Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 40
Hari ini :308
Kemarin :1.035
Minggu kemarin:8.774
Bulan kemarin:31.757

Anda pengunjung ke 693.170
Sejak 12 Rabi'ul Awal 1429
( 20 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   

Sabtu, 25 Ramadhan 1431 (Sabtu, 4 September 2010)
Membentuk Jati Diri Melayu melalui Gurindam DuabelasOleh : Raja Ali Haji

Pengetahuan tidak semata-mata untuk melakukan produksi sosial, tapi yang lebih penting adalah membentuk fondasi bagi terbentuknya tatatanan sosial yang lebih baik. Tatanan sosial yang berkarakter akan melahirkan sebuah masyarakat yang kuat dan bermartabat, serta kokoh dalam menghadapi pengaruh negatif dari budaya lain. Pengetahuan itulah yang akan ... detail... »

   
­Percintaan Tragis Melayu-BugisOleh : Maryulis Max

Begitu banyak kisah percintaan yang berujung pada kisah kasih tak sampai berseliweran mewarnai kesusastraan dunia. Mulai dari kisah cinta abadi Romeo dan Juliet di Italia, Ohatsu dan Tokubei di Jepang, Uda dan Dara di Malaysia atau Cleopatra di Mesir, Helen dari Troya Yunani, Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri di Minangkabau, kali ini Rida K Liamsi men... detail... »

   
Pengarang Feminis Melayu Abad Ke-18Oleh : Ding Choo Ming

Dunia kepenulisan di masyarakat Melayu pada abad ke-18 belum menitikberatkan nama, hak serta status pengarang. Kala itu, kepengarangan merupakan pekerjaan yang mirip seperti halnya tukang kayu yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Berdasarkan logikan tersebut, hasil karangan atau tulisan sebelum abad ke-19 “bukan karya” sipengarang, melainkan ... detail... »

   
Manusia Setengah Dewa” dalam Konsepsi Raja Ali HajiOleh : Mahdini

Eksistensi suatu negara ditentukan oleh tiga hal, yaitu adanya wilayah, pemimpin, dan rakyat yang dipimpin. Pada masa lampau, kerajaan-kerajaan juga mensyaratkan adanya pemimpin atau raja. Oleh sebab itu, keberadaan raja adalah niscaya. ”Rakyat itu umpama akar, raja itu umpama pohon; jikalau tiada akar niscaya pohon tiada akan dapat berdiri”. Itula... detail... »

   
Engku Puteri Raja Hamidah: Pemegang Regalia Kerajaan RiauOleh : Hasan Junus

Siapa menyangka jika Pulau Penyengat ternyata merupakan mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Marhum Besar alias Marhum Mesjid sang penguasa Kerajaan Johor kepada Engku Puteri Raja Hamidah alias Engku Puteri. Dalam rentetan sejarah, belum ada satupun permaisuri raja yang mendapat mas kawin sebesar mas kawin yang diperoleh Engku Puteri. Kiranya, En... detail... »

   
Sastra Indonesia dan Malaysia pada Awalnya Berakarkan Melayu

Jika diibaratkan dengan hubungan kekeluargaan, kesusastraan Indonesia dan Malaysia bagaikan saudara kembar, kakak-beradik sekandung. Demikian dinyatakan Maman S. Mahayana dalam pengantar bukunya yang mengkhususkan topik kajian sekitar persoalan akar, sistem dan konflik ideologi dalam sastra kedua negara serumpun ini. detail... »

   
        
Page