Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 65
Hari ini :398
Kemarin :827
Minggu kemarin:4.301
Bulan kemarin:32.329

Anda pengunjung ke 2.200.451
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Jum'ah, 03 Syawal 1435 (Kamis, 31 Juli 2014)
 
24 April 2008 04:56
Rekonstruksi Arsitektur Istana Kota Piring
Rekonstruksi Arsitektur Istana Kota Piring

Oleh: Totok Roesmanto[2]

Pendahuluan

Istana Kota Piring terdapat di Pulau Biram Dewa (Malam Dewa, Malim Dewa) atau Niram Dewa sebagaimana masyarakat sekitar menyebutnya, pada batu delapan atau sekitar 8 km dari pusat kota Tanjungpinang. Secara administratif, Istana Kota Piring berada di wilayah Kelurahan Melayu Kota Piring RT. 02 RW. 03, Kecamatan Tanjungpinang Timur. Pulau Biram Dewa dengan luas 3,5 ha merupakan pulau terbesar di hulu Sungai Galang. Sedikitnya informasi tentang keberadaannya menunjukkan situs bersejarah Istana Kota Piring bukanlah obyek yang menarik untuk dikunjungi warga kota Tanjungpinang. Pada hari-hari libur, situs-situs bersejarah yang ada di Pulau Penyengat banyak dikunjungi wisatawan lokal dari Tanjungpinang, Batam dan sekitarnya serta wisatawan manca dari Malaysia dan Singapura. Pulau Biram Dewa dan Penyengat pernah menjadi tempat istana istana Kesultanan Melayu Riau abad ke-18-19.

Istana Kota Piring menyisakan sebagian dinding benteng dan bentukan yang diduga merupakan bagian pondasi dari bangunan-bangunan yang ada di komplek tersebut. Di atas situs bersejarah ini telah berdiri 23 rumah tinggal keluarga pendatang yang rata-rata mulai dihuni sejak tahun 1995, juga 1 bangunan penampungan calon tenaga kerja, 1 masjid, 2 makam bercungkup, 1 warung, dinding berdenah U yang dipercaya sebagai dok perahu Lancang Kuning, jalan tanah, kebun, tanaman bakau, dan ruang terbuka sisanya yang terdapat di bagian dalam benteng dibiarkan berupa semak.

Dari slide yang dibuat Murtiyoso pada tahun 1994, dapat diketahui bahwa situs Kota Piring yang tertutup ilalang lebat di atasnya telah berdiri empat bangunan rumah tinggal. Tidak jauh berbeda dengan kondisinya sekitar tahun 2003 sebagaimana hasil pemotretan yang dimuat pada buku “Bintan Phoenix of the Malay Archipelago” (Massot, 2003:25).

Pada awal tahun 2004, jumlah bangunan rumah tinggal telah menjadi 23 rumah (12 rumah berada di dalam dan 11 rumah di luar benteng). Keluarga-keluarga Melayu, Bugis, Jawa berdatangan dari Daik-Lingga, Dabo-Singkep, Kalimantan, Sumatera Utara, dan mendirikan bangunan rumah tinggalnya di atas kapling ukuran 10 x 20 m atau 20 x 20 m yang dibeli dari M. Ali Sidik penghuni awal yang mengaku sebagai pewaris Pulau Biram Dewa.

Beberapa bongkah batuan kemungkinan merupakan bagian pondasi bangunan Istana Kota Piring ditemukan telah dimanfaatkan untuk umpak beberapa rumah tinggal atau disusun sebagai pagar halaman. Pecahan keramik berukuran agak besar yang pada tahun 1994 mudah ditemukan terserak di atas permukaan situs (berdasar penuturan Murtiyoso yang berkunjung pada tahun 1994), tinggal menyisakan fragmen remitan berukuran kecil.

Menurut Meuraxa, Kota Piring berupa pagar yang terdiri dari piring (Meuraxa, 1974:591). Pendapat lain mengartikan Kota Piring sebagai tempat penyimpanan koleksi piring Kesultanan Melayu Riau. Dalam teks kuno Tuhfat Al-Nafis yang ditulis Raja Ali Haji pada tahun 1865 (Galba dkk, 2001:51), istana Kesultanan Melayu Riau disebutkan berada di Biram Dewa, dan istana lainnya yang lebih muda berada di tepi Sungai Galang Besar (Hooker: 387-388). Peta kuno yang dibuat setelah berdirinya benteng VOC di Tanjungpinang menunjukkan Pulau Biram Dewa berada di Sungai Galang, dan menurut peta kuno lain yang lebih muda berada di Sungai Pulai.

Pada permukaan bidang sisi Barat, sisa dinding benteng terdapat grafiti “1722-1777” dan “1777-1824 VOC” yang ditulis dengan menggunakan sejenis cat kayu. Dari angkanya, terkandung maksud pelakunya (M. Ali Sidik, penduduk setempat, atau bisa juga aparat pemerintah daerah setempat) menginformasikan bahwa sisa dinding benteng tersebut adalah peninggalan masa lampau. Niat baik mewartakan kesejarahan Istana Kota Piring dengan cara demikian justru bertentangan dengan prinsip-prinsip konservasi. Cat kayu dari pertimbangan kimiawi selain sulit dihapus juga dapat merusak lapisan permukaan dinding yang bisa menyebabkan konstruksinya menjadi rapuh.

