Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 51
Hari ini :564
Kemarin :577
Minggu kemarin:4.240
Bulan kemarin:32.329

Anda pengunjung ke 2.197.832
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 30 Ramadhan 1435 (Senin, 28 Juli 2014)
Membentuk Jati Diri Melayu melalui Gurindam Duabelas
Oleh : Raja Ali Haji
Membentuk Jati Diri Melayu melalui Gurindam Duabelas

Judul

:

Gurindam Duabelas dan Syair Sinar Gemala Mestika Alam

Pengarang

:

Raja Ali Haji

Penerbit

:

Balai Kajian & Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit Adicita Karya Nusa

Cetakan

:

I (September 2004)

Jumlah Halaman

:

iv + 44 hlm

Ukuran Buku

:

12 x 17,5 cm matte paper

Pengetahuan tidak semata-mata untuk melakukan produksi sosial, tapi yang lebih penting adalah membentuk fondasi bagi terbentuknya tatatanan sosial yang lebih baik. Tatanan sosial yang berkarakter akan melahirkan sebuah masyarakat yang kuat dan bermartabat, serta kokoh dalam menghadapi pengaruh negatif dari budaya lain. Pengetahuan itulah yang akan bersemi di hati kita ketika membaca Gurindam Duabelas.

Gurindam Duabelas ditulis sekitar tahun 1846-1847 oleh pujangga besar Melayu, Raja Ali Haji. Gurindam Duabelas merupakan salah satu karya monumental Raja Ali Haji. Disebut monumental, karena walaupun ditulis sekitar dua abad yang lalu, kedalaman makna, keindahan bunyi, serta kandungan isinya masih relevan hingga saat ini. Gurindam termasuk salah satu bentuk puisi lama. Menurut Raja Ali Haji, Gurindam adalah perkataan bersajak pada akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangan sahaja, jadilah seperti sajak yang pertama itu syarah dan sajak yang kedua itu seperti jawab. Sementara disebut Gurindam Duabelas karena gurindam ini terdiri dari duabelas pasal.

Gurindam Duabelas merupakan sari pati dari dua karya Raja Ali Haji, muqaddima fi intizam dan tsamarat al muhimmah (Hasan Junus dkk, 1995: 114). Oleh karena itu, walaupun hanya terdiri dari dua belas pasal, kandungan isi Gurindam Duabelas mencakup ranah yang sangat luas, seperti masalah ketuhanan, keluarga, etika pergaulan, dan kenegaraan.

Melalui Gurindam Duabelas, nampaknya Raja Ali Haji hendak membangun sebuah masyarakat Melayu yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Dalam pasal pertama misalnya, Raja Ali Haji menekankan pentingnya orang agama. Menurutnya, hanya orang-orang beragama yang namanya pantas untuk disebutkan. Orang yang beragama niscaya akan mengetahui dirinya dan mengenal tuhannya, sehingga dia tidak akan terpedaya oleh tipu daya dunia. // barang siapa tiada memegang agama / sekali-kali  tiada boleh dibilangkan nama // barang siapa mengenal yang empat / maka yaitulah orang yang makrifat // barang siapa mengenal Allah / suruh dan tegahnya tiada ia menyalah // ..

Setelah menekankan pentingnya beragama dan bertuhan pada pasal pertama, pada pasal kedua Raja Ali Haji memberikan alasan mengapa hanya orang beragama yang namanya layak untuk disebutkan. Menurutnya, agama mempunyai seperangkat aturan yang akan menuntun manusia menuju kebaikan. // barang siapa siapa meninggalkan sembahyang / seperti rumah tiada bertiang // barang siapa meninggalkan puasa / tidaklah mendapat dua termasa // barang siapa meninggalkan zakat / tiada hartanya beroleh berkat // .

Pada pasal ketiga, Raja Ali Haji menekankan pentingnya menjaga anggota badan. Kemampuan menjaga anggota badan akan membawa manusia mendapatkan kebaikan, dan kelalaian menjaganya akan merugikan. Misalnya orang yang memelihara lidahnya, maka dia akan mendapatkan banyak faedah. Sedangkan orang yang perutnya penuh (makan terus menerus), dari tubuhnya hanya akan keluar barang-barang yang tidak senonoh. Selanjutnya dalam pasal keempat, Raja Ali Haji berwasiat tentang pentingnya menjaga hati agar terhindar dari sifat-sifat tercela, seperti dhalim, dengki, marah, bakhil, dan lain sebagainya.

Setelah mengajarkan bagaimana menjadi individu yang baik dalam pasal 1-4, pada pasal kelima Raja Ali Haji mengajarkan bagaimana mengenal dan memahami orang lain. Menurut Raja Ali Haji, dengan melihat budi dan bahasa seseorang, kita akan mengetahui bangsa orang tersebut. Jika kita melihat orang yang selalu memelihara yang sia-sia, maka kita akan bertemu dengan orang yang berbahagia. Selain itu, pasal ini juga mengetengahkan bagaimana caranya mengenal orang berilmu, berakal, dan berperangai baik. Dengan kata lain, dengan melihat sikap dan perilaku seseorang, kita akan mengetahui dari jenis apakah orang itu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga bahasa, sikap dan perilaku kita. 

Pasal keenam berisi tentang kriteria sahabat, guru, istri, dan kawan yang harus dicari. Pasal ketujuh berisi himbauan agar senantiasa mawas diri, berbicara seperlunya, tidak berhura-hura, para orang tua hendaknya melatih anaknya, menjaga prilaku dan lain sebagainya. Demikian juga dengan pasal kedelapan dan kesembilan. Di dalam kedua pasal tersebut, Raja Ali Haji mengingatkan kita agar senantiasa mengerjakan hal-hal yang bermanfaat dan bersikap waspada terhadap orang yang mempunyai kebiasaan buruk.

Gurindam Duabelas pasal kesepuluh berkaitan dengan etika anak kepada orang tuanya, kewajiban orang tua kepada anaknya, dan etika bergaul dalam pertemanan. Untuk menghindari kemurkaan Allah misalnya, anak tidak boleh durhaka kepada bapaknya. Dan agar badan selamat, seoarang anak harus hormat kepada ibunya.  

Gurindam Duabelas juga membahas tentang kepemimpinan, sebagaimana termaktub dalam pasal kesebelas. Pasal ini mendorong siapa saja untuk menjadi pemimpin, yaitu pemimpin yang memberikan manfaat kepada yang dipimpinnya (berjasa), beperangai baik (tidak tercela), teguh menjaga amanat (tidak khianat), dan bersikap rasional (hujjah).

Pasal terakhir Gurindam Duabelas mengajarkan tentang etika politik dalam pemerintahan yang meliputi permufakatan dalam membuat kebijakan, menyerahkan pekerjaan kepada ahlinya, keadilan hukum, dan senantiasa menghargai jasa kaum cerdik pandai. Selain itu, pasal ini juga mengingatkan kepada kita bahwa para pemimpin harus senantiasa dikritisi dan ingatkan, ingatkan dirinya mati / itulah asal berbuat bakti.   

Ditengah kondisi bangsa yang semakin terpuruk akibat adanya degradasi moral yang sangat luar biasa dan memudarnya identitas kebangsaan, maka penerbitan ulang Gurindam Duabelas oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) merupakan langkah yang sangat tepat. Selain karena kandungan isinya yang sangat penting, layout yang cukup menarik dan dicetak di atas matte paper, menjadikan buku ini sangat nyaman untuk dibaca dan cukup layak untuk dijadikan cenderahati, khususnya untuk para relasi dan orang-orang yang kita sayangi. Apalagi, buku ini juga dilengkapi dengan karya Raja Ali Haji lainnya, yaitu Syair Gemala Mestika Sakti yang berisi sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Selamat menikmati.

(Ahmad Salehudin/res/1/04-2009)

Dibaca 8.590 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !