Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 94
Hari ini :864
Kemarin :1.151
Minggu kemarin:8.917
Bulan kemarin:40.086

Anda pengunjung ke 2.347.936
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Arbia', 02 Safar 1436 (Selasa, 25 November 2014)
Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia
Oleh : Tim Penulis
Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia

Sang Bapak Bahasa Indonesia itu…

Judul             : Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji
                          sebagai Bapak Bahasa idonesia.
Penulis         : Tim Penulis
Penerbit       : Unri Press Pekanbaru Bekerjasama dengan
                         Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Pemerintah
                         Provinsi Riau
Halaman      : 503 halaman
Tahun           : 2004
    
    
Pahlawan di negeri ini kurang lebih sama nasibnya dengan buruh, hanya dielu-elukan ketika jasanya dianggap mendatangkan ”devisa”. Pahlawan dielu-elukan ketika mendatangkan ”devisa” bagi nama harum daerah asalnya, dan buruh disanjung-sanjung ketika menghasilkan devisa untuk negara. Cara menghargai keduanya pun tidak jauh berbeda, bila pahlawan cukup diberi karangan bunga di atas kuburnya maka buruh diberi kalung penghargaan atas nama jasa. Pahlawan diperhatikan menjelang hari pahlawan, begitu pula buruh diperhatikan setiap akan datang hari buruh. Biografi para pahlawan dilupakan, perjalanan hidup mereka tidak lagi disimak apalagi dijadikan teladan. Sedangkan buruh, hanya dimengerti dengan memberikan gaji bulanan dan sedikit uang tunjangan.

Apabila demikian nasib pahlawan pada umumnya, apatah lagi pahlawan bahasa. Pahlawan yang selama ini terpinggirkan di antara pahlawan-pahlawan nasional lainnya, dari dunia politik dan militer. Siapa yang sudi mengangkat namanya ke permukaan? Siapa yang sudi membaca biografinya setelah ditulis dan diterbitkan? Barangkali tidak ada. Kalau pun ada, tentu sangat sedikit.


Buku Biografi dan Sejarah


Mengetahui latar belakang hidup seorang Raja Ali Haji (RAH) (1809-1870) merupakan kunci untuk mengerti seluk-beluk kepengarangan beliau. Meskipun buku ini bukan merupakan buku biografi secara utuh, gambaran tentang suasana zaman di mana Raja Ali Haji (RAH) (1809-1870) hidup dibeberkan secara detail, gamblang tapi juga menyentuh. Ia dibuat seperti kisah, yang diceritakan dari seseorang yang kembali dari masa lalu. Pembaca akan mudah dibuat hanyut oleh narasi kehidupan sang pahlawan.


Kematian saudara sepupu dan bibinya dalam perjalanan pulang dari Batavia pada tahun 1822 menjadi awal yang pahit dalam hidup RAH muda. Tragedi demi tragedi silih berganti menghampiri sesudah itu, karena takdir menentukan bahwa RAH hidup di masa-masa Kerajaan Riau-Lingga menghadapi masa-masa sulit akibat berperang dengan kolonialisme Belanda yang baru saja hendak menancapkan kaki di bumi Melayu.


RAH adalah orang yang gigih. Tidak hanya di medan juang melawan Belanda, tetapi juga di dalam dunia kepenulisan. RAH tidak mau hanya berjuang dengan pedang, RAH yang tekun mulai meniti karirnya di bidang keilmuan yang digemarinya di masa kolonialisme mulai bertapak di Penyengat dan sekitarnya. RAH mengisi sebagian besar waktunya dengan banyak belajar dan menulis.


Pada akhirnya, RAH berhasil mengukir sejarah. Buku-buku yang ia tulis merupakan sebuah titik tolak bagi perubahan besar bagi sejarah bangsa Melayu untuk tampil ke permukaan. Karya-karya RAH mencuat dan dibaca oleh orang-orang sezamannya. RAH telah mengukir zaman yang ia hidupi untuk ia hidangkan, bukan saja kepada para pengarang semasa, tetapi lebih-lebih kepada orang-orang sesudahnya. Hidup RAH tidak sekadar sebuah biografi kosong, seperti perahu yang singgah di tepi sungai lalu hilir kembali. Tetapi perahu hidup RAH penuh dengan muatan-muatan yang berguna untuk dibawa hilir sampai ke muara. Walaupun pada akhirnya beliau meninggal pada suatu perang di Teluk Ketapang yang terjadi pada tahun 1874, sejarah kepengarangan RAH akan tetap diingat, jauh melebihi perjuangannya dengan pedangnya yang tak begitu garang.



Kupasan Karya


Bagi yang ingin melanglang-buana menuju karya-karya Raja Ali Haji (RAH) bin Raja Ahmad ini, ia dapat mencarinya di sini. Di dalam buku ini diterangkan perihal Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis RAH pada tahun 1851, tetapi baru dicetak pada tahun 1929 di Singapura. Bustan al-Katibin adalah bukunya yang lain mengenai tata bahasa Melayu, yang juga diterangkan secara jelas.


Berbagai keunggulan dari Kitab Pengetahuan Bahasa dijelaskan di dalam buku ini. Misalnya sebagai sebuah kamus monolingual Melayu pertama, di samping keunggulan metodik dalam hal penulisannya. Yaitu metode persajakan atau qafiyah, yang sudah dikenal sejak lama di dunia Arab. Sementara itu, Bustan al-Katibin adalah dasar-dasar tata bahasa Melayu yang pertama kali disusun. Meskipun buku ini banyak mendapat kritikan karena secara konseptual banyak mengikuti tata bahasa Arab, buku ini tetap layak dipuji lantaran karya ini begitu bermanfaat dalam penyusunan tata bahasa Melayu selanjutnya.



Buku tentang Pembaruan


Raja Ali Haji banyak membuat pembaruan dalam kepengarangannya. Bukan hanya dalam bidang bahasa, tetapi juga di bidang lain. Dalam Tuhfat al-Nafis, buku sejarah yang ditulis pada tahun 1858, Raja Ali Haji melengkapi suatu peristiwa dengan waktu secara detail, disusul dengan informasi dari mana ia mengetahui peristiwa itu. Bahkan, apa yang dikatakan oleh Dr Virginia G. Hooker bahwa akan ditemukan berbagai kreativitas baru bila karya-karya Raja Ali Haji terus digali, telah dilakukan sebagiannya oleh buku ini. Surat-surat Raja Ali Haji kepada von de Wall yang disusun oleh Jan van Der Putten dan Al Azhar di Belanda (1994) pun tak dilupakan untuk dicatat. Pikiran-pikiran kreatif Raja Ali Haji dalam surat-surat itu yang barangkali tidak tercatat dalam buku-bukunya, dicurahkan pula meski hanya secara singkat.


Buku ini sebenarnya ditulis dalam rangka melakukan dokumentasi terhadap sejarah perjuangan Raja Ali Haji, sebelum diajukan penobatannya sebagai pahlawan nasional pada November 2004. Untuk tujuan tersebut buku ini telah berhasil. Lagi pula, penulisan buku ini diprakarsai oleh Pemerintah Kota Tanjung Pinang. Meskipun demikian, pengerjaannya diserahkan kepada para pakar di bidangnya, seperti Hasan Junus yang menjadi ketua tim. Dengan demikian, isinya bisa menjadi lebih jernih dan tidak terlalu menonjolkan sisi-sisi sosial-politik yang menjadi tujuan penulisannya.


Bersama buku Raja Ali Haji Budayawan di Gerbang Abad Dua Puluh, buku ini layak dikoleksi terutama oleh mereka yang ingin berkecimpung di bidang bahasa, khususnya sejarah bahasa Indonesia.

Dibaca 11.982 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !