Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 37
Hari ini :380
Kemarin :287
Minggu kemarin:2.655
Bulan kemarin:9.345

Anda pengunjung ke 4.227.179
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Sabtu, 16 Dzul Qa'dah 1440 (Jumat, 19 Juli 2019)
Kitab Pengetahuan Bahasa
Oleh : Raja Ali Haji (1808-1873)

Karya Besar dari Orang Besar

Judul                   : Kitab Pengetahuan Bahasa
Penulis               : Raja Ali Haji (1808-1873)
Penerbit             : Mathba‘at Al-Ahmadiyah (Al-Ahmadiah Press) Singapura   
Kandungan        : 9 (sembilan) jilid (446 halaman)
Tahun                  : 1929 M



Kitab
Pengetahuan Bahasa merupakan sebuah kamus bahasa Melayu yang dikarang oleh Raja Ali Haji. Meskipun sudah ditulis pada tahun 1851 M, buku ini baru dicetak pada tahun 1929 M di Singapura. Keunggulan utama kamus ini terletak pada metode penulisannya. Kitab Pengetahuan Bahasa yang selama ini disepelekan banyak kalangan seperti Za‘ba (bernama asli Zainal Abidin Bin Ahmad, pakar bahasa Malaysia) dan Teeuw (pakar bahasa dan sastra Indonesia), ternyata memiliki teknik penulisan yang sangat tinggi untuk ukuran saat itu. Penggabungan dua teknik, teknik persajakan dan teknik qafiyah (yang disebut oleh Hasan Junus sebagai kaufah), diterapkan secara sangat apik. Teknik persajakan dipergunakan untuk menjelaskan arti sebuah entri, dengan cara mengambil sebuah bait syair atau pantun yang mengandung entri dimaksud kemudian dijelaskan, sehingga penjelasan sesuai dengan konteks kalimat bait itu. Sementara itu, teknik qafiyah melihat entri kamus dari persamaan suku kata  pertama dan terakhir, yang jelas lebih rumit dibandingkan teknik penulisan kamus yang dikenal pada saat itu secara umum. Di samping itu pula, dunia sufi Islam diterjemahkan ke dalam budaya Melayu dengan cara menyusupkannya melalui penjelasan entri. Tujuh entri yang disusun pada Bagian Pertama menunjukkan hal itu, yaitu Allah, Al-Nabi, Ashab, Akhbar, Insan, Al-Awali dan Akhirat (Junus, 2004), sedangkan bagian kedua memuat entri dari alif, ba, ta, nya, jim dan ca. Bila dihitung jumlah entri yang terdapat di bawah keenam huruf itu, terdapat sebanyak 1678 entri, sedangkan bila dihitung jumlah pasalnya, terdapat sebanyak 87 pasal.

Keterpengaruhan RAH oleh metode persajakan kamus Arab, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Manzhur dalam kitab Lisan Al-Arab nya yang berjilid-jilid itu, memang mendapat kritik dari para ahli bahasa satu abad kemudian. Namun, di dalam dunia kepenulisan Melayu apalagi dalam soal kamus, RAH adalah perintis. Belum ada seorang penulis atau siapapun, dalam catatan sejarah bahasa Melayu, yang menulis kamus bahasa Melayu ekabahasa seteliti dan semetodik RAH sebelumnya. Sejarah hanya mencatat Pigafetta dari Italia yang menulis Kamus Melayu-Italia dan Houtman saudagar Belanda yang menulis buku percakapan bahasa Melayu, yang kemudian ia beri terjemahannya dalam bahasa Belanda. Lagi pula, apa yang dilakukan oleh Pifagetta bukanlah sebuah kamus, melainkan daftar kata dari dua bahasa yang berbeda (Collins, 2005). Hal itu berbeda dengan apa yang dilakukan RAH. RAH menulis sebuah kamus bahasa Melayu yang memang diniatkan sebagai kamus, bukan daftar kata saja. Penjelasan-penjelasan yang diberikan RAH dalam kamusnya itu terasa begitu membumi karena diambil kata-kata lokal yang berbentuk sajak, sehingga bukan hanya penjelasan yang tercantum tetapi juga contoh pemakaiannya, yang pada gilirannya menjadi bukti kebahasaan yang sangat berharga.

Mari kita lihat penjelasan dari kata Arung/Harung berikut ini:

Arung/Harung

yaitu ada dua makna. Pertama, arung berjalan di dalam air, dalamnya sekurang-kurangnya lepas buku-lali. Dan kedua, makna harung itu datang kepada pinggang orang yang ramping cantik seperti kata syair Melayu disindirkan kepada perempuan yang cantik dengan katanya:

  dadanya bidang pinggangnya harung * menentang wajahnya berahi terkurung

  tunduk menyeling pandangan serong  *  manisnya seperti sakar sekarung

                                                                                    (dikutip dari Junus, 2004)


RAH dapat menggunakan metode ini bukan karena metode ini turun dari langit, akan tetapi hal itu tidak terlepas dari RAH yang lahir sebagai anak zamannya. Di mana pada waktu itu bahasa Arab begitu menjulang di Penyengat (tempat RAH menulis dan akhirnya meninggal). Bahasa Arab dianggap sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Tepat kiranya jawaban Harimurti Kridalaksana, ahli leksikografi Indonesia, terhadap para kritikus, bahwa tidak tepat menilai karya-karya RAH dari perspektif masa kini, karena hal itu sama artinya dengan menyamakan masa RAH dengan masa sekarang, di mana pengetahuan bahasa sudah berkembang pesat.


Meskipun kamus ini tidak rampung karena penulisnya lebih dahulu dijemput ajal, metode penulisannya yang kuat mampu memberikan pengaruh kepada para penulis sesudahnya. Mulai dari Abu Muhammad Adnan dalam Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah yang ditulisnya hingga Raja Ali Kelana dalam Bughyat Al-Ani Fi Huruf Al-Ma‘ani telah terpengaruh oleh RAH. Beberapa judul buku keduanya pada masa itu memperlihatkan keterpengaruhan dari bahasa Arab, jika tidak benar-benar menggunakan bahasa Arab.


Pada akhirnya, bersama-sama dengan kitab Bustanul Katibin, kamus Kitab Pengetahuan Bahasa membuat RAH layak dianggap sebagai pionir dalam penulisan karya tentang bahasa. Karena itu, julukan sebagai Bapak Bahasa Indonesia dan anugerah sebagai pahlawan nasional yang diperoleh RAH tidaklah salah beri.

 

Dibaca 11.995 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !