Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :50
Kemarin :260
Minggu kemarin:2.298
Bulan kemarin:9.556

Anda pengunjung ke 4.399.593
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Jum'ah, 06 Safar 1442 (Kamis, 24 September 2020)
 
11 Oktober 2008 03:59
Penyalinan Naskah Melayu di Palembang: Upaya Mengungkap Sejarah Penyalinan
Penyalinan Naskah Melayu di Palembang: Upaya Mengungkap Sejarah Penyalinan

Oleh : Maria Indra Rukmi

Abstract

In Palembang manuscripts are known to be available originating in the Palembang Palace as well as individual collection. This paper discusses the tradition of copying manuscript in Palembang, beginning with the historical background of Palembang, continuing with Malay manuscript copying in Palembang, and with a limited information on the content of the manuscript. Cultural diversity in Palembang where Javanese, Chinese, Arab elements are found, as well as those of the aristocrats and the common people, have impacted on the social lives of the people of Palembang. This diversity is reflected in the manuscripts that have been preserved, including those originating in the Palace, the Arab village, and the local residents.

1. Pendahuluan

Ada beberapa tempat di Nusantara yang dipandang sebagai pusat sastra Melayu, misalnya Riau, Jakarta, dan Palembang. Abad ke-19 merupakan masa keemasan penyalinan naskah Melayu. Waktu itu, Riau, khususnya Pulau Penyengat, merupakan pusat pemerintahan dan pusat kebudayaan Melayu. Kegiatan menulis dan mengarang dilakukan di Istana Pulau Penyengat oleh kerabat istana, seperti Engku Haji Ahmad dan anaknya, Raja Ali Haji, yang terkenal dengan karyanya Gurindam Dua Belas.

Selain kalangan istana, pemerintah kolonial juga merupakan pemrakarsa penyalinan naskah di Riau. Beberapa nama pejabat Belanda yang mempunyai peranan dalam hal ini adalah Von de Wall, Klinkert, C.P.C. Elout. Penyalinan naskah itu dilakukan untuk kepentingan pribadi dan pemerintah kolonial. Beberapa juru tulis yang bekerja di situ antara lain Haji Ibrahim, Encik Ismail, dan Encik Said.

Jakarta atau Betawi – tempo dulu – dikenal juga sebagai tempat penyalinan. Salah satu contoh tempat penyalinan adalah kantor pemerintah kolonial Belanda Algemeene Secretarie yang terletak di Rijswijk (jalan Veteran). Di tempat itu para juru tulis pribumi, seperti Muhamad Cing Saidullah, Muhamad Sulaiman, dan Abdul Hakim, menyalin naskah atas pesanan Belanda sebagai bahan pendidikan.

Di samping itu, tempat penyalinan dan persewaan naskah juga tersebar di kampung-kampung seperti Krukut, Pecenongan-gang Langgar Tinggi, Pasiwaran, Kampung Jawa, dan Kampung Bali. Salah satu penyalin yang juga pengarang adalah Muhamad Bakir, yang memiliki koleksi naskah yang banyak. Ia mencari nafkah dari naskah-naskahnya yang disewakan.

Palembang juga tercatat memiliki warisan budaya berupa naskah-naskah yang berasal dari Keraton Palembang dan milik perorangan. Tulisan ini memaparkan selintas tradisi penyalinan naskah di Palembang, mulai dari latar belakang sejarah daerah Palembang, penyalinan naskah Melayu di Palembang, hingga selintas informasi mengenai muatan naskah.

2. Latar Belakang Sejarah Palembang dan Kaitannya dengan Penyalinan Naskah Melayu

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahar`uddin tahun 1775 – 1804, keadaan perekonomian di Palembang baik karena ditopang oleh tambang timah dari Pulau Bangka dan ekspor lada. Situasi inilah yang membuat pelabuhan Palembang dilirik oleh para pedagang dari negeri lain seperti Arab dan Cina. Oleh karena Aceh telah memudar dari segi ekonomi, para pedagang mencari kemungkinan tempat lain, yaitu di Palembang (lihat Peeters 1997: 5-31 dan Van Sevenhoven 1823: 75 ).

Kedatangan orang-orang Arab dari Hadramaut membawa perubahan kehidupan sosial-budaya bagi masyarakat Palembang. Kedekatan sultan dengan orang-orang Arab sebagai mitra dagang menyebabkan mereka mendapat perlakuan yang khusus. Itulah sebabnya, makin lama jumlah mereka membengkak. Pendatang dari Hadramaut itu tinggal berkelompok di kampung-kampung Ulu dan Ilir Sungai Musi. Perkawinan orang-orang Arab dengan penduduk setempat ataupun kerabat keraton pun tidak terhindarkan.

Di antara orang Arab, yang menonjol adalah al-Munawar, yang tinggal di 13 Ulu; Assegaf di 16 Ulu; dan al-Mesawa di 14 Ulu. Di samping itu, mereka juga memiliki markas besar al-Habsyi di 8 Ilir; Barakah di 7 Ulu; al-Jufri di 15 Ulu; serta Alkaf di 8 Ilir dan 10 Ulu. Pada paruh kedua abad ke-19 mereka menjadi kelompok elite Arab di Palembang. Masyarakat Arab di sana kebanyakan anggota Ba`alawi, yang menelusuri garis keturunan mereka dari Nabi Muhammad melalui cucunya, Husain. Kedudukan para Alawiyin, dengan sapaan sayid, dipandang tinggi dalam masyarakat Palembang dan juga sebagai orang yang suci.

Para saudagar Arab dan sayid itulah yang mempunyai pengaruh besar dalam proses pengislaman masyarakat Palembang, di samping Sultan Palembang sendiri. Agama Islam tampaknya mempunyai kedudukan penting dan erat berhubungan dengan Keraton Palembang yang menganut budaya Jawa. Ini terlihat pada birokrasi agama di lingkungan istana pada masa kesultanan; para pejabat itu berasal dari keluarga sultan dengan gelar Pangeran Penghulu Nata Agama. Waktu itu, Masjid Agung yang terletak di belakang Keraton adalah satu-satunya masjid di Palembang, yang didirikan di atas tanah wakaf Sultan Palembang. Ketika ada upacara keagamaan, para pangeran itulah yang bertanggung jawab atas segala pelaksanaannya.

Situasi menjadi berubah ketika tahun 1821 terjadi perebutan Keraton Palembang oleh pemerintah kolonial Belanda. Sejak saat itu, secara berangsur-angsur peran sultan dan para bangsawan merosot, karena Keraton pun ikut dilenyapkan, dan pemerintah kolonial kemudian yang mengambil alih kekuasaan. Berkaitan dengan kegiatan penyalinan naskah, dapat dibuktikan bahwa Keraton Palembang juga menghasikan naskah-naskah yang penulisannya atas perintah sultan, dan ada yang dikarang oleh Sultan Mahmud Badaruddin. Perpustakaan di lingkungan Keraton menyimpan beragam naskah. Keruntuhan Keraton Palembang menyebabkan naskah tercerai-berai, jatuh ke tangan berbagai kalangan masyarakat (lihat Woelders 1975, Drewes 1977, dan Iskandar 1986).

Gaya kehidupan para sayid semakin eksklusif setelah terjadi pergantian kekuasaan. Antara lain mereka memesan buku-buku dari Mesir, Istanbul, Irak, dan memiliki naskah bahasa Arab, Parsi, dan Melayu. Kualitas perekonomian semakin meningkat sehingga para saudagar yang kaya tidak segan-segan memberikan modal dagang kepada penduduk setempat asalkan mau memeluk agama Islam. Untuk menunjang kegiatan pelajaran agama mereka mendirikan masjid-masjid di sekitar perkampungan Arab tempat kediamannya (Peeters 1997: 17-18).

3. Pengarang, Penyalin, dan Tempat Penyalinan Naskah

Adanya keragaman budaya Palembang bercampur dengan Jawa, Arab, Cina, serta adanya lapisan sosial kelompok bangsawan dan masyarakat biasa itulah yang mewarnai kehidupan sosial penduduk Palembang. Hal itu tercermin dari naskah-naskah yang masih dapat diselamatkan, baik yang berasal dari lingkungan Keraton, perkampungan Arab, maupun penduduk setempat. Sebagian naskah dari Keraton kini ada yang disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta. Hikayat Martalaya (PN Ml. 5), yang isinya bersifat sejarah, adalah karangan Sultan Mahmud Badaruddin; Syair Nuri (PN Ml. 8) juga gubahan Sultan Mahmud Badaruddin. Adik Sultan Mahmud Badaruddin, yaitu Panembahan Bupati, menggubah Syair Patut Delapan (PN Ml. 9) dan Syair Kembang Air Mawar (PN Ml. 10) (Iskandar 1996: 432— 433).

Kolofon yang berbentuk syair pada naskah Khawwaasu al-Qur`aan (PN Ml. 75) demikian bunyinya (Sutyani 2000),

Sahibul kitab paduka seri sultan
Ratu Ahmad Najamudin al-Sultan
Mahmud Badarudin Palimbani
yang termashur beroleh, kesempurnaan

Zamannya yang duduk di atas kerajaan
negeri Palembang sudah berapa zaman
dengan karenanya Tuhan malikul iman
menjadilah negeri beroleh aman

Daripada banyak berbuat yang ihsan
memberi manfaat pada segala insan
menjadi pada beroleh kesukaan
bertambah berkait khasyiat Alquran

Dikarena itulah kerajaan ini
menyuruh hamba menyurat kitab ini
yang bernama kitab Khawwaasu Qur`aan
kepada Kiai Kemas Fakhrudin

Pada naskah Kitab Mukhtasar (PN Ml. 120), ada pernyataan bahwa yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu adalah Kemas Fakhrudin yang tinggal di Palembang Darussalam.

Kolofon naskah Seribu Masa`il (PN Ml. 667 dad W. 8) menjelaskan demikian, "Hikayat kitab seribu masalah di dalamnya ini yang punya saya Kiagus Muhammad Mizan ibnu al-Faqir al-`aqiir ilaa Allaah Ta`aalaa Kiagus Haji Khatib Thaha fii balad Palembang Kampung Surah 30 Ilir adanya." Selain sebagai pemilik, nama tersebut juga yang menyurat Seribu Masa`il.

Yang berkaitan dengan penyebaran tarikat di Palembang adalah Hikayat Manaaqib Muhammad Sammaan (PN Ml. 828), yang pada akhir teksnya terdapat pernyataan bahwa yang menghimpun risalat itu adalah Muhammad bin Ahmad Kemas di Palembang. Naskah lainnya adalah `Ariiqah yang Dibangsakan kepada Qaadiriyyah dan Naqsyabandiyyah (PN Ml. 149), yang di dalamnya terselip kertas yang menjelaskan bahwa pengarangnya adalah Ahmad bin Khatib Abdul Ghaffar dan penyalinnya adalah Muhammad Ma`ruf bin Abdullah Khatib Palembang.

Dalam Sejarah Pasemah (PN Ml. 234) terdapat catatan yang menyatakan bahwa, "Salinan dari buku orang yang menjadikan jagat Pasemah dari kitab orang Tanah Pilih marga Sumbai Ulu Lura Benua Keling yaitu Pangeran nama Somadil Dusun Tanah Pilih disalin oleh saya Muhammad Taijib magang di kantor Bandar Pasemah 25 Januari 1882."

Kemudian juga ada catatan pada akhir naskah, "Menyalin ini buku pada 20 November 1898 yang punya saya Muhammad Arip." Tampaknya naskah ini telah disalin kembali setelah tahun 1882, dan mungkin pula berganti pemilik.

Kratz (1980) pernah membicarakan adanya persewaan naskah di Palembang. Salah satu contoh naskah yang beredar waktu itu adalah Pandawa Lebur (PN Ml. 514). Kolofonnya menjelaskan bahwa pemiliknya bernama "Mohammad Sapei bin Mohammad Saleh Kampung 9 Ulu Palembang, barang siapa memakai hikayat ini harap baik-baik memelihara jangan sampai cacat atau koyak, banyaknya 138 lembar. Palembang, 1906." Kemudian, masih ada tambahan informasi orang-orang yang menyewa naskah (Sutyani 2000).

Adalah saya nama Tuhar Sudu
sewa Hikayat Pandawa Lebur ada 2 malam
tarif tahu adanya di Palembang kepada 20 Sawal 1329

Yang menarik dari naskah ini adalah sampulnya dari kulit binatang. Biasanya ini menandakan bahwa naskah ini milik istana, karena bahan tersebut didatangkan dari luar negeri. Ini berarti bahwa naskah sudah berganti pemilik sebelum menjadi koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta.

Contoh lain naskah yang disewakan adalah Hikayat Tumenggung Ariwongso (PN Ml. 516). Pada bagian awal tertulis, "Kemas Ali bin Kemas Hasan Kampung 7 Ulu, kalau mau sewa boleh datang saya punya rumah, sewanya 10 sen." Sampul naskah ini juga dari kulit binatang, bertekstur, dan berwarna merah. Tampaknya ketika keraton runtuh, naskah yang tercerai-berai bisa jatuh ke tangan penduduk di perkampungan. Ini berarti mereka juga memiliki minat untuk membaca, seperti halnya orang di lingkungan keraton.

Kisah Pandawa Lima merupakan cerita yang populer. Naskah bernomor PN Ml. 508 terdiri atas dua teks. Kolofonnya adalah sebagai berikut.

Alamat hikayat Kiagus Haji Agus bin Kiagus Abang
Kampung 2 Ulu Perigi Kecil
dapat beli sama orang Cina nama Baci
Kampung 4 Ulu adanya
tanggal 15 Jumadil Awal 1337.

Selanjutnya teks kedua kolofonnya adalah sebagai berikut:

Tamat kepada tanggal tiga bulan Jumadail awal,
malam Ahad jam setengnh dua adanya,
pada tanggal tahun 1336 adanya,
Maka adalah yang mengarang ini yaitu Kemas Ahmad
pada Kampung Ulu adanya.

Naskah `Atiyyah ar-Rahmaan (AS 3) isinya mengenai ilmu kalam, terdapat kolofon, ":..tamatlah sudah Masagus Abdul Aziz menuruni kitab sattin ini serta kitab bab al-haji kepada tiga puluh hari bulan Zulqa`idah kepada malam Jumat pada waktu jam pukul sepuluh kepada tahun seribu dua ratus tujuh puluh lima."

Selain itu, terdapat catatan di luar teks yang menyatakan bahwa naskah ini disewakan oleh pemiliknya, "Alamat kitab `Atiyyah ar-Rahmaan yang empunya Nyimas Anak binti Kemas Haji Abang al-Jawi Palembang di dalam Kampung Sepuluh Sembillan Ilir dekat masjid. Barang siapa meminjamnya minta pulangkan segera kepada sebab payah menyuratnya dan jikalau Tuan yang membacanya jangan dekat pelita sebab kalu kena minyak adanya."

Yang menaruh minat pada naskah tidak hanya orang Palembang atau orang Arab, tetapi juga orang Cina. Masih mengenai Hikayat Pandawa Lima, naskah ini juga ditemukan dalam penelitian baru-baru ini (Tim Yanassa 2003), ada yang dimiliki oleh salah seorang pemilik naskah Palembang, yaitu R.M.H. Akib (alm.) yang masih memiliki hubungan kerabat dengan kesultanan. Naskahnya ratusan halaman dan juga memiliki iluminasi yang bagus.

Adanya 11 naskah koleksi Brandes, yang disatukan dalam satu nomor (PN Ml. 608/ Br.157) menunjukkan bahwa penyalinan naskah Palembang juga diprakarsai oleh pejabat pemerintah Belanda. Menurut Behrend (1998: xvi), sewaktu menjabat sebagai kepala koleksi Btaviaasch Genootschap, Brandes menyuruh pegawainya menyalin naskah yang sulit dibaca supaya dapat dijangkau oleh lingkungan sarjana. Naskah Melayu itu disalin dalam tulisan latin. Judulnya antara lain Syair Residen de Brauw, Surat Asal Orang Menjadikan Jagat Pasumah, dan Pasumah Palembang. Beberapa dari naskah itu menyebutkan Raden Muhammad Akil sebagai penyalin naskah (Sutyani 2000).

4. Naskah Koleksi Perorangan

Beragam naskah Palembang yang diuraikan di atas disimpan dengan baik di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Oleh karena itulah, kita dapat memperoleh gambaran mengenai skriptorium Melayu di Palembang, yang terpencar mulai dari lingkungan Keraton sampai ke perkampungan Ulu dan Ilir. Pembicaraan yang terakhir adalah tentang naskah-naskah koleksi perorangan yang keadaannya banyak yang sudah rusak. Untuk merawatnya, diperlukan pengetahuan dan dana yang cukup banyak. Informasi ini diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh tim Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa), dibantu oleh anggota masyarakat Palembang sendiri pada tahun 2003, yang membuktikan adanya ratusan naskah yang masih tersebar di perkampungan Palembang.

Dari koleksi naskah keturunan Sultan Mahmud Badaruddin, yaitu Raden Haji Muhammad Syafei Prabu Diraja, yang sekarang bergelar Sultan Mahmud Badaruddin III, antara lain adalah naskah Rukun Islam (MSPN 32). Pada bagian awal naskah tersebut terdapat catatan, "Alamat kitab Sri Paduka Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin ibn Sri Paduka Sultan Muhammad Bahauddin fi balad Palembang Dar as-Salam, amin." Pada bagian bawah tertulis, "Disuratnya Kiai penghulu orang mta-r-d-r.” Pada halaman akhir terdapat catatan, "Sanah 1281 sehari bulan Rajab pada malam Ahad jam pukul sembilan masa itulah zahir Sri Paduka Susuhunan Mahmud Badaruddin. Sanah 1264 pada empat betas hari bulan Safar hari Jumat pada bulan terbit matahari masa itulah dapat Sri Paduka Susuhunan Mahmud."

Ada pula teks Hikayat Syekh Saman (MSPN 5) yang disalin di Palembang pada hari Kamis, Jumadil Akhir 1301 H (Maret 1883 M). Di dalam MSPN 5 juga terdapat teks Doa Tawasul berbahasa Arab.

Naskah lainnya adalah Sifat Dua Puluh (MSPN 13) yang ditulis pada 1326 H, hari Rabu, pukul 08.00, yang juga menyertakan catatan nama dan alamat, yaitu Rd. Abdullah bin Rd. Muhammad Yasin bin Rd Mahmuddin, Kampung 28 Ilir, Palembang.

Cap milik Sultan Badaruddin (MSPN 2) yang dibuat dari logam kuningan masih tersimpan dengan baik bertuliskan, "Khaliifatu al-mu`miniin Susuhunan Ratu Muhammad Badaruddin ibn Sultan Muhammad Bahauddin fii balad Palembang Dar as-Salam, Hijrat Nabi Sallaa Allaahu `alaihi wa sallam alf wa mi`atain arba`in wa falaafin sanah 8642."

Naskah Surat Tarasul (MSPN 27) pada bagian awal memuat catatan, "Ini Surat Tarasul yang empunya Tuan Haji Mahmud bin Haji Abdul Muhammad." Kemudian terdapat catatan di bagian akhir bahwa naskah ini telah diberikan kepada Raden Prabu Zainuddin Abdul Habib Palembang. Akan tetapi, sebenarnya naskah ini disalin tidak di Palembang, yang tertandai dari bunyi kolofonnya, "Surat ini di dalam Bandar Negeri Singapura Kampung Sumbawa di belakang masjid Encik Fatimah Riau, wa katabahu al-faqiir ila Allaahi Ta`aalaa al-Jaawii al-Palimbanii yafisyahu Allaahu Ta`aalaa flu ad-diin gamin yaa Rabb al-aalamiin bitaarikh 1274 tahun 1857."

Kebiasaan menulis catatan harian di lingkungan kesultanan merupakan hal yang menarik sebagaimana yang terlihat dari Catatan Harian (MSPN 3), yang di dalamnya tertulis catatan,

Ini milik Raden Syarif bin Paduka Raden Haji Abdullah Habib bin Martina, Paduka Syarif ibn Haji Prabudari tujuh Abdullah bin marhum Sri Paduka Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin ibn marhum Sri Paduka Sultan Mahmud Bahauddin ibn marhum Sri Paduka Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin ibn marhum Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin ibn marhun Sri Paduka Sultan Mahmud Mansur ibn marhum Sri Paduka Sultan Susuhunan Abdurrahman sekalian mereka itu di atas tahta kerajaan di dalam negeri Palembang.

Kegiatan para raden, yang dimulai dengan kelahiran atau perjalanan ke tempat lain seperti Gresik, dicatat dengan hari dan tanggalnya. Catatan harian milik Raden Haji Abdul Habib (MSPN 4), keturunan Sultan Mahmud Badaruddin, ada yang ditulis di Singapura, yang isinya antara lain memuat waktu kelahiran, kematian, dan tempat kubur Raden Ayu Zubaedah. Penanggalan dalam naskah catatan harian Raden Abdul Habib bertahun 1860. Akan tetapi, tampaknya ada kesinambungan dalam penyalinan naskah berupa catatan harian sesudah abad ke-19, yang terlihat pada naskah Catatan Perkawinan (AS 7): peristiwa perkawinan di Palembang yang berkisar tahun 1951 -1953 dicatat di dalamnya. Naskah ini berisikan daftar orang yang dinikahkan oleh Kemas Haji Ismail Umari, di Kampung 19 Ilir, Palembang, pemilik catatan ini. Naskah yang tanpa tahun, tetapi di dalamnya tercatat peristiwa pada tahun 1900-an, adalah Catatan Perjalanan ke Gunung Tangkuban Perahu (RMA 6), yang berisikan perjalanan anak-anak sekolah sewaktu libur dari Bandung ke Lembang menuju ke gunung.

Alquran yang beriluminasi tinta emas bervariasi tinta merah dan biru serta hiasan motif bunga dikoleksi oleh Perpustakaan Nasional (MSPN 2). Di dalamnya terdapat dua catatan. Catatan yang pertama menjelaskan, "Ini Paduka Pangeran Bupati bin Paduka Susuhunan Mahmud Badaruddin fi Palembang." Catatan yang kedua menjelaskan, "Sudah diberikan Paduka Pangeran Prabu ...kepada anaknya Raden Abdul al Habib masa di Ternate."

Pemilik naskah lain yang juga kerabat sultan adalah R.M.H. Akib (alm.). Naskah koleksinya ada yang berupa Surat Sultan Badaruddin II (RMA 4) Yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Raad van Indie. Isi surat menyatakan bahwa Sultan telah mengirimkan 150 pikul lada hitam, 20 pikul lada putih, 40 pikul timah putih, dua pikul lilin, 2000 pikul gambir, dua kepala gading, papan embelu 4 keping, sepasang tikar rotan, 2 keping papan embelu, tongkat torat berkepala emas. Tanggal yang dimuat dalam surat itu adalah "Palembang, 13 bulan Rabiul Awal, hari Arba`a pukul lima tarikh as-sanat 1224".

K.M.S. H. Andi Syarifuddin memiliki Perpustakaan Umariyah, yang terletak di kawasan 11, samping masjid Sultan, 19 Ilir, Palembang. Rumah itu dulu milik kakeknya; ia mewarisi naskah-naskah dari kakeknya. Koleksi naskahnya cukup banyak, umumnya teks keagamaan dan surat. Kakeknya bernama Tuan Guru Kemas Haji Umar; kerabat Sultan ini juga seorang khatib dan qadi.

Naskah Kitab Maulid Syaraf Al-Anaam (AS 2) ada dua di perpustakaan itu. Teks pertama disalin oleh Lanang bin Abdul Majid, di 37 Ilir Palembang, pada tahun 1269 H atau 1852 M. Naskah yang kedua (AS 23) disalin oleh Haji Zen Bangsawan di Kampung 15 Ilir, Palembang, tanpa tahun. Naskah ini dijilid dengan kulit binatang; naskah dengan sampul yang mahal seperti ini biasanya berasal dari lingkungan keraton.

Kebiasaan menulis surat dengan tulisan Arab dan berbahasa Arab atau Melayu tampaknya banyak dilakukan oleh masyarakat Palembang. Selain surat-surat Sultan, juga ditemukan surat-surat penduduk kampung yang isinya bersifat kekeluargaan. Banyak surat dikirim dari Mekah ke Palembang atau, sebaliknya, dari Palembang ke Mekah. Pengirim surat dari Mekah ada yang sedang menunaikan ibadah haji atau sedang menuntut ilmu di sana. Sebagai contoh adalah naskah surat Kemas Haji Umar bin Kemas Haji Abdurrahman di 19 Ilir, Palembang (AS 3). Surat itu ditujukan kepada Haji Abdul Hamid bin Haji Muhammad Yasin di Mekah. Isinya menyatakan bahwa ia minta didoakan dari tempat-tempat suci yang mustajab di Mekah dan ia memberitahukan telah mengirimkan uang untuk membeli sapi atau kambing sebagai aqiqah.

Surat dari Ahmad Badruddin dan kawan-kawan (AS 5) untuk Tuan Guru Kemas Haji Umar, 19 Ilir, Palembang, isinya mengabarkan bahwa mereka telah sampai di Mekah dengan selamat dan mengucapkan selamat berkenaan datangnya bulan Ramadan yang penuh berkah.

Waktu penulisan surat terlihat ada yang dari tahun 1831, 1835, 1836, 1843, tetapi ada pula surat yang ditulis pada tahun 1931, yaitu naskah Surat Abdullah Amin (AS 10), yang penulisnya sedang belajar di Mekah dan mengirimkan surat kepada Tuan Guru Haji Kemas Amir, di Kampung Wara Ilir, Palembang. Isinya sekedar memberi kabar selamat. Fakta ini memperlihatkan bahwa tampaknya kegiatan penyalinan naskah masih berlanjut sampai abad ke-20.

Dalam Syair Inu Kertapati (AS 4) terdapat catatan yang menyebutkan nama-nama pemilik naskah itu demikian, "Ini sair yang empunya Nyimas Fatima binti Kemas Haji Amak istri Kiagus Haji Ung yang Kampung 19 Ilir yang empunya ini syair Najamudin."

Masih dari Kampung 19 Ilir, dalam naskah Matnu Ad-Daurah (AS 11) kolofonnya demikian, "Ditulis pada empat hari bulan Jumadil Akhir hari Isnin jam dua tahun 1293 Hijriyah katabahu al-faqir Ki Agus Haji Abd al-Shamad bin Ki Agus Haji Shadar yang ditulis di Kampung 19 Ilir."

Dalam naskah cetak (AS 55) yang berjudul Syair Perang Menteng 1819-1821 terdapat satu teks lain, yaitu Syair Siti Haris Fadilah. Naskah ini berasal dari lingkungan istana, seperti terlihat dari sampulnya yang terbuat dari kulit bermotifkan sulur. Kolofon dari naskah ini menarik, karena di dalamnya diperinci waktu, tempat dan orang yang terlibat dalam pencetakan naskah itu, "Setelah khatamlah Syair Haris Fadilah dicap di atas batu di dalam bandar negeri Singapura, daerah Kampung Gelam, di rumah sewa Imam Fakir Abdul Jalil kepada dua Jumadil Akhir hari Jumat jam pukul tiga petang dewasa itulah. Tamatnya sanat 1283 yang empunya cap Encik Lung tukang buku, yang menyuratnya Tengku Raden Ali bin Tengku Raden Muhammad, yang mengecapnya Encik Abdurrachman bin Abdussamad adanya. Tamat."

Pemilik naskah lain adalah yang berasal dari perkampungan Arab, sehingga bukan hal yang mustahil bila di tempat ini juga ada kegiatan penyalinan naskah. Seperti diuraikan dalam latar belakang pada bagian awal, mereka mendirikan masjid di sekitar tempat kediaman, selain untuk beribadah juga untuk kegiatan belajar agama. Banyak pengarang dari Palembang yang menghasilkan naskah keagamaan, seperti Abdussamad al-Palembani, Syihabuddin, Muhammad Muhyiddin, dan Kemas Fakhruddin. Masa kejayaan orang-orang Arab di Palembang yang sukses di bidang perdagangan sudah berlalu. Kini rumah-rumah di perkampungan Arab tampak tidak terlalu terawat dan umumnya pemilik naskah sudah tua. Naskah pun juga banyak yang sudah rusak.

Di samping yang telah disebut di atas, terdapat pula beberapa nama lain, yaitu Said Alwi Assegaf di Lorong BBC 12 Ulu, Alwi Habib Baasin, Haji Ahmad Fauzi di 5 Ulu Laut 415, Alwi bin Ahmad Ba`asin, keluarganya mendirikan Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Darul Aitam.

Habib Ahmad Al-Habsyi (alm.), yang tinggal di lorong BBC 12 Ulu, mewariskan naskahnya pada cucunya, Said Alwi Assegaf. Koleksi naskah keagamaan itu dulu dipakai oleh orang-orang yang berkumpul di rumahnya untuk memperdalam agama. Naskah Ilmu Fikih memiliki ketebalan 400 halaman, berbahasa Arab dan Melayu. Lembar halaman depan bertanggal 1278 merupakan milik Ali bin Umar Syekh bin Hasan bin Abdurrahman al-Habsyi, dan penulisnya adalah Muhammad Arsyad dari Banjar (Muhammad Arsyad al-Banjari). Sampul naskah ini terbuat dari kulit bertatahkan emas dan berpenutup (flap). Kolofonnya demikian, "Inilah kitab al-faqir ilaa Allaahi Ta`aalaa sayyidu asy-syarii fi Umar ibnaina al-marsuumi as-Sayyidi asy-Syariifi Sayaikhi bin Hasan bin "Abdi ar-Rahmaani al-Habsyi al-`Alawii `afaa Allahu `anhum aamina. Tamma."

Ilmu al-Faraid (AAB 9) adalah salah satu naskah berbahasa Arab milik Alwi bin Ahmad Ba`asin atau biasa disebut Mualim Nang, yang kini diwarisi oleh Ali bin Ahmad. Kepemilikan naskah ini mengalami pergantian sebagaimana yang terlihat pada tulisan pada halaman awal. Naskah ini pada mulanya dimiliki oleh Abdullah bin Hasan al-Habsyi, di situ tertera capnya. Kemudian naskah pindah ke tangan Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurahman al-Munawar al-Segaf pada tanggal 18 Rabi`ul Awwal 1274 H (Oktober 1857).

Naskah Bunga Rampai Kehidupan Beragama (RP 7) berbahasa Arab dan berisikan tiga teks. Teks yang pertama berisikan cara mengatasi persoalan dalam pengalaman agama, selesai ditulis oleh Muhammad Azhari al-Jawi pada tanggal 24 Rajab tahun 1240 H. Teks yang kedua mengenai cara mengatasi persoalan hidup, selesai ditulis pada hari Sabtu, 19 Zulhijah tahun 1250 H, oleh Abdullah bin Muhammad Saleh. Teks yang ketiga memuat pokok-pokok agama sebagai landasan hidup, ditulis pada hari Senin bulan Rajab 1252 H.

Dari koleksi naskah Nyimas Laili Yulita, putri sulutig Nyimas Ayu, yang memperoleh naskah dari neneknya, Hajah Siti Hawa (83 tahun), terdapat naskah Ma`na Maulud (NLY 3). Pada halaman depan naskah tertulis bahwa kitab ini dinamakan kitab Ma`na Maulud, yang dimiliki oleh Nyai Kampung Dua Pulu Delapan Air Ilir, Sungai Tawar.

Koleksi naskah lain ada yang berbentuk syair, yaitu naskah cetakan (litografi) Syair Cendawan Putih (NLY 3). Syair ini pada masa lampau biasa dinyanyikan oleh Hajah Siti Hawa di depan orang-orang yang berkumpul pada peringatan hari kelahiran atau acara keluarga. Tampaknya syair ini khas karya sastra Palembang, meskipun ada pengaruh Jawa. Ini terlihat dari isinya yang menceritakan kehidupan kerajaan di tanah Jawa. Awal teks ini adalah sebagai berikut.

”Syair Cendawan Putih
Dengarkan Tuan suatu cerita
ceritanya Jawa tanah Indra
kerajaan besar tiada terkira
namanya Raja Kumala Putra

Beberapa menteri hulubalang di bawanya
rakyat tentara sangat ramainya
seratus negeri takluk kepadanya
termasyhur warta pada masanya."

Selain syair tersebut, juga ada syair lain yang dimiliki Hajah Siti Hawa, yaitu Syair Abdul Muluk (NLY 2), Syair Siti Zubaidah(NLY 7). Koleksi syair dalam bentuk naskah yang tercetak ini dibeli oleh Hajah Siti Hawa di suatu toko dengan harga yang sangat mahal menurut ukuran tempo dulu. Naskah cetakan ada yang dicetak di Singapura, Mekah, Kairo, dan Bombay.

Masih berkaitan dengan syair, dapat dikatakan bahwa bentuk syair adalah ungkapan pikiran atau perasaan yang populer dalam masyarakat Melayu. Sebagai contoh Syair Johan Malikan koleksi Muhammad Jufri Cek Jon (MJ 6), yang dicetak di Bombay, dikenal di Palembang. Hikayat Puteri Johar Manikam, demikian judulnya sebagai bentuk prosa, disalin di Jakarta oleh Muhammad Cing Saidullah, juru tulis Melayu yang bekerja untuk pemerintah Belanda.

Yang menarik dari Syair Johan Malikan adalah bagian akhir teks, yaitu catatan yang dimaksudkan untuk mengiklankan naskah ini, sebagaimana berikut.

"Harganya murah ayuhai akhwam
tawar menawar boleh ketahuan
tiadalah tinggi wahai bangsawan
dengan yang patut Tuan tawarkan

Adat berniaga demikian itulah
tawar menawar bukannya salah
dengan yang patut Tuan khabarlah
dapat ta`dapat dicobakanlah"

Museum Balaputra Dewa juga menyimpan naskah-naskah Melayu, antara lain ada yang berupa syair, yaitu Syair Jaya Sempurna (BD 5). Kolofon pada halaman pertama adalah sebagai berikut, "Dikarang oleh Abu Bakar al-Kaf tiada diberikan seorang pun mengecapi atau mengurangi atau menambahi melainkan dengan izin pengarangnya. Cetak yang kedua 1341 oleh Hudaba`at al-Sidi Ali al-Samawi, Pasar Serta Palembang."

Pada awal teks tertulis seperti ini, "Ini syair bernama Jaya Sempurna dikarang oleh B bin J. Mudah-mudahan diampuni Allah bagi pengarangnya dan ayah-bundanya bagi yang membacanya, dan mendengarnya, dan yang suka padanya. Tamma."

5. Kesimpulan

Penelitian sanggar penyalinan dapat mengungkapkan sejarah penyalinan naskah Melayu yang hidup di Palembang pada masa yang lampau. Selain itu, melalui penelitian ini juga dapat dilihat keterkaitan antara tradisi lisan dan tulis. Sebagai contoh, Syair Johan Malikan pada masa kini juga dikisahkan dalam pentas ketoprak humor di televisi dengan nama Putri Johar Manik.

Awal naskah cerita Pak Belalang memuat pernyataan dari Haji Ibrahim penyalinnya sebagai berikut-sebelumnya cerita itu adalah cerita lisan yang belum pernah ditulis.

"Make inilah bidal Melayu yang diambil ibarat dari nama bapak si Belalang... maka cerita ini belum seorang pun yang menyuratkan maka hal keadaannya amat masyhur di tanah Melayu, di dalam Riau dan Lingga… maka sekarang sangat maksud seorang sahabatku paduka Tuan Von de Wall yang mencari dengan bersungguh-sungguh akan bahasa Melayu yang terus apalagi yang dibuat bidal…. dalam bahasa Melayu... pada masanya di negri Johor dan Pahang, Riau dan Lingga. Maka dengan sebab itu aku suratkan, maka hal kendaanku bukan ahli sekali-sekali membuat hikayat…”

Kisah Pak Belalang kini juga ada yang berbentuk CD dengan judul Nujum Pak Belalang, di bawah lisensi SV Production SDN, BHD. Jadi, selama masih ada masyarakat pendukungnya, karya sastra lama masih tetap ada.

Daftar Pustaka

  • Behrend, T.E., 1993. "Manuscript Production in Nineteenth-Century Java. Codicology and The Writing of Javanese Literary History", dalam BKI 149: Journal of The Royal Institute of Linguistic and Anthropology.
  • Hanafiah, Djohan, 1989. Kuto Besak: Upaya Kesultanan Palembang Menegakkan Kemerdekaan. Jakarta: CVH Masagung.
  • -------, 1995. Melayu Jawa: Citra Budaya dan Sejarah Palembang. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Iskandar, Teuku, 1996. Kesusastraan Melayu Klasik Sepanjang Abad. Jakarta: Libra.
  • Kratz, E.U., 1981. "Running a Lending Library in Palembang in 1886 AD", dalam Indonesia Circle 14.
  • Mu`jizah dan Maria Indra Rukmi, 1998. "Penelusuran Penyalinan Naskah-Naskah Riau Abad XIX: Sebuah Kajian Kodikologi". Jakarta: Program Penggalakan Kajian Sumber-Sumber Tertulis Nusantara Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  • Peeters, Jeroen,  1997. Kaum Tuo-Kaum Mudo Perubahan Religius di Palembang. Jakarta: INIS.
  • Plomp, M., 1993. "Traditional Binding from Indonesia Materials", dalam BKI 149: Journal of the Royal Institute of Linguistic and Anthropology.
  • Rukmi, Maria Indra, 1997. Penyalinan Naskah Melayu di Jakarta pada Abad XIX Naskah Algemeene Secretnrie Kajian dari Segi Kodikologi. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  • Steenbrink, Karel A., 1984. Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19. Jakarta: Bulan Bintang.
  • Sutyani, Titut, 2000. "Naskah Palembang Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Sebuah Tinjauan Kodikologis". Skripsi tidak diterbitkan. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  • Woelders, M.O., 1975. "Het Sultanaat Palembang 1811-1825", VK1 72. `s-Gravenhage.

______________________

Artikel ini telah disajikan dalam Seminar Internasional Naskah, Tradisi Lisan, dan Sejarah, yang diselenggarakan atas kerja sama Akademi Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), pada tanggal 28 Juli 2005 di FIB-UI Depok, dan telah dimuat dalam Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan, Vol. 7 No. 2, Oktober 2005.

Maria Indra Rukmi, adalah staf pengajar pada Program Studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Dibaca 8.388 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Artikel terkait