkan budaya bangsa-bangsa lain.

Ia berharap, selain berbagai materi otentik atau materi ajar yang tidak secara sengaja didesain dalam bentuk buku atau diktat seperti lagu, iklan, brosur, surat, berita dan sebagainya, peserta didik juga perlu diperkenalkan wacana baik dalam bentuk kegiatan pemahaman isi wacana, pesan moral, maupun dalam bentuk bermain peran (role-playing). 

Sumber: http://www.kr.co.id


Sila Tulis Komentar Anda Disini !

Dibaca 843 kali
Berita terkait