Istana Kota Piring yang letaknya tak jauh dari pusat kota dan dekat Bintan Centre, komplek pertokoan terbesar kurang dikenal masyarakat Tanjungpinang, kalah populer dibandingkan kisah kepahlawanan Raja Haji Fisabilillah yang membangunnya dan gugur dalam Perang Sosoh melawan VOC pada tahun 1784. Pembangunan komplek real estat yang hanya berseberangan sungai dikhawatirkan juga akan berimbas pada kelestarian artifak Istana Kota Piring. Oleh karenanya, usaha penyelamatan dan upaya rekonstruksi terhadap arsitektur bangunan-bangunan yang pernah ada sangat mendesak untuk dilakukan. Sehingga bagian dinding benteng yang tersisa tidak menjadi lebih parah kondisinya, peran kesejarahan Istana Kota Piring di Pulau Biram Dewa dan kekhasan arsitektur bangunannya menjadi lebih dikenal.
 

Istana Kota Piring Sebagai Pusat Pemerintahan

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, kedaulatannya dilanjutkan Kesultanan Johor. Kesultanan ini kemudian diserang oleh Portugis dan juga Kesultanan Aceh. Kesultanan Johor akhirnya berhasil ditundukkan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh pada tahun 1613. Sultan Hammat Syah, yang diangkat sebagai sultan boneka Johor untuk memperkuat hegemoni Kesultanan Aceh, kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke Bintan. Dengan bantuan VOC kedaulatan Kesultanan Johor dapat diraih kembali pada tahun 1615 dan Sultan Hammat Syah memilih mendirikan Kesultanan Pahang, sedangkan Kesultanan Johor yang berpusat di Bintan diserahkan kepada kemenakannya yang berhak. Sejak tahun 1615 Kesultanan (Melayu) Johor-Riau berdiri dengan pusat pemerintahan di Pulau Bintan.

Pada tahun 1641, Sultan Abdul Jalil III dibantu VOC berhasil menguasai Malaka, memindahkan pusat pemerintahannya dari Bintan ke Johor, kemudian menetap di Pahang. Sultan Ibrahim Syah penggantinya, tidak menetap di Johor tetapi di Riau. Terbunuhnya Sultan Mahmud Syah II, sebagai pengganti Sultan Ibrahim Syah, karena tidak mempunyai keturunan resmi menyebabkan terjadinya kemelut suksesi kekuasaan Kesultanan (Melayu) Johor- Riau. Raja Kecil (Kecik) dari Minangkabau yang mengaku keturunannya memenangi perseteruan dan menjadi penguasa baru bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah.

Tengku Sulaiman, anak Bendahara Tun Abdul Jalil yang pernah menjadi wali Sultan Mahmud Syah II ketika belum cukup umur menjabat sultan Johor di Riau, bersama keturunan Raja Bugis-Luwu (Daeng Perani, Daeng Marewa, Daeng Celak, Daeng Manam Bon, Daeng Managasi) berhasil mengusir Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah, kemudian menjadi penguasa Kesultanan (Melayu) Johor-Pahang-Riau yang bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah berkedudukan di Istana Kota Piring sejak 4 Oktober 1722. Jabatan Yang Dipertuan Muda (perdana menteri) dipercayakan pada Daeng Marewa (1722-1728), Daeng Celak (1728-1745), Daeng Kamboja (1745-1777), dan Raja Haji (1777-1784).

Pemilihan Kota Piring sebagai pusat pemerintahan Kesultanan (Melayu) Johor-Pahang-Riau diawali dengan pencarian lokasi yang dilakukan Bendahara Tun Abdul Jalil atas perintah Sultan Mahmud Syah II. Menurut “Sejarah Melayu Riau-Lingga”, sesampai di muara Sungai Riau, Tun Abdul Jalil menugasi Malam Dewa, juru mudi Lancang Kuning yang digunakan dalam ekspedisi tersebut, meneruskan pencarian dengan menyusuri Sungai Carang (dalam peta kuno disebut Sungai Galang) sampai berhasil menemukan lokasi di bagian hulu.

Pengganti Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah adalah Sultan Jalil Muazam Syah (1760-1761), yang kemudian dilanjutkan Sultan Mahmud Syah III (1761-1812). Pada masa pemerintahannya, jabatan Yang Dipertuan Muda Riau IV dipegang oleh Raja Haji (1777-1784). Raja Haji pernah menyerang VOC di Malaka, yang berdampak serangan balik armada VOC di bawah pimpinan Van Bram ke Benteng Ketapang dan menyebabkan Raja Haji gugur pada tanggal 18 Juni 1784.

Pada tahun 1761-1777, Kota Piring merupakan tempat kedudukan Sultan Mahmud Syah III, sedangkan Yang Dipertuan Muda Riau sampai masa jabatan Daeng Kamboja berkedudukan di Kota Rebah di dekat Sungai Rebah. Karena perjanjian 10 November 1784, Kesultanan Melayu Riau mengakui kekuasaan VOC dan kehilangan hak monopoli perdagangan di Kepulauan Riau. Pada tahun 1785, VOC menempatkan Residen Belanda di Tanjungpinang. Tetapi kemudian, Sultan Mahmud Syah III dengan bantuan orang-orang Tumasek (Singapura), Sulu, Ilanun, Bulangingi, Filipina Selatan dapat mengusir kembali VOC dari Riau, dan memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Piring ke Daik-Lingga untuk menghindari serangan balasan armada VOC.

Akibat dari Revolusi Perancis dan terusirnya Pangeran Willem V dari Belanda ke Inggris pada Februari 1795, seluruh kekuasaan Belanda di daerah East Indies termasuk Malaka dan Riau diambil alih. Kepulauan Riau diserahkan kepada Sultan Mahmud Syah III sebagai penguasa Kesultanan (Melayu) Johor-Pahang-Riau-Lingga yang berpusat di Daik-Lingga.

Karena Treaty of London 1824 wilayah Kesultanan Melayu (Johor-Pahang) Riau-Lingga menjadi terpecah. Johor dan Pahang berada di bawah kekuasaan Inggris, dan Riau-Lingga termasuk Indragiri Hilir berada di bawah pengaruh Belanda (Effendi, 1984:10). Bekas Istana Kota Piring tidak pernah lagi digunakan untuk kepentingan yang ada kaitannya dengan pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Daik-Lingga resmi menjadi pusat pemerintahan para Sultan Kesultanan Riau-Lingga sampai tahun 1883, dan para Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga berkedudukan di Pulau Penyengat sampai tahun 1858 (Yunus, 2003).
 

Penyelamatan Situs Istana Kota Piring

Situs adalah lahan yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya, termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanan situs tersebut. Menurut Pedoman Pengelolaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala tahun 1991, penyelamatan situs merupakan upaya teknis arkeologis untuk menanggulangi dan mencegah rusaknya peninggalan sejarah dan purbakala karena pengaruh alam dan perbuatan manusia.

penyengat

Artifak yang terlihat di atas permukaan harus tetap terjaga, sementara bagian artifak yang terpendam di dalam tanah diupayakan untuk dapat dikuak. Karena di atas situs Istana Kota Piring terdapat bangunan rumah tinggal masyarakat pendatang, sedangkan di bawah bangunan tersebut mungkin masih terdapat bentukan atau artifak yang ada kaitannya dengan Istana Kota Piring, maka kepada penghuninya harus ditumbuhkan kesadaran untuk tidak menambah luasan dan merubah konstruksi bangunannya yang akan berdampak rusaknya artifak yang berada di bawah bangunan.

Tahapan pelaksanaan penyelamatan situs bersejarah Istana Kota Piring meliputi:

  1. Merancang tindakan teknis yang terkait dengan kegiatan ekskavasi (pembukaan bagian bawah permukaan tanah),
  2. Memeriksa peninggalan yang ada di situs,
  3. Melakukan pendokumentasian data,
  4. Menilai data secara arkeologis,
  5. Mengemas temuan arkeologis untuk dasar pelaksanaan penelitian lanjutan,
  6. Menentukan batas wilayah konservasi.

Penyelamatan situs Istana Kota Piring telah dimulai sejak adanya perjanjian antara Kesultanan Riau dan VOC pada tahun 1899. Dari surat-surat perjanjian tersebut dapat diketahui bahwa “......... kedua pulau kecil Beram Dewa, Kampung Melayu ........tidak boleh diduduki tanpa seijin pemerintah negeri di Tanjungpinang dan Raja-raja, ..........”. Peraturan khusus tersebut telah melestarikan Pulau Biram Dewa yang terdiri dari pulau tempat Istana Kota Piring berada dan pulau kecil yang berada di hadapannya. Keberadaan Kampung Melayu Kota Piring menegaskan letak Kampung Melayu Lama berada di sekitar Pulau Biram Dewa.

Kegiatan ekskavasi merupakan penelitian lapangan yang membutuhkan waktu cukup lama. Pembukaan situs pada bagian-bagian yang diperkirakan terdapat lanjutan lajuran pondasi akan menghadapi kendala apabila di atasnya terdapat bangunan rumah tinggal berkonstruksi permanen. Untuk mengetahui lanjutan beberapa bentukan yang terlihat di permukaan tanah yang diperkirakan sebagai bagian pondasi bangunan di kompleks Istana Kota Piring dapat dilakukan dengan membersihkan semak ilalang yang ada.
 

a.      Analisis Temuan Arkeologikal

Analisis mikroskopis di Laboratorium Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (Balar) Jawa Timur di Trowulan terhadap bahan-bahan yang diambil dari sisa dinding benteng di Istana Kota Piring, dapat diketahui bahwa konstruksi dinding dan pondasinya disusun dari batu gamping dan pasir laut. Untuk pembanding, tembok kubu pertahanan di Johor terbuat dari lumpur (Yussof, 1992:336), jauh lebih sederhana dibandingkan dinding benteng Istana kota Piring.

Beberapa bagian dinding benteng ada yang diisi dengan bata menandakan pernah dilakukan perbaikan fisik, mengimbuhkan bahan bangunan baru, pada masa yang lebih muda. Bahan bangunan yang sama juga digunakan untuk konstruksi dinding pagar keliling di kompleks Pemandian Putri Raja Hamidah di Pulau Penyengat yang berusia lebih muda.

Tidak adanya sambungan khusus antara bagian pondasi dan dinding yang disangga menunjukkan sistem konstruksinya masih sederhana. Bahan penyusun pondasi dan dinding ditumpuk begitu saja tanpa ikatan yang kuat.

Menurut Perret, pagar keliling kota yang menjadi pusat pemeritahan merupakan sistem pertahanan berupa benteng untuk mencegah adanya gangguan keamanan dari luar, biasanya dibuat dari pagar kayu atau batu. Pusat pemerintahan yang bercorak Islam dan maritim umumnya terletak di pesisir atau di muara sungai. Dalam catatan Tome Pires, sungai yang masuk ke kota Samudera Pasai dipagari batu tegak yang disebut padrao. Umumnya dinding benteng dilengkapi pintu gerbang dan dijaga petugas keamanan. Benteng Malaka memiliki empat gerbang dan beberapa menara pengawas dilengkapi genderang, seperti diberitakan dalam Yang Yai Sheng Lan (Perret,1999: 46, 65, 68).

Dinding benteng Istana Kota Piring yang tersisa memiliki ketebalan rata-rata sekitar 30 cm dengan ketinggian maksimal 2 m, tanpa adanya akhiran atas dindingnya yang utuh. Untuk memperkirakan bentuknya, harus mempertimbangkan bentuk dinding dengan sistem konstruksi yang sama yang terdapat pada bangunan yang berusia sama atau lebih tua, atau bila tidak ada dapat mempertimbangkan bentuk dinding pada bangunan yang lebih muda.

Dari sistem konstruksi dan penggunaan bahan utama penyusunnya, dapat dipastikan bentuknya juga akan sederhana. Bentuk dinding benteng Istana Kota Piring mungkin akan lebih sederhana atau sama dengan bentuk dinding keliling halaman yang ada di situs bersejarah di pusat pemerintahan Kesultanan Melayu Riau di Pulau Penyengat yang berusia lebih muda.

Dinding keliling kompleks Pemandian Putri Raja Hamidah yang berusia lebih muda dari Istana Kota Piring memiliki bagian utuh dari atas permukaan tanah sampai akhiran atas dindingnya, dapat dijadikan rujukan untuk memperkirakan bentuk dinding benteng Istana Kota Piring.

Pendapat Meuraxa bahwa dinding benteng Istana Kota Piring merupakan dinding pagar dari piring tidak dapat dipastikan. Dinding benteng yang tersisa memiliki permukaan rata dan tidak ada tanda-tanda bekas tertancapnya dasaran piring ataupun bibir piring (seperti pada dinding serambi makam Sunan Gunungjati dan dinding keliling Sitinggil Kraton Kasepuhan di Cirebon).

Penjelasan M. Ali Sidik sebagai penghuni paling lama di Kota Piring yang mengaku masih keturunan dan pewaris keluarga Kesultanan Melayu Riau (tanpa adanya bukti yang ditunjukkan kepada peneliti) mengatakan di atas dinding terdapat piring-piring yang dipasang tegak dan berderet rapat. Penjelasan tersebut agak meragukan, karena dengan cara pemasangan demikian maka hiasan pada permukaan piring akan tidak terlihat. Akhiran atas dinding keliling yang ada di halaman kompleks Pemandian Putri Pulau Penyengat tidak berupa kisis-kisi tegak ataupun rata.

Selain lajuran pondasi dinding, juga ditemukan pondasi berdenah segi empat 9 x 12 m yang diperkirakan mendasari sebuah ruang di atasnya, pondasi berdenah segi empat berukuran 12 x 13 m yang diperkirakan di atasnya adalah bangunan masjid istana, dan pondasi berdenah bujur sangkar 6 x 6 m yang diperkirakan mendasari bangunan penyimpanan harta. Juga terdapat semacam dinding dengan denah berbentuk ceruk yang diperkirakan sebagai bekas dok perahu Lancang Kuning. Untuk memastikan jenis bangunan yang pernah ada harus memperhatikan jenis-jenis bangunan yang ada di kompleks Istana Kesultanan Melayu yang lebih tua (Kesultanan Melayu Johor), karena kompleks istana Kesultan Melayu yang lebih muda (yang terdapat di Pulau Penyengat dan di Daik Lingga sudah hancur).

Temuan pondasi berbentuk petakan mengarahkan pada kesimpulan awal bahwa:

  1. Sistem konstruksinya terdiri dari konstruksi pondasi dan konstruksi bentukan yang disangga,
  2. Konstruksi bentukan yang disangga menggunakan bahan yang kekuatannya lebih rendah (misalnya kayu) dibanding bahan pondasi dasarannya, bahan pondasi bisa dari kayu,
  3. Konstruksi bentukan yang disangga kemungkinan memiliki bagian konstruksi yang berperan sebagai penyangga/umpak yang akan menyangga bangunan di atasnya,
  4. Belum menggunakan teknik sambungan yang cukup kuat untuk menghubungkan bagian pondasi dan bentukan di atasnya.

Dari penggambaran hasil temuan pondasi lajur dan petak dapat dianalisis keberadaan dinding pagar yang lain dan pola halaman.

Halaman paling selatan yang dibatasi oleh temuan pondasi lajur berdenah segi empat panjang. Lajuran pondasi di sisi Timur dapat diteruskan ke arah Utara sampai mendekati tepi sungai. Dengan pertimbangan perahu Lancang Kuning lebih dulu melalui Sungai Carang sebelum mencapai dok, maka bagian Utara dari halaman dalam akan wajar berupa sebuah halaman juga. Batas halaman dapat berupa pagar kayu yang merupakan jenis pagar benteng yang lebih sederhana sebelum benteng batu digunakan, juga pertimbangan tidak ditemukannya lajuran pondasi sejenis yang terlihat di permukaan situs.
 

b.      Analisis Temuan Artefaktual

Temuan di permukaan situs berupa remitan fragmen keramik dari Masa Dinasti Yuan (abad ke 13-14), Dinasti Ming (abad ke14-17), Dinasti Ching (abad ke 17-20), dan piring dari Sawankhalok Siam (abad ke-13).

Keramik-keramik tersebut tidak diproduksi di Nusantara, maka keberadaannya di Istana Kota Piring karena kegiatan perdagangan yang berlangsung, atau karena penguasanya memiliki hubungan persahabatan dengan penguasa negara lain yang disertai pertukaran benda-benda berharga.

Kota Piring sebagai bandar Kesultanan (Melayu) Johor-Pahang-Riau pernah ramai oleh kegiatan perdagangan. Sebagai Yang Dipertuan Muda, Raja Haji bersikap terbuka dalam kebijakan perdagangan dan dari cukai yang didapat kemudian digunakan untuk membangun istana di Pulau Biram Dewa yang diperindah dengan porselin dan akar bahar yang dengan dicampur tembaga (Galba dkk, 2001:50-51).

Menurut Reid, kegiatan perniagaan mulai mengalami kemunduran sejak paruh kedua abad ke-17 (Reid, 2004:21), yang berdampak pada merosotnya peran bandar-bandar di Samudera Hindia seperti Malaka.

Lokasi Istana Kota Piring di hulu Sungai Riau sangat aman dari serangan luar. Maka penyerangan Raja Haji ke Malaka yang dikuasai Belanda menunjukkan strategi untuk menguasai kegiatan perdagangan di jalur Samudera Hindia, dan menerapkan cukai bagi kapal niaga yang masuk ke wilayahnya (untuk memasuki Sungai Riau kapal niaga memerlukan jasa perahu tunda berukuran kecil).

Keramik-keramik yang dikoleksi dalam bangunan-bangunan di Istana Kota Piring telah terseleksi kualitasnya. Dengan temuan banyak fragmen keramik di permukaan situs menunjukkan bahwa keramik-keramik tersebut tidak disembunyikan di dalam tanah, dan kemungkinan ditinggal begitu saja ketika Pulau Biram Dewa tidak difungsikan lagi oleh Sultan Mahmud Syah setelah gugurnya Raja Haji.
 

c.       Analisis Arsitektural Tata Bangunan

Istana Kota Piring difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Melayu (Johor) Riau sejak 4 Oktober 1722 sampai 10 November 1784, dan ditinggalkan begitu saja atau dibumihanguskan oleh penghuninya pada tahun 1787. Pembumihangusan Istana Kota Piring menyisakan pondasi dan dinding benteng yang terbuat dari batu gamping dan pasir laut.

Kota raja tertua di Semenanjung Melayu yang dikisahkan dalam karya sastra Melayu lama kemungkinan kota Gangga Nagara di Negeri Perlak, memiliki sistem pertahanan dengan benteng dan parit.

Dengan tidak adanya artifak berbentuk bangunan yang tersisa di situs Istana Kota Piring, maka untuk memperkirakan lanskap dan tata bangunannya harus menggunakan kajian kesejarahan berdasarkan teks kuno yang ada.

Teks kuno yang dianggap paling dapat dipercaya adalah Tuhfat Al Nafis yang ditulis oleh Raja Ali Haji. Sebagian dari teks Tuhfat Al Nafis menyebutkan:

“Syahadan maka tiada berapa lamanya) baginda Sultan Mahmud serta paduka ayahanda, (baginda itu) Yang Dipertuan Muda Raja Haji/di dalam. Pahang/maka berangkat lah/keduanya itu/balik ke Riau. (Maka Datuk Bendahara pun mengantarlah kedua raja-raja itu). Syahadan (tiada berapa lamanya di jalan maka Yang Dipertuan Muda pun berbuatlah istana di (pulau) Biram Dewa, serta dengan kotanya yang indah-indah (iaitu kota batu) yang bertatah dengan pinggan (dan) piring sangatlah indah-indah)/ dan sekarang ini masih ada bekas kota itu di Ulu Riau adanya/ (dan satu pula balai dindingnya cermin adalah tiang balai itu bersalut dengan kaki pahar/ kaki tiang itu iaitu/ tembaga dan kota itu sebelah atasnya berkisi-kisikan bocong. Adapun kota itu apakala kena/ sinar/ mata hari mancar-mancar/ lah cahayanya. Kemudian diperbuat/ nya/ satu istana pula di Sungai Galang Besar sangat juga indah-indah perbuatannya, iaitu istana paduka anakanda baginda itu Sultan Mahmud, dan perhiasan istana Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda itu daripada emas dan perak hingga rantai-rantai setolobnya dengan rantai perak jua.

Dan seperti talam dan ceper kebanyakan di perbuat di Negeri China dan seperti tepak dan balang air mawar daripada emas dan perak diperbesar di Negeri Benila yang berkarang bertahtakan intan dan yang berserodi. Dan adapun pinggan mangkuk dan cawan kahwa dan/cawan/ teh kebanyakan diperbuat di Negeri China serta tersurat dengan air emas pada pantat cawan itu tersebut/ nama/ Pulau biram dewa atau Malim dewa. Ada pun cawan itu hingga sampai kepada anak cucunya iaitu sah dengan nyatanya (Hooker, 1991:387-388”

Dari teks Tuhfat Al Nafis tersebut dapat diketahui bahwa:

  1. Istana di Pulau Biram Dewa (yang dimaksud Istana Kota Piring) dibangun oleh Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah.
  2. Kota (yang dimaksud adalah benteng keliling) berupa kota batu ,yang pada abad ke-18 merupakan karya arsitektur yang sangat indah.
  3. Dinding benteng bertahtakan/berhiaskan pinggan dan piring. Pemasangan pinggan dan piring: 

    a.  Ditancapkan sebagian pantatnya kepermukaan dinding;

        b. ditancapkan satu-satu, berderet rapat, bertolak punggung di permukaan atas dindingnya.

  4. Balai berdinding cermin, bertiang dilapis tembaga.
  5. Bagian atas dari kota (benteng keliling) merupakan kisi-kisi dari bocong (?).
  6. Kota (benteng keliling) memantulkan sinar matahari, karena sinar matahari dipantulkan oleh permukaan bidang yang licin dan mengkilat yang kemungkinan berupa pinggan dan piring yang terdapat pada kota.
  7. Istana lain yang indah untuk Sultan Mahmud dibuat setelah pembangunan Istana Kota Piring dan terletak di tepi Sungai Galang Besar (sekarang disebut Kota Rebah karena sebagian besar dindingnya yang masih tersisa dalam keadaan roboh).
  8. Istana Sultan dihias emas dan perak.
  9. Istana Yang Dipertuan Muda Raja Ali juga dihias emas dan perak.

Istana Kota Piring sebelum Raja Haji menjadi Yang Dipertuan Muda Riau IV sudah menjadi istana Kesultanan (Melayu) Johor-Pahang-Riau. Setelah Raja Haji dan calon menantunya (Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud) pulang dari Pahang, Raja Haji lebih dahulu singgah atau menetap di Pulau Biram Dewa dan membangun istana yang kotanya dari konstruksi batu, berarti:

  1. Sebelum di bangun, kota batu sudah ada istana yang benteng kelilingnya tidak berkonstruksi batu,
  2. Kota batu dibuat sebagai benteng yang mengelilingi istana yang lama.

Dari kajian arkeologis, sistem pertahanan telah diterapkan pada pusat pemerintahan di Banten Girang dari abad ke-10. Dalam Sejarah Melayu dikisahkan kota raja tertua adalah Gangga Nagara, yang diperkirakan berada di Negeri Perlak, yang telah memiliki sistem pertahanan dengan benteng dan parit. Benteng Pasir Raja di Johor menggunakan pagar dari kayu kulim dan paritnya dibuat dengan membelokkan aliran sungai. Hikayat Merong Mahawangsa mengisahkan benteng Kota Palas di Kedah dari pagar kayu palas (Perret, 1999). Sistem pertahanan di Istana Kota Piring dengan menggunakan kota batu merupakan sistem pertahanan canggih untuk sebuah kotaraja pada masanya.

Komplek istana Melayu terdiri dari:

  1. Dalam/Mahligai tempat tinggal raja.
  2. Balairong/Balai Paseban sebagai tempat untuk menghadap raja, memiliki ruang yang jumlahnya terkadang sebanyak jumlah ruang di dalam.
  3. Penanggahan atau dapur istana.
  4. Balai penghadapan sementara yang digunakan bila ada upacara khusus.
  5. Balai apit.
  6. Ruang tunggu pengikut raja terletak di antara balairong dan dalam.
  7. Masjid.
  8. Bangunan untuk kerabat raja.

Letak pekan/pasar tidak pasti. Pekan Johor Mengkaleh Tana Jata menurut Hikayat Terung Pipit semula terletak di luar kotaraja, dan di bagian ujungnya terdapat sebuah gelanggang sabung ayam dan sebuah tempat judi. Pasar di Indrapura Pahang berada di luar kotaraja, tetapi di Melaka di dalam kota raja (Perret, 1999).

Hikayat Siak juga memuat pemberitaan tentang bangunan-bangunan yang terdapat di komplek Istana Siak yang pernah dilihat oleh Sultan Mahmud Syah, sebagai berikut:

Alkisah, tersebutlah perkataan Sultan Mahmud Syah, kerajaan di dalam Ngeri Siak. Maka baginda pun mufakat hendak membuat negeri di Sungai Mampuna. Maka segala Orang Besar-besar pun berkerahlah orang negeri, menebas dan menebang, dan berbuat kota, parit, dan istana balairung, dan balai gendang, dan masjid, pedapuran, penanggah.

Setelah sudah, maka baginda pun pindah dari Buatan, semayam di Mampuna, dengan segala Orang Besar-besar, menteri, hulubalang, bentara, sida-sida, sekalian. (Hashim, 1992:146)

Istana yang dibuat oleh Sultan Mahmud Syah bukanlah Istana Kota Piring, karena berkaitan dengan peperangan melawan Raja Kecil yang sudah melarikan diri ke Siak. Istana kota Piring kemungkinan dibangun setelah Istana Mampuna. Dengan demikian dapat diduga, bangunan-bangunan yang ada di komplek Istana Kota Piring akan sama dengan yang ada di Istana mampuna, akan meliputi:

  1. Istana balairung
  2. Balai gendang
  3. Masjid
  4. Pedapuran 
  5. Penanggah

d.      Analisis Arsitektural Bangunan

Bentuk bangunan yang ada di komplek Istana Kota Piring akan memiliki beberapa kesamaan dengan bangunan yang ada di kompleks istana kerajaan yang ada kaitan kesejarahan dengan Kesultanan Melayu Riau yaitu Istana Kesultanan Melayu Riau-Lingga, Istana Kesultanan Melayu Riau di Pulau Penyengat yang sekarang sudah musnah, Istana Kesultanan Johor, Istana Kerajaan Pahang, bangunan rumah tinggal Melayu tradisional yang terdapat di Johor, Pahang, dan Malaka.


penyengat

Dari sisa-sisa pondasi di situs Istana Kota Piring dapat dipastikan adanya bangunan berdimensi a). 6 x 6 m atau lebih kecil, b). 9 x 12 m atau lebih kecil, dan c). 12 x 13 m atau lebih kecil, yang berdiri di atas dasaran perkerasan.

Bangunan tradisional Melayu umumnya berbentuk rumah panggung dari kayu, yang ditempati sebuah keluarga dan menantunya. Selain itu terdapat rumah balai, rumah ibadah, dan tempat penyimpanan. Kepok padi/rumah petak untuk menyimpan padi, rumah bangsal/limbungan/pondok bagan untuk menyimpan benda-benda lainnya. Bangunan rumah tradisional Melayu yang tumbuh sebelum masuknya budaya dari luar berbentuk rumah bumbung panjang (Nasir & Wan Teh, 1994:25).

Bentuk bangunan ditentukan berdasarkan bentuk atapnya, (Effendy, 1993: 4, 5, 14-15, 65-67), yaitu:

  1. Rumah Limas beratap limasan, bangunan balai pada istana Melayu umumnya berbentuk rumah limas.
  2. Rumah Belah Bubung/Bumbung Melayu: Rumah Lipat Pandan atap pelana curam; Rumah Lipat Kajang atap pelana landai; Rumah Limas Berperabung Belah adalah kombinasi keduanya. Rumah Belah Bumbung Bertinggam/Rumah Berempang Leher/Rumah Ampar Labu/ Rumah Tebar Layar/ Rumah Bersayap apabila atapnya bertingkat. Rumah Perabung Panjang bila bubungannya sejajar dengan jalan, dan disebut Rumah Melintang bila tidak sejajar jalan.
  3. Rumah Lontik/Rumah Pelancang/Rumah Lancang memiliki bubungan yang melentik ke atas (Effendy, 1993:4,5,14-16,65,67).

Rumah tradisional Melayu terdiri dari rumah ibu dan rumah dapur. Rumah bumbung panjang Johor memiliki rumah ibu yang terdiri dari ruang serambi, ruang ibu, dan ruang gajah menyusu, yang dihubungkan oleh ruang selang tak beratap ke rumah dapur. Bangunan jenis ini banyak memiliki kesamaan dengan rumah tradisonal Bugis di Sulawesi.

Rumah bumbung panjang Pahang/rumah serambi Pahang/rumah Melayu tradisional Pahang memiliki rumah ibu dengan 16 tiang utama, yang mewadahi serambi, pebalai, pentas, laluan, dan kelek anak yang menghubungkan ke rumah dapur yang di belakangnya terdapat ruang memasak.

Rumah bumbung panjang Malaka tiang dua belas memiliki rumah ibu yang berserambi dan dihubungkan dengan pelantar tak ber atap ke ruang dapur. Sedangkan rumah bumbung panjang Malaka tiang enambelas memiliki rumah ibu mewadahi serambi, ruang tengah kelana anak, dan ruang samping.

Pelantar tanpa atap dicapai dari tangga selang dan menghubungkan rumah ibu ke rumah tengah yang mewadahi ruang tengah, bilik dan ruang bertangga da lam dan berpintu menuju pelantar belakang yang menghubungkan ke rumah dapur.
 

e.      Analisis Tata Lingkungan

Kota Piring sebagai bandar yang penting pada abad ke-18 menghidupkan kawasan di sekitarnya yang merupakan perkampungan beberapa etnik terutama Bugis (mengingat dominasi peran orang-orang Bugis sejak terusirnya Raja Kecil di Kesultanan Melayu Johor-Pahang-Riau) dan Melayu.

Dapat dipastikan di seberang perairan Sungai Galang yang mengelilingi Istana Kota Piring terdapat pemukiman masyarakat Bugis dan Melayu. Dari peta kuno di sekitar Fort Tanjungpinang sudah terdapat Kampung Bugis dan Kampung Melayu yang keberadaannya (tetap ada sampai sekarang) menjadi benteng hidup bagi Istana Kota Piring. Setelah gugurnya Raja Haji, pengikutnya meninggalkan kota raja tersebut, tersebar menjauhkan diri dari Kota Piring.

Menurut informasi dari beberapa orang tetua masyarakat Tanjungpinang, di sekitar Kota Piring pernah ada Kampung Cina yang keberadaannya bisa dikaitkan dengan naluri masyarakat Cina untuk bermukim di dekat bandar ataupun sungai sebagai jalur trans portasi yang penting di wilayah kepulauan. Banyaknya temuan keramik Cina di situs Istana Kota Piring juga memperkuat dugaan di sekitar kotaraja dan kota-bandar tersebut juga terdapat pemukiman Cina.
 

Pengkonservasian Kawasan Kota Piring

Penyelamatan situs bersejarah Istana Kota Piring akan melibatkan pulau-pulau di sekitarnya yang memiliki kaitan kesejarahan Rencana konservasi situs bersejarah  Istana Kota Piring memerlukan skala prioritas penanganan dengan cakupan konservasinya berdasarkan rencana Zonasi Konservasi. Rencana penzonaan tersebut akan mencakup bagian-bagian yang termasuk Zona Inti, Zona Penyangga, dan Zona Pengembangan.

Zona Inti meliputi seluruh bagian Pulau Biram Dewa dan perairan di sekitarnya yang kemungkinan masih menyimpan fragmen yang ada kaitannya dengan Istana Kota Piring. Lebar perairan di sekeliling Pulau Biram Dewa adalah sejauh lemparan sebuah pinggan dan piring oleh orang dewasa. Meskipun kebiasaan melempar barang pecah belah tidak lazim dilakukan menurut budaya Melayu ketika seseorang sedang marah, kemungkinan tersebut justru terjadi setelah Pulau Biram Dewa menjadi pulau kosong, dan pelemparan fragmen-fragmen keramik dilakukan oleh orang yang menemukannya di permukaan situs tersebut.

