Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 30
Hari ini :685
Kemarin :686
Minggu kemarin:5.625
Bulan kemarin:38.039

Anda pengunjung ke 2.375.076
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 29 Safar 1436 (Senin, 22 Desember 2014)
 
12 Februari 2008 02:32
Naskah Kuno di Riau dan Cendekiawan Melayu
Naskah Kuno di Riau dan Cendekiawan Melayu


Oleh : Drs. U.U. Hamidy, MA.

Berdasarkan naskah-naskah kuno, penulis berkesimpulan bahwa cendekiawan-cendekiawan Riau pada zaman dahulu me­wariskan karya-karya tersebut untuk dipegang teguh oleh generasi be­ri­kutnya. Islam bagi mereka adalah sumber segala ide.

1. Pendahuluan

Selang beberapa lama, orang hampir melupakan berbagai pe­ninggalan tertulis dari masa lampau. Perhatian begitu banyak tertuju pada masa kini dan masa depan, sehingga masa silam hampir tidak sempat diperhatikan lagi. Kehidupan berjalan terasa be­gitu singkat. Langkah-langkah zaman berlalu begitu cepat. Akan tetapi, gerak sejarah yang berjalan begitu rupa akhirnya disadari tidak bisa dibiarkan begitu saja, tanpa meng­hubungkannya dengan keadaan masa silam. Jika gerak itu berlangsung tanpa kemudi, maka dapat di­bayangkan bahwa ber­bagai kekayaan rohani dari masa lampau akan ter­timbun dalam lubuk kelupaan yang dapat menyebabkannya tak ber­makna untuk selama-lamanya. Sementara itu, krisis kemanusiaan te­rasa semakin parah dalam kehidupan modern yang lebih banyak di­tentukan oleh faktor materi dan teknologi.

Bangkitnya kesadaran akan nilai lama telah membuka perhati­an kembali pada berbagai khazanah budaya kita yang berasal dari masa lampau. Orang akhirnya menyadari bahwa yang lama bagaimanapun juga tetap bermakna bagi yang sekarang, seperti telah lama diamalkan oleh penyair besar Indonesia, Amir Hamzah. Dalam konteks itulah naskah kuno dari daerah Riau dapat mengambil tempat. Berbagai pe­­ninggalan tertulis yang terdapat di daerah ini jika dikaji kembali akan dapat menyingkap tabir gambaran masyarakat, khususnya para cendekiawan dalam kegiatan mereka menjangkau berbagai bidang ilmu pengetahuan dan amal ibadat. Riau dalam bidang kerohanian ternyata cukup kaya, karena bisa menghasilkan sejumlah karya tulis dan karya tangan para cendekiawannya, atau melalui perpustakaan para pe­nulis di rantau ini.

Pengertian naskah kuno daerah Riau bisa mempunyai beberapa makna. Pengertian itu bisa mempunyai makna semua naskah lama yang berasal dari Riau saja, akan tetapi juga bisa berarti naskah lama karya penulis asal Riau. Dalam pembahasan yang sederhana ini, pe­nulis mengambil pengertian yang pertama, yang sebenarnya juga meliputi pengertian kedua. Dengan demikian, naskah kuno daerah Riau merupakan naskah-naskah lama yang terdapat di daerah ini, baik yang ditulis oleh penulis atau cendekiawan Riau maupun penulis dari luar Riau. Di samping itu, juga terdapat karya-karya tulis lama yang me­rupakan kha­zanah para penulis itu, sehingga juga bisa dipandang menjadi bagian dari kegiatan kebudayaan di daerah Riau pada masa silam. Dengan demikian, pengertian naskah dalam gambaran ini tidak hanya dalam arti yang sempit.

Dalam pengertian sempit, naskah sering dianggap hanya karya tulis yang belum dicetak atau diterbitkan. Yang dimaksud dengan nas­­kah kuno dalam tulisan ini, selain karya tulis dalam bentuk tu­lisan tangan, juga karya tulis dalam bentuk lain, seperti yang diketik, disalin, atau diterbitkan. Pemberian batas waktu untuk mengkategorikan se­suatu itu sudah kuno atau belum ada­lah suatu hal yang tidak mudah. Demikian pula halnya dengan naskah kuno daerah Riau. Walau de­mi­ki­an, ada beberapa segi yang diperhatikan untuk melaku­kan pi­lihan kasar antara yang kuno dengan yang baru.

Pertama, dari segi waktu. Naskah-naskah kuno Riau boleh di­ka­takan berusia antara 25–100 tahun. Naskah tertua tampaknya ber­asal dari abad ke-19, yaitu tahun 1800-an, disusul oleh naskah se­­­perempat pertama abad ke-20, terutama yang berasal dari tahun 1920-an. Se­telah itu masih ada sejumlah naskah yang berasal dari tahun 1930-an sampai mendekati tahun 1950-an.

Kedua, dari segi tulisan yang dipakai. Naskah kuno Riau yang ber­­asal dari para cendekiawan Riau berawal dari pemakaian huruf Arab-Melayu. Perkembangan pemakaian huruf oleh para penulis cu­kup menarik. Setelah mereka mempergunakan huruf Arab-Me­layu atau huruf Jawi, maka para penulis memakai huruf Latin. Pe­makaian huruf Arab-Melayu ten­tu menjadi bukti bahwa para cen­dekiawan Riau mem­punyai hubungan yang begitu erat dengan agama Islam. Se­bagian besar dari mereka belajar melalui madrasah atau cara berguru tradisional, baik secara individu dengan cara muzakarah pada masjid-masjid, maupun tempat pertemuan lain­nya. Pema­kaian huruf Arab-Melayu merupakan pengaruh dari pertemuan budaya Islam dengan dunia Melayu yang memberikan semacam modifikasi kebudayaan. Se­jak huruf ini menjadi alat ke­budayaan Melayu, pemberantasan buta huruf dilakukan dengan mempergunakan huruf Arab-Melayu sebagai pelajaran membaca dan menulis.

Para cendekiawan Melayu di Riau tampaknya juga menya­dari dan melihat dengan seksama bagaimana tali teraju dunia ilmu pengetahuan makin jauh ke tangan orang-orang Eropa Barat. Kegiatan dunia ilmu semakin mengarah ke Barat daripada ke Timur Tengah sebagai satu bekas sentral budaya Islam, karena bu­daya Islam, terutama di belahan Riau dan Nusantara, sebagian besar hanya mengarahkan perhatiannya kepada kegiatan karya tulis dengan sasaran kajian agama Islam dalam pengertian sempit. Oleh karena realitas itu dan ditambah segi-segi lain seperti atas pertimbangan praktis, maka penulis Riau juga menulis dengan mempergunakan huruf Latin. Dengan memakai huruf Latin, di samping bisa lebih efektif daripada huruf Arab-Melayu, juga agar jangkauan pembaca karya tulis itu lebih luas, karena kemampuan membaca masyarakat telah terpengaruh sistem pendidikan Belanda yang semakin mengarah pada kemampuan mempergunakan huruf Latin daripada huruf Arab-Melayu. Dari segi lain, hal ini sebenarnya juga bisa dipandang sebagai strategi Belanda untuk mengurangi pe­ng­aruh budaya Islam di daerah jajahannya dan untuk mendekatkan bangsa Indonesia pada budaya Barat.

Para penulis Riau tidak begitu saja meninggalkan huruf Arab-Me­layu dalam kegiatan penulisan mereka. Huruf Arab-Melayu kemudian dipakai secara penuh, seperti dalam masa karya-karya Raja Ali Haji. Naskah-naskah yang mempergunakan huruf Arab-Melayu dan angka-angka Arab orisinil antara lain Kanun Kerajaan Riau Lingga, Bustan Al Katibin, serta Salasilah Melayu dan Bugis karya Raja Ali Haji; Syair Abdul Muluk yang diperkirakan merupakan karya Raja Zaleha dan Raja Ali Haji; Bughyat al ‘Ani Fi Huruf Al Mani karya Raja Ali Kelana. Dalam bentuk yang dicetak, tentu saja berkaitan dengan teknologi mesin cetak, penulisan naskah mempergunakan huruf Latin. Jika di­per­hatikan perkembangan pe­makaian huruf ter­sebut dalam naskah kuno Riau, maka naskah kuno Riau juga memberikan gambaran per­kembangan budaya teknologi.

Sesudah periode huruf Arab-Melayu dengan angka Arab tersebut, naskah-naskah kuno Riau masih memakai huruf yang sama, tetapi ang­ka-angka Arab tidak lagi seperti angka Arab orisinil (se­perti angka-angka untuk halaman Al Quran), namun telah dimo­difikasi menjadi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0. Dalam keadaan ini, tulisan yang dipakai tetap tulisan Arab-Melayu, tetapi halaman-halaman kitab atau naskah mempergunakan angka Arab dengan modifikasi Latin. Naskah-naskah ter­sebut antara lain Babal Qawaid; Syair Sahimsah terjemahan Raja Haji Abdullah; Undang-undang Polisi Kerajaan Riau-Lingga; Kisah Iblis Menghadap Nabi Muhammad karya Muhammad bin Haji Mu­ham­mad Said.

Ciri atau tanda-tanda huruf Arab-Melayu yang dipergunakan saat itu agak berbeda dengan huruf Arab-Melayu yang dikenal sekarang. Dalam naskah Riau, sistem huruf Arab-Melayu boleh dikatakan sebagian besar memberi tanda saksi untuk tiap bunyi vokal, seperti bunyi a, i, u, (alif, waw, dan ya). Sistem ini mem­per­mudah cara mem­­­bacanya dan kemungkinan salah baca menjadi lebih kecil. Ini berbeda dengan sistem Arab-Melayu sekarang yang hanya memberi saksi pada bunyi vokal pada suku kata kedua dan suku terakhir pada setiap kata. Oleh karena banyak bunyi vokal yang dihilangkan, sebuah kata bisa dibaca dalam beberapa kemungkinan bunyi vokal. Dalam sistem ini, bunyi (ucapan) kata harus diperhitungkan dalam kon­teks kali­mat.

Sistem penulisan Arab-Melayu yang berada dalam naskah-naskah lama Riau ternyata berlanjut atau diteruskan oleh turunan pemakaian bahasa Melayu di Semenanjung Malaka (se­karang ber­nama Malaysia), Singapura, dan Brunei Darussalam. Suku tertutup diberi tanda dengan alif, wau, dan ya sehingga naskah lebih mudah dibaca. Meskipun demikian, beberapa penga­rang Riau seperti Haji Abdurrahman Siddiq dan Haji Abdurrahman Yakub tetap mem­pergunakan huruf Arab-Me­­layu dengan angka Arab tanpa perubahan bentuk sama sekali. Hanya Syair Hari Kiamat karya Tuan Guru Abdurrahman Siddiq yang memakai angka Arab mo­del Latin pada nomor halaman kitabnya.

Setelah itu baru dijumpai naskah-naskah atau kitab-kitab yang me­makai huruf Latin dengan sistem ejaan Van Ophuysen. Naskah-nas­kah ini sebagian besar berasal dari luar Riau seperti dari Betawi dan Sumatera Barat. Kitab yang berasal dari Betawi (sekarang Ja­karta) sebagian besar berangka tahun 1910-an. Kitab-kitab itu mi­sal­nya Tambo Adat Minangkabau, Syarth Raad Agama yang disalin oleh Ra­den Poespadiningrat, Boekoe Masakan Betawi jilid kesatu, dan Tje­rita Oei Boe Hoe Seorang Anak jang Bakti karya Lim Soen Hin. Ke­lang­ka­an naskah kuno daerah Riau disebabkan oleh segi waktu pe­ma­kaian jenis huruf dan sistemnya serta karena para pengarang telah me­ninggal. Naskah-naskah itu boleh dikatakan tidak lagi di­cetak ulang, sedangkan para pengarang, penyalin, atau pe­ner­jemahnya te­lah meninggal dunia.

Naskah kuno Riau mengambil beberapa bentuk, yaitu 1) ditulis tangan pada kertas biasa; 2) dicetak dan diperbanyak dalam bentuk kitab; 3) ditulis tangan pada kertas gulungan panjang; dan 4) di­tulis tangan pada kulit binatang (ini masih menjadi perdebatan). Bentuk pertama dan kedua banyak dijumpai di kawasan bekas Kerajaan Riau-Lingga, terutama di Pulau Penyengat Inderasakti (bekas pusat-pusat kerajaan tersebut), bekas Kerajaan Indragiri dan Kerajaan Siak. Bentuk ketiga dan keempat juga dijumpai di Indragiri, tetapi di­­temukan di daerah Kampar dan Rantau Kuantan. Di bekas Kerajaan Indragiri terdapat naskah Surat Kapal berbentuk gulungan panjang dengan huruf Arab-Melayu. Di Kampar dan Rantau Kuantan terdapat gulungan panjang naskah khutbah Jumat yang sebagian besar me­ma­kai huruf dan bahasa Arab, sedangkan yang ditulis pada kulit bi­natang sedang diteliti atas biaya The Toyota Foundation.

Dari segi bahasa, naskah kuno Riau dapat dijumpai dalam bentuk beberapa bahasa. Bentuk pertama ialah naskah kuno Riau dengan ba­hasa Melayu Riau. Ini merupakan naskah yang berasal dari para pe­nulis atau cendekiawan Riau. Sebagian naskah jenis ini merupakan karya sendiri, sebagian berupa terjemahan dari karya penulis Timur Tengah. Terdapat beberapa naskah yang memakai dua bahasa, yaitu bahasa Melayu dan Arab serta ba­hasa Melayu dan Belanda. Di samping itu juga dijumpai sejumlah naskah dari kawasan Timur Tengah yang berada di Riau, yang hampir semua­nya memakai bahasa Arab. Tidak hanya itu, di Riau juga dijumpai khazanah pengarang Riau yang memiliki kitab berbahasa Prancis.

Gambaran naskah dan asal naskah yang serupa itu bisa memberikan bagan komunikasi dan kontak-kontak pengarang, serta ma­sya­rakat Melayu di Riau. Adanya beberapa terjemahan mem­berikan tanda bahwa budaya Islam dari kawasan Timur Tengah telah mem­perkaya kebudayaan Melayu di Riau. Kitab dan karya-karya pengarang muslim dari daerah itu telah menjadi perpustakaan bagi para penulis Riau, sehingga kehadiran karya­nya telah merangsang kreativitas para penulis Riau. Kesadaran akan bahan perpustakaan sejenis itu telah di­perlihatkan sendiri oleh pihak Kerajaan Riau.

Yang Dipertuan Muda Riau ke-10, Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi (1858–1899 M), telah ber­upaya membangun perpustakaan untuk mendorong kemajuan kajian agama dan ilmu pengetahuan dalam wilayah Kerajaan Riau. Hasilnya, tidak kurang dari 10.000 ringgit (mata uang Inggris saat itu) telah dibelanjakan untuk mem­­beli berbagai kitab, terutama dari karya pengarang atau ulama Timur Tengah. Kha­za­nah atau perpustakaan hasil binaan Yang Dipertuan ke-10 ini merupakan perpustakaan terbesar di Riau dalam abad ke-19. Setelah beliau wafat, perpustakaan itu terkenal dengan nama Kutub Khanah Marhum Ahmadi. Minat dan perhatian para penu­lis atau ulama daerah Riau pada masa silam memang cukup besar. Beberapa ulama, seperti Tengku Kuantan di Rantau Kuan­tan rela menjual kerbaunya hanya untuk membeli kitab-kitab dari negeri Arab.

2. Bertumpu Pada Bahasa

Raja Ahmad (ayah Raja Ali Haji) mungkin merupakan pengarang Riau tertua yang dapat dikenal. Menurut keterangan Ismail Hamid da­lam majalah Dewan Budaya, September 1979, Raja Ahmad telah mengarang Syair Pelayan Engku Putri dari Riau ke Pulau Lingga pada tahun 1831.  Meskipun ayah Raja Ali Haji telah memperlihatkan se­macam kegiatan awal bagi dunia kreativitas dalam Kerajaan Riau-Lingga, namun jalan ke arah itu baru benar-benar dibuka oleh anak­nya sendiri, Raja Ali Haji. Raja Ali Haji yang hidup antara tahun 1808–1870 Masehi benar-benar telah meletakkan dasar kegiatan kebu­dayaan, terutama kegiatan karya tulis. Dalam kait­an itu, Raja Ali Haji mempunyai perhitungan yang tajam tentang cara membina suatu du­nia kreativitas. Kegiatan Raja Ali Haji terbukti dengan sejumlah mata rantai perkembangan ba­hasa Melayu.

Ber­awal dari masa Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu pada ma­sa itu telah mendapat tempat yang bagus di rantau Asia Tengga­­ra. Sriwijaya yang memegang kendali kekuasaan, perdagangan, dan kegiatan keagamaan dari abad ke-7 sampai abad ke-11 telah me­ngem­bangkan bahasa Melayu yang diperkaya dengan unsur-unsur bahasa Sanskerta. Pada masa Sriwijaya, bahasa Melayu telah menjadi bahasa resmi, bahasa perdagangan, dan bahasa agama bagi kajian dan penyebaran agama Budha. Setelah itu, pengembangan bahasa Me­layu dilanjutkan oleh periode Malaka dalam abad ke-14 dan ke-15, sampai bandar Asia Teng­gara itu jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511.

Seiring dengan Mela­ka, Kerajaan Aceh Darussalam juga ikut mengembangkan bahasa Melayu dengan berbagai karya tulisnya. Pe­riode Malaka itu telah mempertemukan periode Johor dengan masa Kerajaan Aceh, di mana dua cendekiawan muslim bertemu di Aceh untuk saling memperkaya ilmu dan pengetahuan agama Islam, yakni Tun Sri Lanang (pengarang Sulatus Salatin) yang ber­­temu Nuruddin Arraniri di Aceh pada tahun 1612 M. Tun Sri Lanang belajar berbagai ilmu agama Islam kepada Nuruddin, se­dangkan Nuruddin belajar ba­hasa Melayu kepada Tun Sri Lanang, yang ke­mudian menulis Bus­tanus Salatin pada tahun 1638 M.

Pertemuan periode Kerajaan Johor dengan Kerajaan Aceh, khu­susnya dalam abad ke-17 tersebut, telah memberikan satu tong­gak pembinaan bahasa Melayu yang amat berharga. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam masa inilah para cendekiawan dan ulama Islam merancang huruf Arab-Melayu sebagai pengganti huruf Pallawa dan huruf Dewa Nagari yang dipakai oleh bahasa Melayu sebelum ke­datangan Islam ke tanah Melayu di Asia Tenggara. Oleh karena itu, cendekiawan Melayu, Tun Sri Lanang, Nuruddin Arraniri, serta Sam­suddin al Sumatrani, dan Hamzah Fansuri merupakan tokoh-tokoh penting dalam pembinaan bahasa Melayu, terutama dalam pem­ba­haruan aksara yang dipakai. Dari keempat cendekiawan Muslim ini, Hamzah Fansuri merupakan tokoh yang paling bagus dalam berkreasi, sehingga bahasa Melayu dan pemakaian huruf Arab-Melayu benar-benar telah “cair” di tangannya. Jika karya-karya Nuruddin Arraniri, Samsuddin al Sumatrani, dan Hamzah Fansuri tidak dituliskan dalam huruf Arab-Melayu, kemungkinan besar kegemilangan Aceh tidak akan seperti itu.

Meskipun demikian, pembinaan bahasa Melayu melalui upa­ya penggunaan huruf Arab-Melayu saja dipandang belum me­madai. Harus diakui bahwa huruf Arab-Melayu jauh lebih sesuai untuk men­cairkan bahasa Melayu dalam dunia karya tulis. Pema­kaian huruf Arab-Melayu ini merupakan sumbangan penting dari kebudayaan Islam kepada dunia Melayu, sehingga dengan sum­bangan ini bahasa Melayu benar-benar memasuki bahasa ilmu pengetahuan. Seperti ditegaskan oleh Syekh Muham­mad Naguib, kehadiran Islam dengan Al Quran sebenarnya membuat bahasa Melayu menjadi bahasa mo­dern. Segala upaya ini benar-benar me­nempati posisi gemilang ketika berada di tangan pengarang Riau, Raja Ali Haji.

Dalam dunia kepengarangan, Raja Ali Haji tampak merasa ber­tanggung jawab untuk membenahi bahasa lebih dahulu. Meskipun beliau telah membaca dan melihat pemakaian bahasa Melayu dan tulisan Arab-Melayu yang cukup besar artinya bagi dunia ke­agamaan dan kebudayaan, namun masih perlu dibina begitu rupa agar lebih kokoh dan lebih berguna. Begitulah, kegiatan pengarang Riau yang juga ulama yang amat disegani dalam zamannya ini telah tertumpu pada pembinaan bahasa Melayu. Beliau berupaya membuat pedoman pemakaian bahasa Melayu dengan kitab tata­bahasa yang ditulisnya dengan judul Bustan al Katibin, pada tahun 1857 Masehi. Perangkat kaidah yang dibuatnya meskipun bisa di­pandang amat sederhana dari kacamata dunia ilmu sekarang, namun pada zamannya amat ber­makna. Kitab ini menjadi pan­duan bagi pemakaian bahasa Melayu dalam karya tulis untuk kawasan Melayu. Setelah itu, beliau membuat satu kitab lagi yang amat ber­harga untuk pedoman pemakaian kata-kata yang berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yang dikarang kira-kira tahun 1859 Masehi. Gabungan kedua kitab ini memberi pe­tunjuk ketajaman Raja Ali Haji dalam hal menghargai bahasa. Se­buah tatabahasa ringkas dengan sebuah kamus benar-benar amat di­perlukan bagi kepentingan karya tulis dalam abad ke-19 Masehi.

Judul-judul karya Raja Ali Haji adalah Silsilah Melayu dan Bugis, Bustan al Katibin, Tuhfat al Nafis, Gurindam Dua Belas, Syair Siti Syianah, Mukaddimah fi Intizam, dan bermacam syair yang mem­beri gambaran sekaligus cara beliau mempertemukan unsur-unsur budaya Islam dengan budaya Melayu. Karyanya tidak hanya mem­pergunakan bahasa Arab, namun juga mempergunakan ba­hasa Me­layu. Raja Ali Haji memang telah tampil begitu rupa melanjutkan tali air yang pernah mengalir di tangan Tun Sri Lanang dan Hamzah Fansuri, sehingga bahasa Melayu semakin berhasil menempatkan diri­nya dalam kebudayaan Melayu.

Segala jerih payah ulama cendekiawan Riau ini mendapat jalan yang lapang oleh adanya sarana yang disediakan oleh pihak Kerajan Riau-Lingga. Pertama, tersedianya perpustakaan seperti yang telah di­sebutkan di atas, dan kedua, karena adanya kemudahan berupa per­cetakan. Pada masa Kerajaan Riau-Ling­ga (selepas masa Kerajaan Johor) pernah didirikan tidak kurang dari dua buah percetakan. Semasa pusat kerajaan di Pulau Ling­ga, berdiri percetakan yang di­beri nama Rumah Cap Kerajaan. Percetakan ini didirikan sekitar ta­hun 1885 Masehi. Karya tulis yang telah dihasilkannya antara lain Mukhadimah fi lntizam, karya Raja Ali Haji, dicetak bulan Rajab 1304 H (kira-kira tahun 1886 M); Tsamarat al Muhimmah, karya Raja Ali Haji, dicetak tahun 1304 H (kira-kira tahun 1886 M); Undang-undang Lima Pasal (ma­teri kerajaan); dan Qanun Kerajaan Riau-Lingga (ma­teri kerajaan).

Saat pusat Kerajaan Riau-Lingga berada di Lingga, yaitu tem­pat ke­dudukan Yang Dipertuan Besar (Sultan) Riau, Pulau Pe­nyengat pada tahun 1805, perkembangannya juga semakin pe­sat. Setelah pulau ini menjadi tempat kedudukan Yang Diper­tuan Muda (semacam Per­dana Menteri) Riau, maka pulau ini menjadi pusat kegiatan politik dan kebudayaan Kerajaan Riau-Lingga. Dalam tahun 1894, Yang Dipertuan Muda Riau, Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, mendirikan se­buah percetakan yang diberi nama Mathba‘at al Riauwiyah atau Mathba‘at al Ah­­madi­ah.

Sebenarnya kedua nama itu lebih baik dipandang sebagai pe­nerbit daripada sebagai percetakan. Jadi, pada masa itu mulai di­li­hat perbedaan antara percetakan dan penerbitan, se­bab jika yang di­­cetak bukan untuk kepentingan langsung Kerajaan Riau-Lingga, maka hasil cetakan diberi cap Mathba‘at al Ahmadiah. Kitab-kitab karya penulis Riau biasanya diberi cap dengan nama penerbit ini. Se­­baliknya, jika materi yang dicetak merupakan bahan-bahan untuk kepentingan kerajaan (yang ber­sifat dinas), maka diberi cap Mathba‘at al Riauwiyah.

Beberapa kitab atau karya tulis (yang sekarang menjadi naskah kuno Riau) yang diterbitkan atas nama Mathba‘at al Ah­madyiah antara lain: (1) Risalat al Fawaid al wafiat fi Syarh Ma‘na al Tahyat karya Sayid Syarif Abdullah ibni Muhammad Saleh al Zawawi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Rusydiah Klub dan dicetak/diterbitkan tahun 1312 H (1895 M). Kitab ini me­rupakan kitab dua bahasa, karena menyertakan teks asli dalam bahasa Arab dengan terjemahan baha­sa Melayu, (2) Kaifiat al Zikir ala Tariqah at Naqsyabandiyah, diterbitkan tahun 1313 H (1896 M), (3) Syair Gemala Mestika Alam (semacam saduran), karya Raja Ali Haji, (4) Syair Perjalanan Sultan Lingga ke Johor, karya Raja Hitam Khalid bin Hasan. Karya ini merupakan semacam pro­mosi untuk kenaikan pangkat dalam Rusydiah Klub, dari anggota muda menjadi anggota teras.

Mathba‘at al Riauwiyah telah menerbitkan (1) Pohon Perhimpun­an, karya Raja Ali Kelana bin Muhammad Yusuf al Ahmadi, tahun 1315 M (1899 M). Kitab ini merupa­kan laporan perjalanan seorang pejabat Kerajaan Riau de­ngan pangkat Kelana (mirip dengan Men­teri Dalam Negeri) untuk memeriksa berbagai daerah atau wila­yah kerajaan. Dalam perjalanan dinas itu, Kelana Riau telah mengunjungi Pulau Tujuh. Ia mencatat berbagai masalah seperti masalah tanah, air, tumbuh-tumbuhan, penduduk, dan hasil bumi yang berada di darat maupun di laut, (2) Furuk al Makmur, dicetak dan diterbitkan tahun 1311 H (1896 M). Kitab ini merupakan kitab undang-undang yang dipakai di Riau, di samping kitab undang-undang yang lain se­perti Tsamarat al Muhimmah dan Mukaddimah fi Intizam (karya Raja Ali Haji), serta Undang-undang Kepolisian Kerajaan Riau, (3) Taman Penghiburan, sebuah buku kecil yang diterbitkan oleh Lid-lid Rusydiah Klub, dicetak tahun 1313 H (1895 M).

Keberhasilan Raja Ali Haji dalam membina bahasa bukan sukses yang berdiri sendiri. Setelah dia membina bahasa Melayu dengan ber­bagai karyanya dalam bidang agama, hukum, dan sastra, kegiatan keagamaan dan kebudayaan di Kerajaan Riau-Lingga semakin ce­mer­lang. Dengan bantuan pihak kerajaan, dunia kreativitas semakin terbuka lebar. Kecendekiaan Raja Ali Haji diteladani oleh para generasi selanjutnya yang sebagian besar merupakan anak-cucunya. Sejumlah penulis dan cendekiawan Riau kemudian tampil, di antaranya ada­lah Raja Ali Kelana, Raja Hitam Khalid, Raja Abdullah alias Abu Mu­hammad Adnan, Raja Ali Ahmad Tabib, Raja Haji Said bin Raja Haji Muhammad Thaher Riau, Raja Haji Awang, Raja Haji Daud (tabib Kerajaan Riau-Lingga), dan Raja Haji Muhammad Hasim bin Raja Haji Muhammad Rusin al Riauwiyah. Selain itu lahir beberapa penulis pe­rempuan, antara lain Raja Aisah Sulaiman (istri Raja Hitam Khalid), Raja Saleha (adik Raja Ali Haji), Salamah binti Amar, Khadijah Terung, dan Badriyah Muhammad Taher.

Pada masa generasi pasca Raja Ali Haji, pembinaan bahasa Me­layu tetap menjadi titik perhatian dalam kegiatan karya tulis di Riau, di samping kegiatan-kegiatan lainnya. Dua orang pe­nulis tatabahasa segera muncul, yaitu Raja Ali Kelana dan Raja Abdullah. Raja Ali Ke­lana telah menulis kitab tatabahasa yang berjudul Rughyat al‘Ani fi Huruf al Ma‘ni tahun 1341 H (1922 M). Dalam kitab ini dibahas semacam ilmu bunyi atau fonetik. Karya­nya yang berjudul Pohon Ingatan yang diduga juga dalam bidang bahasa, belum berhasil dijumpai.

Raja Abdullah telah mengha­silkan dua buah kitab bahasa. Yang pertama berisi pelajaran bahasa Melayu berjudul Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah, terdiri dari dua jilid dan pernah diterbitkan oleh Mathba‘at al Ahmadiah Singapura tahun 1345 H (1926 M). Kitab ini membicarakan huruf, ejaan, ka­ta ganti, awalan, dan akhiran. Awalan dan akhiran disebutnya sebagai “huruf-huruf yang bertambah”. Ada delapan awalan dalam bahasa Melayu Riau yang diformulasikan oleh Raja Abdullah, yaitu per-, ber-, ter-, me-, se-, di-, dan pe-, sedangkan yang dikategorikan akhiran adalah -kan, -i, -lah, dan -an.

Kitab yang kedua adalah kitab pelajaran bahasa Melayu, Peno­long Bagi yang Menuntut akan Pengetahuan yang Patut, juga pernah diterbitkan di Singapura oleh Mathaba‘at al Ahmadiah tahun 1345 H (1926 M). Kitab tatabahasa karya Raja Abdullah ini membicarakan ka­limat. Beliau tidak memakai istilah “kali­mat”, tetapi “perkataan”. Dalam halaman 4, yang dimaksud de­ngan “perkataan” ialah “....cakap yang tersusun lagi yang ber­guna dengan disengaja oleh yang berkata....”, sedangkan bagian-bagian dari perkataan itu ialah nama, perkataan (kata-kata), dan aksara. Dengan demikian, ada perkataan dalam arti “kalimat” yang bisa dipandang sebagai ucapan dan ada pula yang berperan sebagai kata saja.

Raja Ali Kelana dan Raja Abdullah pada prinsipnya telah me­ne­ruskan kemampuan Raja Ali Haji dalam menulis tatabahasa Melayu dengan memanfaatkan bahasa Arab. Kalau tatabahasa Me­layu kar­ya penulis dari Riau ini dilanjutkan oleh para penulis tatabahasa Indonesia setelah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa nasional, yang sebelumnya pernah memanfaatkan standar bahasa Melayu Riau, wajah tatabahasa dan arah bahasa Indonesia se­karang ini tentu akan lain. Akan tetapi, pihak Belanda juga yang mengubah arah itu.

Setelah pihak Belanda mampu mempelajari bahasa Melayu dengan memanfaatkan karya-karya penulis Riau, bahkan Van Ophuy­sen sendiri sampai menetap beberapa lama di Tanjung­pinang, maka mereka membuat tatabahasa Melayu dengan model tatabahasa Yunani Latin. Hal ini merupakan upaya Belanda untuk memasukkan unsur-unsur budaya Barat dalam kadar yang semakin besar ke dalam kebudayaan Indonesia. Apa yang kita lihat dari perja­lanan sejarah dalam bidang ini ialah wajah bahasa Indonesia yang semakin dekat kepada bahasa fleksi Eropa Barat. Apalagi para sarjana hasil didikan Barat (Belanda) itu dengan setia melanjutkan ajaran penjajah tersebut dengan alasan modern. Inilah sa­lah satu penyebab tidak tumbuhnya kreativitas yang melahirkan kata-kata baru dalam bahasa Indonesia. Kreativitas yang tampak hanyalah semu, berupa penyalinan kata-kata dari bahasa Barat ke dalam bahasa Indonesia.

3. Ragam Kegiatan Cendekiawan Riau

Tidak mengherankan jika dunia cendekiawan atau para pe­nulis Riau dalam kawasan Kerajaan Riau kemudian memben­tuk semacam perkumpulan kaum cendekiawan yang diberi nama Rusydiah Klub. Belum dapat diketahui dengan jelas kapan per­kumpulan kaum cen­dekiawan Riau ini didirikan. Dari gambaran kegiatannya dalam konteks Kerajaan Riau-Lingga, perkumpulan ini tampaknya berdiri sekitar tahun 1892 Masehi atau sekurang­nya bersamaan dengan ber­dirinya percetakan di Pulau Penyengat tahun 1894 Masehi. Pada masa itu, kerajaan me­mang menciptakan iklim hubungan yang kon­dusif antara kerajaan dengan kaum cen­dekiawan. Kemerdekaan Ke­rajaan Riau-Lingga dalam tahun-tahun awal abad ke-19 semakin diku­rangi, sehingga akhirnya kerajaan itu kehilangan hak hidupnya. Keadaan ini menyebabkan Kerajaan Riau mencoba mempergu­nakan ber­bagai jalan yang patut ditempuh.

Oleh karena sebagian besar kaum cerdik pandai berasal dari ke­luarga istana, maka tidak mengherankan jika Rusydiah Klub pa­da mulanya digerakkan oleh cendekiawan dari keturunan kaum bang­sa­wan kerajaan. Tengku Besar yaitu Tengku Umar (anak Sultan Abdul Rahman Muazam Syah yang berkuasa 1885–1911 Masehi) menjadi Presiden Rusydiah Klub. Jabatan sekretaris dipegang oleh Sayid Ali, jabatan Musyir (juru bicara) dipegang oleh Tengku Muda, Raja (Haji) Ali menjadi wakil Timbalan Rusydiah, di samping Timbalan sendiri yang diduduki Raja Muham­mad Aqib. Masih banyak jabatan lain, seperti wakil sekretaris (Maktub Hayy) yang dipegang oleh Raja Khalid al Hitami, dan Sayid Syeikh al Hadi Wan Anom yang men­jabat sebagai Timbalan Rusydiah Klub di Mekah. Anggota atau lid-lid cukup banyak, antara lain Raja Abdul Mutalib, Raja Idris, dan Tuan Haji Jafar. Semua keanggotaan Rusydah Klub ditulis dalam kitab Taman Penghiburan yang diterbitkan oleh lid-lid tahun 1313 H (1894 M).

Nama-nama yang pernah tercantum dalam kitab Taman Peng­hiburan memperlihatkan bahwa kaum cendekiawan Riau pada masa itu bukan hanya berasal dari kalangan para penulis kreatif saja, tetapi juga dari kalangan lain seperti para pejabat kerajaan dari bidang lain yang tidak kita jumpai karyanya dalam naskah kuno Riau sekarang ini. Kegiatan mereka tampaknya cukup beragam, mulai dari menjadi ahli musyawarah atau penasihat Sul­tan dan para Yang Dipertuan Riau, mem­buat undang-undang, menerjemahkan berbagai kitab bahasa Arab ke dalam bahasa Me­layu, sampai mendirikan percetakan, men­diri­kan sarikat dagang, dan mengadakan upacara keramaian untuk meng­hibur rakyat dalam setiap hari besar Islam.

Dalam bidang politik, para anggota Rusydiah Klub telah ber­upaya pergi ke Jepang dan Turki untuk mendapatkan bantuan. Me­nurut sumber Riau yang berasal dari keterangan beberapa keluarga keturunan Raja-raja Riau, Raja Khalid Hitam telah dua kali pergi ke Jepang, yaitu pada tahun 1912 dan 1913, dalam upaya mencari bantuan Jepang untuk menentang atau menghadapi Be­landa. Kabar­nya, diplomat Riau ini terbunuh. Sumber Belanda seperti yang pernah dikutip oleh Abu Hasan Sham mengatakan bahwa Raja Khalid Hitam pergi ke Jepang pada 31 Oktober 1913 dan pada 11 Desember 1913. Menurut sumber itu, diplomat ini meninggal di Jepang karena tidak tahan terhadap musim dingin di negeri itu. Sumber Belanda itu patut diragukan, karena hal ini menyangkut politik yang ketika itu cukup me­­nen­tukan bagi keamanan Belanda di Riau. Sumber  ini juga mengatakan bahwa saat itu, wakil/duta Belanda juga berada di Tokyo, sehingga tidak mustahil kalau Raja Khalid Hitam telah men­jadi korban kelicikan siasat Belanda. Kabar umum yang dibe­ritakan di Riau menyatakan bahwa diplomat itu mati dibu­nuh oleh agen-agen Belanda, seperti yang dikemukakan oleh Raja Hamzah Yunus, seorang budayawan Riau yang cukup tekun mempelajari naskah-nas­kah kuno Riau.

Sementara itu, Raja Ali Haji diutus ke Istambul, Turki pada tahun 1904, juga untuk mencari bantuan, tetapi tidak berhasil sampai ke sana, dan pulang kembali ke Riau tahun 1905. Hal ini seperti yang di­­te­rangkan oleh Barbara Watson Andaya dalam From Rum to Tokyo: The Search for Anti Colonial Alies by the Rulers of Riau, 1899–1914, yang dikutip kembali oleh Abu Hassan Sham dalam Rusydiah Klub dan Taman Penghiburan” yang dimuat dalam majalah Purba, edisi 2 tahun 1983.

Menjelang tahun 1911 dan 1913, hubungan Kerajaan Riau dan Belanda semakin meruncing. Perkembangan itu mau tidak mau me­libatkan kaum cendekiawan Riau, yang sebagian besar ada­lah anggota Rusydiah Klub. Mereka mengajukan dua pilihan, menghadapi Belanda dengan diplomasi atau perundingan saja. Opsi ini ternyata semakin tidak mungkin, sehingga diperlukan cara diplomasi yang lain. Atas per­­hitungan itu, maka sebuah ma­jalah Islam dengan nama Al Imam diterbitkan di Singapura pada tahun 1906. Mudir atau direktur majalah ini dipegang oleh Syekh Muhammad bin Salam al Kalili, sedangkan cen­dekiawan Riau, Raja Kelana dan seorang cendekiawan ulama dari Mi­nangkabau bernama Syekh Muhammad Tohir Jalaluddin Palaki, ber­posisi sebagai author intelectualis majalah itu.

Bersamaan dengan upaya yang bersifat politis ini, ada usaha untuk mengimbangi dominasi Belanda dalam perdagangan. Atas inisiatif Raja Haji Ahmad, pada tahun 1906 didirikan sebuah serikat dagang di Pulau Midai, daerah kawasan Pulau Tujuh. Se­rikat Dagang Ahmadi ini boleh dikatakan menjadi sema­cam per­gerakan bagi perlawanan ter­ha­dap kolonial Belanda. Dana dari Serikat Dagang Ahmadi inilah yang nantinya digunakan untuk mendirikan percetakan baru di Singapura yang bernama Al Ahmadiah Press atau Mathba‘at al Ahmadiah.

Pada tahun 1911, Sultan Kerajaan Riau-Lingga diberhentikan oleh Belanda dengan alasan melanggar Politiek Contract tahun 1905. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1913, Kera­jaan Riau-Lingga secara resmi dibubarkan oleh Belanda. Sejak saat itu, kegiatan kaum cendekiawan Riau dan wadah Rusydiah Klub secara formal telah berakhir. Namun kegiatan mereka tetap ber­lanjut secara perorangan. Dalam periode pasca keruntuhan Ke­rajaan Riau-Lingga, kegiatan cen­dekiawan Riau boleh dikata­kan sebagian besar difokuskan da­lam bidang agama dan kebuda­yaan. Percetakan Al Ahmadiah Press se­gera menggantikan per­cetakan yang telah berantakan di Pulau Pe­nyengat, karena pulau itu tidak bisa berfungsi lagi sebagai pusat kegiatan agama dan ilmu pengetahuan. Percetakan Al Ahmadiah Press telah meng­ambil tempat yang amat penting bagi penampungan dan penerbitan karya-karya tulis cendekiawan Riau.

Jika kita perhatikan lebih seksama, kegiatan para cende­kiawan dan ulama Riau di wilayah Kerajaan Riau-Lingga telah merupakan seligi yang tajam bertimbal. Tujuan dan manfa­atnya tidak hanya di­per­untukkan bagi satu arah saja, tetapi telah memberi makna pada ber­bagai kepentingan kehidupan saat itu dalam rangka merealisir ajar­an agama Islam yang dianut orang Melayu. Keyakinan bahwa pena lebih tajam dari pedang yang terhunus, seperti yang telah diwasiat­kan oleh Raja Ali Haji dalam pembukaan kitabnya Bustan al Katibin, tampak menjadi pegangan erat para penulis tersebut. Mereka benar-benar dapat melihat bahwa perlawanan kekuatan fi­sik yang gagal ter­hadap Belanda dan juga kelemahan dalam mencari jalan dalam di­plo­masi harus diimbangi dengan jalan lain. Jalan itu adalah dengan mencari dan membangun segi-segi kekuatan rohani dalam kehi­dupan masyarakat Melayu melalui kegiatan karya tulis dalam bidang agama, bahasa, sastra, hukum, dan publikasi lainnya. Faktor kekuatan rohani yang dijaga melalui karya tulis ini memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mempertahankan persatuan. Pada masa selanjutnya, semua kekuatan rakyat dengan mudah dihimpun kembali untuk me­nentang Belanda seperti yang telah diperlihatkan oleh perlawanan rakyat dalam agresi Belanda tahun 1948–1949.

Kegiatan karya tulis ini juga berlangsung di tempat-tempat lain di Riau. Percetakan Kerajaan Siak Sri Indrapura menerbitkan Bab al Qawa‘id (Pintu Segala Pegangan) pada tahun 1901 sebagai pe­gangan untuk mengatur kehidupan dalam kerajaan itu. Tuan Guru Abdurrahman Siddiq, mufti kerajaan Indragiri (yang me­ning­gal pada 10 Maret 1939 di Sopat, Indragiri Hilir) menulis berbagai kitab, seperti Syair Ibarat dan Khabar Akhirat pada tahun l344 H, ‘Aqaid al Iman pada tahun 1355 H (1936 M), Risalat Amal Mak­rifat, dan beberapa karya lainnya. Hampir bersamaan dengan ini muncul penulis dari dae­rah Tambusai yang bernama Sulaiman bin Abdul Jalil al Tambusy dengan karya-karya yang diterbitkan oleh Mathba‘at al Ahmadiah Singapura, antara lain ‘As Sa‘adat al Addiyah fi al Dinat Mahmudiah tahun 1356 H dan Al Tahsaniah an Ithba al Musail al Syuzudiah tahun 1348 H. Di daerah lain seperti di Rantau Kuantan dan Kampar, muncul ulama penulis Khutbah Panjang (yang ditulis pada gulungan kertas), serta Surat Kapal di Indragiri.

Melalui beberapa upaya penelitian di Riau, terutama yang pernah dilakukan di tahun 1982, dapat diketahui sejumlah naskah kuno Riau. Jumlah terbanyak yang pernah dapat dicatat ialah 108 buah naskah yang terdiri dari 101 judul. Dari upaya itu dapat di­ketahui se­banyak 22 orang penulis merupakan anak jati Riau, se­dang­kan yang bermastautin di Riau ada 4 orang, dan pengarang yang berada di luar Riau terhitung sebanyak 20 orang.

Ragam karya seperti yang telah disinggung di atas paling ti­dak mencakup lima bidang kegiatan. Dari kelimanya, yang paling me­nonjol ialah bidang agama Islam yang mencapai 41 buah naskah. Dalam bidang sastra, terdapat 24 naskah, sedangkan naskah khu­sus bahasa berjumlah 8 buah. Dalam bidang ilmu terdapat 5 naskah, se­dangkan ilmu-ilmu sosial lainnya terdapat 30 naskah.

Tempat penerbitan karya tulis ini sebagian besar tercatat di Riau. Sebanyak 52 naskah pernah diterbitkan di Riau. Selebih­nya, se­banyak 35 buah naskah, diterbitkan atau dicetak di daerah lain di luar Riau dan masih ada yang belum diterbitkan, yang ber­jumlah 20 buah naskah, ditambah dengan sebuah naskah yang tidak di­ketahui tempat penerbitannya. Selain itu, sejumlah karya pe­ngarang Riau yang sering disebut seperti Al Wustha dan Al Qubra karya Raja Ali Haji, kemudian Percakapan Si Bakhil karya Raja Ali Kelana, serta sejumlah syair dari berbagai pengarang, belum dapat dijumpai. Kenyataan ini mendorong untuk melakukan penelitian tentang naskah kuno Riau lebih lanjut.

Penelitian lanjutan dibiayai oleh The Toyota Foudation pada tahun 1985. Meskipun penelitian lanjutan ini baru dimulai sekitar 3 bulan, namun sejumlah naskah telah mulai dapat dike­nal, bah­kan ada yang dapat dikumpulkan. Dari penelitian atas biaya The Toyota Foundation ini telah dikenal beberapa naskah kuno lagi, antara lain 1) Perhimpunan Pelakat, karya Raja Ali Kelana, bertahun 1307 H;  2) Kisah lblis Menghadap Nabi Muhammad, karya Haji Hasyim bin Haji Abdullah; 3) Syair Perkawinan Raja Muhammad Yusuf dengan Raja Zaleha, karya Raja Haji Ahmad, naskah dicetak tahun 1921; 4) Nayulu al Imani, karya Abdul Rahman bin Almarhum Ya‘kub, bertahun 1906; 5) Sejarah Adat Minangkabau, bertahun 1936, disalin oleh Abdul Latif pada tahun 1955; 6) Tambo Adat Minangkabau, tanpa tahun dan tanpa pengarang (dalam huruf Arab-Melayu); 7) Tambo Adat Mi­nangkabau, tanpa tahun dan tanpa pengarang (dalam huruf Latin); 8) Sejarah Islam Masuk ke Indonesia, tanpa pengarang, bertahun 1948; 9) Khutbah Jum‘at (berupa gulungan kertas panjang, tanpa tahun, tanpa pengarang, berbahasa Arab, dan berasal dari Kampar-Riau); 10) Syarth Raat Agama, bertahun 1923, dwibahasa (MelayuBelanda), disalin oleh Raden Poespadining­rat (mantan Jaksa Landroad Cilegon; 11) Cerita Oie Boie Hou Seorang Anak yang Bakti, disalin dari kitab Cina jilid 3 oleh Lim Soen Hin, bertahun 1905; 12) Riwayat Kerajaan Italian dan Abessinie Ethiopie karya M. Djamin, cetakan pertama tahun 1935; dan 13) Buku Masakan Betawi, bertahun 1923.

Perlu dijelaskan lagi bahwa setelah Kerajaan Riau-Lingga di­bubar­kan oleh Belanda, sebagian besar kitab karya pengarang atau ulama kerajaan tersebut berserakan. Beberapa pengarang, antara lain Raja Ali Kelana pindah ke Kerajaan Johor, sedangkan yang lain meninggalkan Pulau Penyengat karena alasan tertentu. Pada tahun 1923 rumah Raja Abdullah di Pulau Penyengat terba­kar. Raja Abdullah adalah pengarang Riau yang paling produktif selepas Raja Ali Haji. Kebakaran itu telah menghabiskan sekitar dua pertiga koleksi perpustakaannya. Dalam peristiwa ini, kitab Pengetahuan Bahasa karya Raja Ali Haji ikut terbakar dan yang se­lamat hanya sampai pada huruf ca. Kitab itu pernah diterbitkan tahun 1926.

Dari daerah Riau lainnya seperti Kampar, Rantau Kuantan, Siak, dan Indragiri masih mungkin ditemukan berbagai kitab kuno, baik yang berupa karya ulama atau pengarang Melayu mau­pun karya lain yang merupakan koleksi perpustakaan pri­badi. Mengenai kitab-kitab dari bahasa Arab agaknya yang terbanyak adalah khazanah Kutub Khanah Marhum Ahmadi. Sayang sekali, kitab-kitab itu agak terlambat diselamatkan, sehingga sulit un­tuk membuat daftar in­ven­ta­risasinya, karena sebagian besar ber­serakan tak beratur­an. Hasan Yunus, seorang budayawan dan pe­nulis Riau yang masih mempunyai hu­bungan darah dengan Raja-raja Riau, pada tahun 1981 berhasil men­catat 166 naskah kuno yang ada di masjid Pulau Penyengat dari 326 buah jumlah yang ada. Sayang, hasil catatan itu tidak disimpan baik, sedangkan Bidang Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan Kantor Wilayah Dekdikbud Provinsi Riau sebagai pihak yang mensponsori juga tidak menyiarkannya.

Usaha serupa sebenarnya juga pernah dilakukan pada tahun 1958-1959 dengan dukungan Gubernur Riau pertama, S. M. Amin. Pekerjaan tahun 1958-1959 itu telah dilakukan oleh para pemuka ma­syarakat di daerah Riau saat itu, terutama R.H. Muhammad Yunus, se­orang pengarang Riau, tokoh pendidikan, dan tokoh po­litik di ta­hun 1930-an, yang hasilnya menurut kete­rangan beberapa pihak men­capai 3 jilid setebal 1000 halaman. Catatan penelitian ini meliputi transkripsi, inventarisasi, serta berbagai keterangan tentang naskah-naskah itu. Namun, hingga saat ini hasil penelitian tersebut juga tidak dapat ditemukan.

Dengan memperhatikan berbagai tempat kegiatan ulama, cen­de­kiawan, dan para penulis Riau, kita juga dapat melihat semacam geo­grafi naskah kuno di Riau. Geografi daerah naskah kuno itu paling tidak meliputi tujuh daerah, yaitu Pulau Lingga, Pulau Penyengat Indra­­sakti, Singapura, Indragiri (Rengat, Sapat, dan Sungai Gergaji Reteh), Siak, Kampar, dan Ran­tau Kuantan. Dari geo­grafi tersebut tam­pak bahwa Singapura merupakan daerah yang cukup penting dalam sejarah naskah kuno Riau. Periode tahun 1920-an merupakan masa yang cukup cemerlang bagi per­kembangan naskah kuno Riau, karena percetakan Mathba‘at al Ahmadiah atau Al Ahmadiah Press yang di­di­rikan oleh keluarga Raja-raja Riau di pulau itu telah memainkan pe­ran penting, se­hingga dapat menjadi pusat ke­giatan cendekiawan Riau, setelah peran Pulau Penyengat makin surut sebagai pusat ke­giatan politik, agama, dan ilmu pengetahuan.

Bagi masyarakat Melayu di Riau, tanah Singapura merupakan negeri yang amat indah dalam perjalanan hidup mereka yang ka­rena kelicikan kolonial serta kelemahan politik orang Melayu, secara ironis jatuh ke tangan bangsa lain, sehingga menjadi kenangan tra­gedi dalam dunia Melayu. Menurut sejarah (seperti yang pernah dicatat oleh Tengku Bun Abubakar, seorang bu­dayawan Riau asal Daik Lingga yang berasal dari satu sumber), ketika Singapura resmi didirikan pada 5 Februari 1819 oleh Raffles, penduduk pulau tersebut terdiri dari 150 jiwa orang Melayu. Pada pembukaan awal itu, orang Melayu mem­­­bangun rumah beratap nipah, berdinding kajang, dan berlantai nibung. Tragedi sejarah berawal saat Raffles datang ke Pulau Tumasik itu pada 30 Januari 1819.

Pada tanggal 2 Februari 1819, dibuat perjanjian antara pihak Tu­­menggung Abubakar untuk membuat pelabuhan Singapura yang sekaligus dapat dipandang sebagai hari jadi negeri itu. Saat dilak­sanakan Perjanjian London yang berisi opsi untuk memilih daerah kekuasaan Belanda dan Inggris bagi kerajaan Melayu itu, penduduk Singapura diperkirakan sudah mencapai 10.683 jiwa. Saat itu orang Cina mulai masuk ke Singapura. Walau demikian, pihak kolonial (Be­landa dan Inggris) tetap meman­dang Singapura sebagai negeri orang Melayu, sehingga sejak 1 Januari 1829, mereka tetap memberikan ke­bebasan kepada orang Melayu di Riau untuk keluar masuk dan tinggal di Singapura. Dengan peluang itulah orang Melayu dari Riau bisa mempergu­nakan Singapura sebagai satu pusat kegiatan budaya Melayu dan pusat agama Islam.

Percetakan Al Ahmadiah Press berjaya dengan baik sampai ta­hun 1950-an. Sebelum terbentuknya Persekutuan Tanah Melayu (ga­bungan Malaysia dan Singapura sekarang), kontak dan hu­bungan an­tara cendekiawan Riau dengan Al Ahmadiah Press ma­sih cukup baik. Zakat percetakan ini masih sering dibagi-bagikan ke­pada orang Melayu di Pulau Penyengat. Akan tetapi, sejak Singapura berdiri se­bagai satu negara, percetakan atau penerbit yang pernah menjadi tulang punggung bagi cendekiawan Riau itu tidak pernah lagi dapat diharapkan.

Percetakan Al Ahmadiah Press merupakan satu badan yang cukup besar artinya bagi naskah kuno Riau, dalam arti pe­luang yang diberikannya kepada para cendekiawan Riau dan pa­ra penulis dari daerah lainnya. Sejumlah naskah kuno Riau tentu pernah menjadi kekayaan percetakan itu. Namun karena hubungan antara orang Me­­layu di Riau dengan pihak penerbit itu semakin terbatas, maka se­­­jumlah naskah kuno Riau yang pernah disimpan oleh Ahmadiah Press tidak dapat diselamatkan secara berarti. Sementara itu, ruang gerak percetakan itu di Singapura sendiri semakin terbatas karena pe­merintah Singa­pura tidak lagi memberi peluang yang berarti ke­pa­da budaya Melayu di negara itu. Dengan demikian, Singapura men­jadi negeri kenangan dunia Melayu, bagaikan negeri Andalusia yang men­jadi kenangan sedih orang-orang Islam.

4. Penutup

Bahasa telah menjadi satu pandangan filosofis dalam kegiatan cen­dekiawan Riau. Hal ini tentu tidak lepas dari budaya Islam yang me­reka teguk airnya, seperti ucapan seorang intelektual Islam, “kerusakan bangsa bisa dilihat dari kerusakan bahasanya”. Ber­kait dengan hal ini, Raja Ali Haji memberikan perbandingan yang lebih khas antara “pena” (ilmu pengetahuan yang berpadu dengan agama) dan “pedang” (kekuasaan dan kekuatan). Dalam pandangan ulama Riau yang cendekia ini, pena tetap lebih baik daripada pedang. Karena itu dalam mukadimah kitab Bustan al Katibin, beliau menuliskan untaian kata filosofis itu “segala pekerjaan pedang itu boleh dibuat dengan kalam; ada­pun pekerjaan kalam itu tiada boleh dibuat dengan pedang”. Ibarat itu nyata dalam “dan berapa ribu dari laksa pedang yang terhunus, dengan segores kalam jadi tersarung”.

Garis kebenaran itu terus direntang oleh para cendekiawan Riau berikutnya, karena kebenaran memang tidak akan pernah luntur oleh apapun juga. Penulis Riau yang paling produktif se­lepas Raja Ali Haji yang menyandang nama besar adalah Raja Abdullah alias Abu Muhammad Adnan, yang menyatakan bahwa bahasa adalah pendukung ilmu pengetahuan, dengan perlambang “bagaikan kuda yang bisa dikendarai untuk membuka berbagai rahasia”. Rangkaian kata-katanya dalam kitab tatabahasa Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah Diperhatikan sangat patut. Dia mengatakan arti bahasa bagi ilmu pengetahuan seperti berikut:

Adapun kemudian daripada itu, maka inilah suatu per­kumpulan yang ringkas dan dapat dipahami akan dia de­ngan jalan yang terlebih lekas, mudah-mudahan dapatlah yang menuntut itu me­metik bunga-bungaan pengetahuan di da­lam taman yang terlebih lega bagi orang-orang yang menun­tut tahu bahasa Melayu Riau-Lingga. Maka jika bersungguh-sungguh seseorang mema­hamkan akan dia, di dalam beberapa ketika dan waktu, maka tidaklah lain be­berapa hari, melainkan berlarilah kuda kendara­an­nya di dalam padang rahasia bahasa itu, insya Allah taala men­dapatlah ia pe­nge­tahuan yang tiada bernilai harga­nya.

Islam dan kebudayaannya telah hadir ke dalam kehidupan kaum cendekiawan Riau, memberikan semacam “petir tunggal” da­lam ke­bekuan, sehingga menjadi cemeti untuk mencairkan pikiran dan pe­­rasaan mereka. Karya tulis mereka tidak memilah agama dengan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, kebenaran wahyu (agama Islam) tetap menjadi rujukan akan kebenaran ilmu, meski­pun dalam batas-batas tertentu dua kebenaran itu seakan-akan tidak bersesuaian. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan dalam tingkah-laku dan perbuatan manusia, harus bisa ditimbang dengan kebenaran.

Hal itu telah diajukan Raja Ali Haji dalam karyanya Mukad­di­mah fil Intizam kepada para pe­nguasa Kerajaan Riau. Beliau me­ng­ungkapkan hal yang harus dilakukan oleh setiap negara atau kerajaan seperti berikut:

Bermula maksud kerajaan yang dikehendaki Allah Subha­nahu wa taala itu yaitu dua jalan. Pertama, karena memeli­harakan segala hamba Allah daripada jatuh mengiyai sete­ngah atas setengahnya daripada pertimbangan kesalahan dan kebenaran segala hamba Allah dan segala rakyat yang di bawah hukumnya dengan syariat Rasullullah Saw. Kedua, kerena jasa dan balas yang amat besar di dalam akhirat.

Oleh karena setiap negara dan kerajaan harus dijalankan atas kebenaran yang dikehendaki oleh pengendali alam raya ini, maka ambisi untuk memegang kekuasaan tidak menjadi suatu hal yang be­gitu menggoda. Beberapa raja dan bangsawan Riau telah mencoba beramal dengan mengambil Tarekat Naqsabandi, agar dapat meniti hidup saleh. Yang Dipertuan Muda Raja Haji Abdullah memandang ke­dudukan raja hanya sebagai tempat sementara, bukan tujuan dan tempat terakhir. Beliau pernah menegaskan bahwa apabila telah se­tahun dia menjalankan pemerintahan, dia akan berhenti, kemudian akan mencari tempat untuk beribadah.

Kreativitas yang dipandu oleh kebenaran ilahiah inilah yang me­nyebabkan para cendekiawan Riau tetap disegani oleh pihak ke­­rajaan. Mereka menyampaikan gagasan-gagasan dalam garis ke­­benaran me­lalui karya tulis mereka. Sementara itu mereka memandang moral sebagai satu syarat penting bagi seorang cendekiawan dan ulama. Dalam dunia intelektual Riau, bahkan dunia Melayu hari ini, ketiadaan moral bagi seorang cerdik pandai tak mungkin diterima. Dalam dunia Melayu, agama, kemampuan akal (intelek), kecerdikan (siasat), dan moral merupakan kategori-kategori yang harus dimiliki oleh se­orang cendekiawan. Naskah kuno daerah Riau, antara lain naskah terjemahan Badriah Mu­hammad Taher, Adab al Fatah memberi­kan amaran (peringatan) bahwa ilmu pengetahuan yang tinggi tanpa budi dari seseorang dapat memberi jalan baginya untuk melakukan kejahatan. Para penulis Riau telah lama melihat bahayanya kejahatan yang di­lakukan oleh kaum intelektual. Oleh karena itu, dalam kitab Bab al Qawaid ditegaskan bahwa, “...sekalian hakim polisi tiada boleh menilik ke kiri atau ke kanan (melainkan UUH), memejamkan matanya, mengikut dan menurut sepanjang kitab hukum ke­adilan adat syarak….  

Dengan membaca naskah-naskah kuno Riau, kita bisa melihat bagaimana para cendekiawan disegani oleh pihak pemegang ken­dali kerajaan, sementara pihak cendekiawan sendiri menghar­gai para pe­mimpin yang memegang tali teraju kekuasaan, karena mereka meng­­indahkan asas-asas yang telah ditetapkan oleh aga­ma seperti yang dikemukakan melalui berbagai kajian ilmu pe­ngetahuan. Aki­bat­­nya, baik pemimpin yang berkuasa maupun pe­mimpin dalam wu­jud cendekiawan, sama-sama mendapat tempat dalam kehidupan bermasyarakat. Orang tidak hanya dihargai atas omongannya, karena bualannya bisa menjadi jalan kejahatan bagi kehidupan bersama. Karena itu, perkumpulan cendekiawan Riau, Rusydiah Klub, baru me­mandang seorang anggota muda menjadi anggota teras bila dia telah mampu memperlihatkan paling kurang satu karya tulis. Manusia, per­tama harus dihargai atas karyanya, bukan atas bualannya.

lnilah faktor-faktor yang amat besar artinya untuk melahir­kan karya-karya tulis di Riau, yang sekarang bisa dipandang sebagai naskah kuno. Masjid Pulau Penyengat yang didirikan pada tahun 1832 ikut me­mainkan peran sebagai alat untuk kegiatan kaum cendekiawan dan para penulis Riau. Di halaman masjid itu telah dibangun dua gedung tambahan, satu gedung berfungsi sebagai tempat menginap para musafir yang kebanyak­an para ulama dan cendekiawan mus­lim, baik yang diundang maupun yang datang sendiri ke Riau. Bangunan satunya disediakan khusus sebagai tempat melakukan dis­kusi, muzakarah, dan pembahasan berbagai masalah agama, ilmu pengetahuan, dan kemasya­rakatan.

Dengan demikian, pintu kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat telah dibuka begitu rupa, sehingga pada tangan yang la­yak telah terwujud berbagai karya tulis yang amat berharga. Islam bagi mereka adalah sumber segala ide. Tiap pribadi, dalam bidang studi apa­pun, menyadari tugasnya, bahwa dia harus se­nantiasa me­­num­buhkan pemahaman yang segar tentang Islam. lnilah yang menye­bab­kan sebagian di antara mereka telah menjadi pribadi yang cukup besar pengaruhnya dalam mengemudikan hidup bermasyarakat.

----------ooOoo---------

____________________

Drs. U. U. Hamidy, MA., adalah staf pengajar Universitas Riau, lahir di Rantau Kuantan pada 17 Nopember 1943. Tahun 1970 lu­lus dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang dan me­nyelesaikan program masternya pada Fa­kul­tas Sastra dan Sains Sosial, University Malaya tahun 1981.

Beberapa karya ilmiahnya antara lain Bahasa Melayu Riau (1973), Riau Sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu (1981), Pengarang Riau dan Abdullah Munsyi (1981), Kedudukan Kebudayaan Melayu di Riau (1982), Sikap Orang Me­layu Terhadap Tradisinya di Riau (1982), Sistem Nilai Masyarakat Pedesaan (1982), Pembahasan Karya Fiksi dan Puisi (1983), Pengantar Kajian Drama (1983), Tradisi Kepenyairan di Indo­nesia (1984), Orang Patut (1985), Agama dan Kehidupan dalam Ce­rita Rakyat (1983), Membaca Kehidupan Orang Melayu (1986), dan lain sebagainya.

Beberapa penelitian yang dilakukan antara lain “Peranan Suku Banjar di Indragiri Hilir, Riau” (1981), “Dukun Rantau Kuantan” (1982), “Naskah Kuno Daerah Riau” (1982), “Rimba Kepungan Sialang” (1983), “Kasin Niro, Penyadap Enau Rantau Kuantan” (1983), “Transmigran Lokal di Riau” (1984), “Naskah Melayu Kuno Daerah Riau” (1985), “Kesusastraan Islam di Rantau Kuantan” (1985), “Syair Suluh Pegawai/Hukum Nikah” (1985–1986), dan lain-lain.

____________________

Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjungpinang, Riau, Indonesia, pada tanggal 17 – 21 Juli 1985. (Dengan penambahan hyperlink dari rajaalihaji.com)

Mengingat pentingnya makalah ini, Redaksi MelayuOnline.com memuat ulang dengan penyuntingan seperlunya.

Kumpulan makalah (prosiding) seminar ini telah dibukukan dengan judul “Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan”, dengan editor Prof. Dr. Heddy Shri Ahmisa-Putra, setelah dilakukan penyuntingan ulang pada klasifikasi dan urutan pada daftar isi, bahasa, maupun perubahan judul. Editor juga memberikan Wacana Pembuka dan Wacana Penutup serta Kata Pengantar pada setiap bagian. Diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Edisi Eksklusif (Hard Cover), 965 halaman.



Engku Putri merupakan salah seorang anggota keluarga Kerajaan Riau. Dia anak Raja Haji Fisabilillah (Marhum Teluk Ketapang, meninggal 1784 Masehi). Nama kecil Engku Putri adalah Raja Hamidah. Setelah meme­gang regalia Kerajaan Riau-Lingga, dia bergelar Engku Putri. Engku Putri adalah permaisuri Sultan Mahmud Syah III (1761–1812). Engku Putri menjadi bahan sebuah syair karena dia meru­pa­kan tokoh yang terpandang dalam kerajaan itu.

Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

 

Dibaca 5.158 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Artikel terkait