Zona Penyangga mencakup daerah perairan di sekitar pulau pasangan Biram Dewa, pulau kecil di depannya, termasuk daerah te pi sungai yang diperkirakan pernah menjadi perkampungan kuno di sekitar Istana Kota Piring.

Zona Pengembangan meliputi bagian daratan yang ada di luar Zona Penyangga, dalam

hal ini termasuk bagian dari Bintan Centre dan komplek real estat yang sedang dibangun.

 
Rekonstruksi Istana Kota Piring

Untuk dapat merekonstruksi Istana Kota Piring sebagaimana kondisinya pada masa kejayaan pemerintahan Kesultanan Melayu Johor-Pahang-Riau dibawah pasangan Yang Dipertuan Besar (Sultan) Mahmud Syah dan Yang Dipertuan Muda (perdana menteri) Raja Haji tahun 1777-1784 memerlukan penelitian berkelanjutan, meliputi kegiatan ekskavasi dan penelitian arsitektur yang berkaitan dengan sistem konstruksi dan tata ruang bangunan-bangunan yang ada di kompleks Istana Kota Piring.

Temuan petak pondasi di situs Istana Kota Piring, dan dengan melihat bentuk bangunan tradisional Melayu di Johor dan Pahang, menunjukkan di atasnya akan terdapat bangunan penting berkonstruksi panggung. Apabila dikaitkan dengan bentuk bangunan rumah bumbung panjang Melayu yang terdiri dari bangunan induk yang disebut dengan rumah ibu, dan bangunan di belakangnya yang disebut dengan rumah dapur, memiliki denah berbentuk segi empat panjang. Sementara temuan pondasi petak di situs Istana Kota Piring berbentuk bujur sangkar. Kenyataan tersebut mengarahkan pada dugaan adanya bagian bangunan Istana Kota Piring berbentuk bangunan panggung yang pilar-pilar kayunya ditancapkan ke dalam tanah. Karenanya kegiatan ekskavasi lanjutan perlu dilakukan untuk menguak bagian artifak yang masih tersembunyi di dalam tanah.

-------------------ooOoo--------------------- 

Daftar Pustaka

  • Andaya, Leonard Y., Kerajaan Johor 1641-1728. Pembangunan Ekonomi dan Politik, Dewan Bahasa & Pustaka, Kemen terian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur. 1987.
  • Effendi, Pulau Penyengat Bekas Pusat Pemerintahan Raja-Raja Melayu di Kepulauan Riau, Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Departemen P&K 1983-1984.
  • Effendy, Tenas, Lambang dan Falsafah Dalam Arsitektur dan Ragam Hias Tradisional Melayu Riau, Proyek Inventarisasi & Dokumentasi Kebudayan Daerah Riau, Pemda Tk.I.Propinsi Riau. 1993.
  • Galba, S, Winoto, G, Gafnesia, DN, Wijaya, A Swastiwi,Anatasia W., Sejarah Kerajaan Riau Lingga, Bappeda Kab. Kepri bekerjasama dengan Balai Kajian Sejarah & Nilai Tradisional Tanjungpinang, 2001.
  • Hashim, Muhammad Yussof, Hikayat Siak. Dirawikan oleh Tengku Said, Dewan Bahasa & Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur. 1992.
  • Hooker, Virginia Matheson, Tuhfat Al Nafis: Sejarah Melayu - Islam, Ekonomi dan Politik, Dewan Bahasa & Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur. 1991.
  • Masot, Gilles, Bintan. Phoenix of the Malay Archipelago, Tanjungpinang: Gunung Bintan. 2003.
  • Meuraxa, Dada, Sejarah Kebudayaan Sumatera, Penerbit Firma Hasmar, Medan,  1974.
  • Nasir, Abdul Halim & Wanteh,Wan Hashim, Rumah Melayu Tradisi, Penerbit Fajar Bakti SDN.BHD, Kuala Lumpur. 1994.
  • Perret, D, “Kotaraja Dalam Melayu Lama” dalam Chambert-Loir, Henri & Ambary, HM ed, Panggung Sejarah. Persembahan Kepada Prof. DR.Denys Lombard Ecole francaise d’Extreme-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. 1999.
  • Reid, Anthony, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, LP3ES, Jakarta. 2004.
  • Tjandrasasmita, Uka, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi, Kudus: Penerbit Menara Kudus. 2000.
  • Vlatseas, S., A History of Malaysian Architecture, Longman Singapore Pte.Ltd Singapore. 1990.
  • Wahyuningsih, Abu, Rivai, Arsitektur Tradisional Daerah Riau, Proyek Inventa risasi  & Dokumentasi Kebudayaan Daerah Depdikbud, Jakarta. 1984.
  • Yuan. Lim Yee, The Malay House Rediscovering Malaysia’s Indigenous Shelter System, Institut Masyarakat, Pulau Pinang. 1987.
  • Yunus, Hamzah, Peninggalan-peninggalan Sejarah di Pulau Penyengat, Pekanbaru: Unri Press & Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat. 2003.

 

[1] Tulisan ini mengalami sedikit editing dari versi aslinya. Versi asli naskah ini dapat dilihat di http://puslit.petra.ac.id/~puslit/journals/

[2] Totok Roesmanto adalah Staf Pengajar Jurusan Arsitektur - Universitas Diponegoro

 Kredit Foto : Repro www.rajaalihaji.com
Dibaca 3.970 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !