Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 127
Hari ini :1.079
Kemarin :1.037
Minggu kemarin:9.394
Bulan kemarin:31.818

Anda pengunjung ke 2.263.476
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 27 Dzul Qa'dah 1435 (Senin, 22 September 2014)
 
3 Mei 2008 05:10
Nilai-Nilai Didaktis dalam Syair Nasihat kepada Anak Karya Raja Ali Haji
Nilai-Nilai Didaktis dalam Syair Nasihat kepada Anak Karya Raja Ali Haji

Oleh: Ramlan Damanik[2]

Pendahuluan

Salah satu bentuk syair Melayu yang sangat terkenal adalah Syair Nasihat Kepada Anak Karya Ali Haji. Syair ini memiliki nilai-nilai pengajaran dan pendidikan yang tinggi. Nilai-nilai pengajaran dan pendidikan tersebut adalah: (1) prinsip-prinsip dan kriteria seorang pemimpin, (2) akhlak seorang Muslim, (3) hormat dan patuh kepada guru, (4) pandai membawa diri, (5) ilmu pengetahuan, (6) dalam bertindak harus menggunakan akal dan pikiran, dan (7) pengendalian hawa nafsu.

Berikut ini akan dipaparkan ketujuh nilai-nilai pengajaran dan pendidikan yang terdapat di dalam Syair Nasihat Kepada Anak Karya Raja Ali Haji tersebut.


1. Prinsip-prinsip dan kriteria seorang pemimpin.

Di antara faktor yang paling penting dalam kegiatan menggerakkan orang-orang lain untuk menjalankan manajemen adalah kepemimpinan. Pemimpinlah yang menentukan arah dan tujuan, serta memberikan bimbingan dan pekerjaan. Kesalahan dalam kepemimpinan akan mengakibatkan kegagalan. Pemimpin merupakan inti dari motor penggerak dari pada manajemen. Di samping itu, kepemimpinan berhubungan erat dengan manusia yang sifatnya selalu dinamis.

Dalam kenyataannya para pemimpin dapat memengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka. Kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting dalam suatu organisasi bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas-kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menyeleksi pemimpin-pemimpin yang efektif atau meningkat.

Poerbakawatja (1976: 457) mengatakan bahwa, “... kepemimpinan adalah proses pengaruh-memengaruhi antara pribadi atau antarorang dalam situasi tertentu, melalui proses komunikasi yang terarah untuk mencapai tujuan tersebut”. Sedangkan menurut Masya (1978: 180), “Kepemimpinan atau memimpin adalah usaha untuk menggerakkan orang lain ataupun bawahan yang dipimpin supaya mereka dapat bekerja bersama-sama menuju suatu tujuan yang diinginkan bersama dan yang dianggap penting bagi mereka.

Jadi kepemimpinan itu dapat timbul kapan dan dimanapun, apabila ada unsur-unsur sebagai berikut:

a.   Ada orang yang dipengaruhi atau anggota, bawahan, pengikut, kelompok yang mau diperintah, dan dikomandokan;

b.   Ada orang yang mempengaruhi atau pemimpin, memberi komando, pembimbing;

c.   Ada pengarahan kepada suatu tujuan oleh orang yang memengaruhi atau pemimpin (Masya, 1978: 180).

Seorang peneliti, menurut Manullang dengan mengutip Edwin Ghiselli (1982: 297), seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat:

 “Sifat-sifat tertentu yang harus dimiliki seorang pemimpin efektif adalah: pertama, kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksanaan fungsi-fungsi dasar manajemen, terutama pengarahan dan pengawasan pekerjaan orang lain. Kedua, kebutuhan akan prestasi dan keinginan sukses. Ketiga, kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif, dan daya pikir. Keempat, ketegasan, atau kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat. Kelima, kepercayaan diri, atau pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah. Dan keenam, inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau inovasi.”

Jadi seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat, antara lain: memiliki kemampuan sebagai pengawas pelaksanaan jalannya pemerintahan, kecerdasan, ketegasan, percaya diri, bertanggung jawab, memiliki rasa kemanusiaan, dan inisiatif.

Kepemimpinan menyangkut bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin, berarti mereka ikut membantu menentukan status atau kedudukan pemimpin dan membuat proses pemerintahan berjalan lancar. Tanpa bawahan, semua kualitas pemimpin tidak akan relevan dan berjalan dengan baik. Selain dapat memberikan pengarahan kepada para bawahan, pemimpin juga dapat mempergunakan pengaruh. Dengan kata lain, pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan tetapi juga dapat memengaruhi bagaimana bawahan dapat menyelesaikan perintahnya. Jadi seorang pemimpin harus memiliki kemampuan sebagai pengawas pelaksanaan jalannya pemerintah. Dalam Syair Nasehat Kepada Anak, bait kelimabelas disebutkan:

 Apabila perintah lemah dan lembut,
Semua orang suka mengikut,
Serta dengan malu dan takut,
Apa-apa kehendak tidak tersangkut.

Seorang pemimpin haruslah memiliki kecerdasan dan wawasan pengetahuan yang luas. Ia harus mengetahui segala sesuatunya tentang teknik-teknik dan cara pemerintahan yang baik. Ia harus mengerti dengan sesungguhnya keperluan-keperluan bawahannya, termasuk keperluan mereka untuk berkomunikasi, perlengkapan dan persediaan administrasi, proses data, penyimpanan dan informasi.

Dalam menetapkan dan mengambil suatu keputusan, seorang pemimpin harus tegas. Seorang pemimpin harus senantiasa berada di depan dan membimbing pengikutnya ke arah tujuan yang hendak ditentukan. Tujuan yang akan dicapai hendaklah diterangkan dengan tegas dan jelas, sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh setiap pengikutnya.

Percaya diri yang dimiliki oleh seorang pemimpin adalah pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah. Jika ada suatu masalah, hendaklah bijaksana dalam mengambil keputusan. Masalah tersebut harus diteliti dulu persoalannya dan hendaklah segera dituntaskan, jangan ditunggu dan dibiarkan berlarut-larut.

Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk merencanakan, mengorganisir, dan mengawasi segi-segi organisasi dibidang tata usaha, termasuk persiapan, komunikasi, koordinasi, dan operasi atau pelaksanaan pekerjaan. Karena seorang pemimpin harus menjalankan tanggung jawab atas beberapa elemen organisasi, maka kepadanya harus diberikan status yang dituntut oleh tanggung jawab ini, agar dapat meninggikan penghematan dan hasil kerja yang baik dan efisien.

Seorang pemimpin harus mengenal sifat-sifat individu dan mengenal kualitas pengikutnya masing-masing. Kunci suksesnya pelaksanaan manajemen adalah keberhasilan dalam menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu kerja sesuai dengan rencana yang telah dibuat dan organisasi yang telah disusun rapi, dengan pembagian tugas kerja sesuai dengan kemampuan individu dan wewenang serta tanggung jawab di antara anggota-anggota manajemen, baik sebagai atasan maupun bawahan. Dalam bait kedua disebutkan:

 Ayuhai anakanda,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.

Seorang pemimpin sejati harus memiliki rasa kemanusiaan dan solidaritas yang tinggi. Mendengar keluh-kesah bawahan merupakan sarana utama yang harus di perhatikan dalam menggiatkan proses kepemimpinan. Sebagai pemimpin, ia harus pandai mengambil hati bawahannya. Jangan dicari sakit hati mereka tetapi carilah kesukaannya. Hubungan yang baik antara pimpinan dan karyawan, atau atasan dan bawahan harus terjalin dengan hubungan yang harmonis dan seimbang. Sebagai seorang yang berkuasa, janganlah memerintah dengan kekejaman dan kediktatoran, karena bawahan kita akan melaksanakannya dengan terpaksa. Secara otomatis pasti mereka akan benci dan timbul niat jahat untuk menggulingkan jabatan kita, seperti disebutkan dalam syair pada bait keenambelas berikut:

 Jika memerintah dengan cemati,
Ditambah dengan perkataan mesti,
Orang menerimanya sakit hati
Barangkali datang fikir hendak dihati.

Inisiati sangat penting dalam penyusunan perencanaan. Seorang pemimpin yang baik harus merupakan seorang pemikir yang kreatif dalam mencari kombinasi baru, penemuan-penemuan baru, cara kerja yang lebih efisien, dan alat kerja yang modern. Antara kesatuan-kesatuan organisasi pun sangat dibutuhkan adanya inisiatif agar dalam kerjasama tercipta hubungan kerja yang harmonis. Kreatifitas juga sangat penting dan diperlukan sekali dalam bidang kepemimpinan yang tidak boleh tidak harus dilaksanakan oleh seorang pimpinan.

Seorang pemimpin juga harus memiliki kewibawaan dan kejujuran, serta rajin. Pemimpin tanpa wibawa tidak akan berhasil dalam menjalankan tugasnya. Kerajinan yang dimiliki oleh pemimpin akan merangsang kegiatan bawahannya. Memimpin bila tidak disertai dengan kejujuran berarti akan membawa kelompoknya kepada kehancuran. Sebagaimana disebutkan pada bait ketiga:

 Mengerjakan gubernemen janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.

2. Akhlak Seorang Muslim

Secara etimologis, perkataan akhlak yang berasal dari bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kata khulk. Khulk di dalam Kamus Al-Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat (Asmaran, 1992: 1).

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwa dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat berupa perbuatan baik yang disebut akhlak yang mulia dan perbuatan buruk yang disebut akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya.

Jadi pada hakikatnya akhlak merupakan suatu kondsi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga muncullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka ia dinamakan budi pekerti yang mulia dan sebaliknya. Suatu perbuatan dapat dinilai baik jika timbulnya perbuatan itu dengan mudah sebagai suatu kebiasaan tanpa memerlukan pemikiran. Seandainya ada seseorang yang memaksakan dirinya untuk mendermakan hartanya atau memaksa hatinya dengan dipikir-pikir lebih dahulu, maka bukanlah orang semacam ini.

Poerbakawatja (1976: 9) mengatakan bahwa “... akhlak adalah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan manusia.” Anis dalam Asmaran (1992: 5) menegaskan bahwa, “... ilmu akhlak ialah ilmu yang objek pembahasannya adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia yang dapat disifatkan dengan baik atau buruk”.

Ya’kub (1983: 121) mengemukakan, “Adapun pengertian sepanjang terminologi yang dikemukakan oleh ulama akhlak antara lain: a. Ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan dan perbuatan manusia lahir dan batin. b. Ilmu akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.”

Dalam pembahasan akhlak ada beberapa istilah yang digunakan antara lain; etika, moral, dan susila. Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang artinya adat atau kebiasaan. Etika merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas nilai keindahan atau estetika.

Dalam estetika dibicarakan antara lain, apakah sesungguhnya keindahan itu, mengapa ada objek yang indah dan yang jelek, bagaimana hubungan antara sesuatu objek yang indah dengan perasaan atau emosi seseorang. Dalam etika dibicarakan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan baik buruk, mengapa ada yang disebut perbuatan baik dan buruk, apa kriteria penilaian suatu perbuatan, apa atau siapa yang menentukan baik-buruknya suatu perbuatan, dan sebagainya.

Moral berasal dari bahasa Latin mores yaitu jamak dari mos mos yang berarti adat kebiasaan. Poerwadarmintan (1982: 654) mengatakan, “... moral adalah baik-buruk perbuatan dan kelakukan.” Moral merupakan istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai baik atau buruk, benar atau salah. Dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang yang mempunyai tingkah laku yang baik disebut orang yang bermoral.

Selain istilah di atas, di dalam bahasa Indonesia untuk membahas baik-buruk tingkah laku manusia juga sering digunakan istilah kesusilaan. Kesusilaan berasal dari kata “susila” yang mendapat awalan ke- dan akhiran -an. Su berarti baik, bagus dan sila dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Pooerwadarminta (1982: 982) mengatakan bahwa, “... susila berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Kesusilaan sama dengan kesopanan. Ini menunjukkan bahwa kesusilaan bermaksud membimbing manusia agar hidup sopan, sesuai dengan norma-norma susila”.

Sekarang dapat dilihat persamaan antara akhlak, etika, moral, dan susila, yaitu menentukan hukum atau nilai perbuatan manusia dengan keputusan baik atau buruk. Perbedaan terletak pada tolak ukurnya masing--masing, akhlak dalam menilai perbuatan manusia dengan tolak ukur ajaran Al-Quran dan Sunnah, etika dengan pertimbangan akal pikiran, sedangkan moral dan susila dengan adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat (Asmaran, 1992: 9). Dalam syair, sang penyair perpesan kepada pembaca agar berakhlak mulia. Akhlak seorang Muslim pada umumnya dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu budi pekerja yang mulia dan sikap atau kelakuan yang tercela. Mengenai budi pekerja atau akhlak yang mulia ini, Iman al-Gazali sebagai mana dikutip Asmaran (1992 : 204) menerangkan:

“Berakhlak baik atau berakhlak terpuji itu berarti artinya menghilangkansemua adat-adat kebiasaan yang tercela yang sudah dirincikan oleh agama Islam serta menjauhkan diri daripadanya, sebagaimana menjauhkan diri dari tiap najis dan kotoran, kemudian membiasakan adat kebiasaan yang baik, menggemarinya, melakukannya dan mencintainnya.”

Pada dasarnya budi pekerja baik atau akhlak terpuji merupakan sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma atau ajaran agama Islam. Yang termasuk ke dalam akhlak yang mulia adalah melakukan seluruh amal ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT, seperti mengucapkan kalimat syahadat, menegakkan sholat, selanjutnya seperti yang tercantum dalam rukun Islam. Selain itu termasuk segala perbuatan baik terhadap manusia maupun alam sekitar.

Melalui syair Nasehat Kepada Anak, Raja Ali Haji memberikan contoh kepada pembaca tentang akhlak yang mulia. Sebagaimana disebutkan dalam syair pada bait kelimabelas:

 Tutur yang manis anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Kemaluan orang anakanda fikirkan.

Dalam pergaulan sehari-hari seorang Muslimin haruslah selalu menjaga lidahnya dari perkataan yang dapat menyakitkan hati orang lain. Tutur bahasa yang lembut menunjukkan ketinggian budi pekerti seseorang. Orang yang berbicara sombong menunjukkan bahwa orang itu tidak terdidik. Ini sesuai dengan pribahasa yang mengatakan bahwa “bahasa menunjukkan bangsa”.

Perangai yang lembut yang dimaksudkan pengarang di sini adalah sikap halus atau lembut dalam menghadapi orang lain. Lembut dalam mengucapkan kata-kata, roman muka, sikap anggota badan, dan lain-lain dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil atau keluarga maupun dalam masyarakat luas. Perangai halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta kasih terhadap sesama. Orang yang bersikap halus biasanya suka memperhatikan kepentingan orang lain, dan suka menolong. Sikap lembut merupakan perwujudan dari sifat-sifat ramah, sopan, dan sederhana dalam pergaulan.

Perangai yang lembut juga dimiliki oleh orang yang bersikap rendah hati, karena orang yang bersikap rendah hati merupakan orang yang halus tutur bahasanya, sopan tingkah lakunya, tidak sombong, tidak membedakan pangkat dan derajat dalam pergaulan.

Yang dimaksud dengan sabar menurut pengertian Islam ialah tahan menderita sesuatu yang tidak disenangi dengan ridha dan ikhlas serta berserah dari kepada Allah. Secara umum, sabar adalah kemampuan atau daya tahan manusia menguasai sifat jelek yang terdapat dalam jiwa, yaitu hawa nafsu. Jadi sabar mengandung unsur perjuangan, pergaulan, tidak menyerah dan menerima begitu saja. Tentang akhlak tercela ini, dalam syair disebutkan:

 Jika anakkanda menjadi besar,
Tutur dan kata janganlah kasar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyaklah orang menaruh gusar.

(bait ke-4)

 
Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takabur tidak membilang orang,
Dengan manusia selalu berperang.

(bait ke-10)

Dari anggota badan atau lahir, perkataan termasuk yang terbanyak membuat maksiat. Dalam hal ini, tidak ada satu usahapun yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan jalan membiasakannya berkata-kata yang baik dan bermanfaat. Rasullullah SAW mengajarkan yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, yang artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik, atau (kalau tidak dapat berkata yang baik) hendaklah berdiam diri saja.”

Adapun perkataan yang tercela yang harus dihindari, antara lain: berkata yang tidak memberikan manfaat, berlebih-lebihan dalam percakapan, berbicara hal yang batil, berkata kotor atau mencaci maki, mentertawakan dan merendahkan orang lain, dan berdusa.

Sombong atau takabur adalah suatu perasaan yang terdapat di dalam hati manusia bahwa dirinya hebat, mempunyai kelebihan dari orang lain, misalnya merasa lebih dalam ilmu pengetahuan, kekayaan, kecantikan, dan sebagainya. Perasaan yang lebih ini kelihatan dalam sikap dan tindak tanduk sehari-hari dalam penampilan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Sifat sombong ini amatlah tercela, baik di sisi Allah maupun di mata manusia dan akan membawa kerugian dan bahaya yang besar. Orang yang sombong pasti tidak dapat memiliki sifat rendah hati. Orang yang sombong tidak dapat meninggalkan sifat dengki dan dusta, begitu pula ia tentu tidak bisa menahan hawa nafsunya, juga tidak mungkin dapat memberikan nasehat yang baik kepada orang lain. Kesukaannya hanyalah menghina dan mencemoohkan, ia suka mencari-cari dan membongkar kemaluan orang lain, terlebih terhadap orang yang dipandang sebagai saingannya. Orang yang bersifat sombong akhirnya akan tersesat karena ia meniru sifat syaitan.

Islam melarang manusia untuk bersifat sombong dan Allah tidak menyukainya. Allah menegaskan bahwa nerakalah tempat bagi orang-orang yang sombong, sebagaimana firmanNya dalam surah al-Mukmin ayat 60, yang artinya:

”Dan Tuhanmu berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke neraka jahanam dalam keadaan hina dina.”

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, yang artinya “.....tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan” (HR Muslim).

Berbahagialah orang-orang yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti utama, dan celakalah mereka yang bersikap dan bertingkah laku tercela. Dalam al-Quran surah al-Infithar ayat 13-14, Allah SWT berfirman “....sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”

Menurut ayat di atas, hanya orang yang berbakti benar-benar atau berbudi pekerti utama yang dijanjikan Allah akan memasuki surga, maka Rasulullah SAW memerintahkan manusia, khususnya orang Muslim selalu berbudi pekerti luhur kapan dan di manapun berada, seperti sabda Nabi “.......bertaqwalah kepadaAllah di mana saja engkau berada, ikutilah suatu kejelekan itu dengan kebaikan, karena itu dapat menghapus kejelekan, dan pergaulilah seluruh manusia dengan budi pekerti yang baik” (HR Tirmizi). Raja Ali Haji pada bait kesebelas dari syairnya mengatakan:

 Anakanda jauhkan kelakuan ini,
Sebab kebencian Tuhan Rahmani,
Jiwa dibawa ke sana sini,
Tidak laku suatu dewani.

3. Hormat dan Patuh kepada Guru

Orang tua selalu mengharapkan anaknya menjadi orang yang pandai, tahu sopan santun, menghargai orang lain, dan sebagainya. Harapan ini akan terwujud jika sejak kecil anak diberi pengertian dan pendidikan, kepandaian anak selanjutnya tergantung pada pendidikan yang pernah diperolehnya. Demikian pula dengan pendidikan norma-norma kemasyarakatan yang diterima dari orang tua atau keluarga.

Pada hakekatnya, pendidikan berlangsung sepanjang hidup manusia. Untuk itu pendidikan bukan hanya didapat di sekolah, tetapi juga dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, sebagaimana yang tercantum dalam GBHN, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah, namun dari ketiga pendidik yang paling bertanggung jawab adalah orang tua. Sedangkan guru dan masyarakat sebenarnya hanya membantu untuk lebih memperkokoh kepribadian dan kecerdasan anak.

Dalam kegiatan pengajaran, seorang guru sering dihadapkan kepada berbagai macam masalah, baik menyangkut dasar-dasar profesi yang harus dikuasai maupun masalah personil-personil dalam pengajaran. Guru harus dapat menciptakan lingkungan yang baik untuk anak didiknya, memilih metode yang cocok dengan materi, lingkungan dan perkembangan anak, memilih teknik evaluasi yang baik, dan sebagainya. Guru yang baik, melalui dasar-dasar profesi yang dimiliki akan membawa anak ke arah sukses dalam belajar. Perhatian sepenuhnya dipusatkan pada anak didik agar jangan melakukan sesuatu yang kurang baik.

Seorang guru mempunyai tugas ganda yang sangat mulia yang tidak dimiliki oleh orang lain. Di samping guru memberikan kepada muridnya pengetahuan secara metodis, guru juga mendidik anak didiknya supaya menjadi orang yang jujur, disiplin,  bertanggung jawab dan berkepribadian luhur. Seorang guru yang menghayati akan tugas yang disandangnya akan merasa prihatin melihat anak didiknya berbuat hal-hal yang tidak terpuji dan tidak baik, dia merasa tidak berhasil dalam mendidik siswanya. Di samping itu guru merasa berkewajiban membawa anak didiknya ke arah yang dicita-citakan. Berbagai macam jalan tentu akan diambilsedemikian rupa sehingga lebih bijaksana dan tidak menimbulkan efek yang kurang baik bagi proses belajar anak didiknya.

Mengingat betapa beratnya tugas seorang guru, maka melalui syair Raja Ali Haji mencoba menasehati pembaca untuk menghormati dan patuh kepada guru, seperti pada petikan syair pada bait kedelapan berikut:

Setengah orang besar fikir dan karu,
Tidak mengikut pengajaran guru,
Tutur dan kata haru bitu,
Kelakuan seperti anjing pemburu.

Jaman dahulu guru dipandang masyarakat sebagai orang yang terhormat dan dianggap sebagai orang yang memiliki kemampuan lebih dalam segala hal. Masyarakat mengakui adanya kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru dan memang dirasakan manfaatnya pada waktu itu, terlebih tentang pelajaran agama. Oleh karena kuatnya anggapan masyarakat yang demikian itu, maka setiap yang diucapkan, dilakukan dan diperintahkan guru, senantiasa dipercaya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Guru benar-benar dipandang sebagai orang yang dipercaya dan dicontoh oleh masyarakat. Dengan kata lain guru harus berwibawa, karena guru pada waktu itu dianggap sebagai sumber informasi yang belum disaingi oleh orang lain dan profesi lain.

Jika direalitakan dengan kehidupan sekarang, masyarakat dapat mengkuti perkembangan ilmu dan pengetahuan melalui media cetak dan media elektronik, seperti buku, majalah, surat kabar, radio dan televisi. Lebih-lebih dengan ditemuinya teknologi satelit komunikasi dan komputer, proses pendidikan berlangsung secara universal. Dengan perkembangan sistem informasi ini, maka masyarakat tidak lagi menganggap guru sebagai satu-satunya sumber informasi di daerahnya.

Perkembangan teknologi komunikasi ini, berpengaruh pula terhadap proses sosialisasi anak dalam keluarga. Semakin banyak orang tua yang memiliki koleksi buku-buku, berlangganan majalah dan surat kabar, serta memiliki pesawat radio dan televisi, disadari atau tidak, orang tua ikut menciptakan suasana belajar di rumah, sehingga rasa ingin tahu anak telah terangsang sejak dari rumah.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan masyarakat, maka semakin banyak pula di luar sekolah pendidikan bermunculan. Seorang guru perlu menyadari bahwa di luar sekolah terdapat sumber informasi lain. Dengan kata lain, guru mendapat tantangan dari kemajuan teknologi komunikasi dan berbagai jenis serta variasi pendidikan di luar sekolah yang sangat banyak. Oleh karena itu guru harus rajin membaca buku untuk mengikuti kemajuan ilmu dan pengetahuan.

Dengan demikian, maka bertambah sulitlah tugas seorang guru. Dia bukan saja harus mengajar, tetapi juga, harus belajar kembali, agar tidak tertinggal dengan anak didiknya. Dengan pengetahuan yang luas, maka seorang guru akan lebih mampu mengahdapi cara belajar siswa yang aktif dan kewibawaan seorang guru tetap terjaga. Oleh karena itu wajiblah kita menaruh hormat kepada guru, karena pada dasarnya dengan jasa beliaulah kita dapat menjadi pintar dan menjadi orang yang berguna.


4.
Pandai Menempatkan Diri

Manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan pertolongan orang lain. Orang lain dapat membantu kita dalam kesusahan dan akan dirasakan ringan dibanding dengan hanya dipendam di dalam hati. Apalagi jika orang tersebut dapat membantu mengatasinya, baik dengan pikiran, tenaga atau uang.

Islam mengajarkan agar umatnya hidup bermasyarakat, agar mereka saling menolong antara satu dengan yang lain dalam memecahkan segala persoalan, demi untuk kebaikan. Kita perlu hidup bergaul dengan sesama, karena dengan demikian kehidupan manusia dapat lebih maju. Dengan bergaul, kita saling menyempurnakan, memberi dan menerima untuk kepentingan bersama. Namun dalam pergaulan sesama manusia, kita harus dapat membedakan pergaulan yang baik dan yang buruk. Juga harus pandai menempatkan diri dan membawa diri agar tidak terombang ambing dalam kehidupan, seperti tertuang dalam syair bait ketujuh.

Nasehat ayahanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.

Syaitan memiliki peluang yang luas dan jalan yang banyak untuk menyesatkan manusia dalam berbuat kebaikan dan menyesatkan ke jurang kejahatan. Semua perbuatan buruk dan jahat, baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun kelompok, sumbernya hanya dari syaitan. Dia yang menggerakkan dan membuat situasi yang dapat mendukung terlaksananya perbuatan jahat itu. Dialah yang menyebabkan manusia diusir dari syurga dan juga selalu berusaha dengan cara apapun untuk menjerumuskan manusia ke jurang kesengsaraan.

Syaitan memang memiliki kekuatan yang luar biasa, ia dapat menjerumuskan siapapun yang ia kehendaki dengan cara yang sangat mudah. Ia juga mampu menghilangkan harapan masa depan seseorang, kemudian merubah kehidupan manusia sepanjang hayat dengan menahan dan memikul kepayahan dan kesulitan. Oleh sebab itu janganlah kita tergoda oleh rayuan dan bujukan syaitan. Hal ini dapat dihindari dengan keteguhan iman dan selalu berzikir kepada Allah.

Raja Ali Haji menyarankan kepada pembaca agar bergaul dengan orang yang berakal dan menjauhkan diri dari orang yang jahat. Yang dimaksud dengan orang yang berakal di sini adalah orang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk dan orang yang selalu berbuat kebaikan. Islam mengajarkan bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang paling banyak mendatangkan kebaikan kepada orang lain. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Qadla’ie dari Jabir, Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya “....sebaik-baik manusia ialah orang yang banyak manfaatnya (kebaikannya) kepada manusia lainnya” (Asmaran, 1992 : 53).

Orang yang jahat adalah orang yang berkepribadian buruk, selalu membuat keonaran dan keresahan dalam masyarakat. Orang yang seperti ini adalah musuh Islam yang utama karena Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah ke muka bumi untuk menyempurnakan atau memperbaiki akhlak manusia. Karena itu misi Islam yang pertama adalah untuk membimbing manusia berakhlak mulia, maka setiap pelanggaran akhlak akan mendapat sanksi atau siksa dari Allah. Dengan kata lain, setiap perbuatan buruk akan berakibat kesengsaraan bagi pelakunya. Banyak cerita yang diterangkan Allah dalam kitab suci al-Quran tentang binasa atau celakanya orang terdahulu, yaitu akibat dari kemaksiatan dan keburukan perbuatan mereka.

Pada hakekatnya, orang yang berbuat baik atau berbuat jahat terhadap orang lain adalah berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Orang lain senang berbuat baik kepada kita, karena kita telah berbuat baik kepada orang itu. Allah berfirman dalam Surah al-Isra’ ayat 7 yang artinya “....jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”.

Perbuatan jahat bukan hanya berakibat buruk kepada diri sendiri, tetapi juga akan merusak keharmonisan dan kedamaian dalam masyarakat, misalnya minum-minuman keras. Dalam masyarakat yang sudah merajalela mabuk-mabukan, ketenangan masyarakat akan terganggu, karena dengan minum-minuman keras ini, orang akan hilang akalnya, kemudian dengan tanpa disadari bisa melakukan perbuatan jahat lainnya seperti mencuri dan berzinah.

Islam tidak meletakkan hukum dengan mengucilkan manusia dan masyarakat, bahkan sebaliknya membina kehidupan yang rukun dan damai di antara sesamanya, kecuali di saat orang itu menjadi sumber kejahatan bagi orang lain dalam masyarakat. Islam mewajibkan manusia untuk menyenangi hidup mulia serta hidup dengan hasil perjuangan usaha sendiri dan bukan didasarkan kepada usaha yang dilarang seperti mencuri, korupsi dan sebagainya.

Sudah merupakan kewajiban setiap mukmin untuk menciptakan lingkungan yang baik. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri. Jika tiap pribadi mau memperlihatkan atau bertingkah laku mulia maka akan terciptalah masyarakat yang aman dan bahagia. Kadang orang lalai untuk melihat diri sendiri sehingga tidak jarang tergelincir ke lembah kehinaan yang sangat merugikan kepada dirinya dan kepada diri orang lain. Muhammad al-Ghazali sebagaimana dikutip Asmaran (1992: 46) menyatakan:

”Di dalam diri manusia itu terdapat dua tabiat, yaitu: (1) Fitrah baik yang mendorong kepada kebaikan, yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam perkembangan jiwanya, sehingga jiwa merasa gembira dapat menemukan dan melaksanakan kebaikan, karena jiwa mengetahui kebenaran itu adalah perkembangan fitrah yang baik dalam garis hidup yang benar. (2) Di samping fitrah yang baik, di dalam jiwa manusia ada kecenderungan yang buruk. Jiwa merasa kecewa dengan kejahatan dan merasa sedih dengan kelakuannya, karena kecenderungan yang buruk itu memaksa tabiat baik manusia keluar garis yang benar.”

Jadi, di dalam diri manusia selain terdapat sifat yang baik, pada diri manusia terdapat suatu kenyataan negatif bahwa manusia itu adalah makhluk yang lemah karena terdapat sifat yang buruk. Titik kelemahan inilah permulaan dari semua bencana yang menimpa mereka dan harus disadari sepenuhnya oleh setiap pribadi. Kesadaran pribadi bahwa manusia mempunyai kemungkinan untuk berbuat kesalahan dan kekeliruan, dan tidak seorang pun dapat luput dari kesalahan. Karena manusia memiliki kecenderungan berbuat jahat, maka menjadi kewajiban baginya untuk melatih dan mendidik jiwanya untuk selalu berbuat baik, sehingga kecenderungan baik dapat menguasai pribadi dan menjadi tabiatnya. Dengan dasar ini, manusia mudah menjalankan kebaikan dan berbudi pekerti yang mulia.

Oleh karena itu manusia harus pandai menempatkan dirinya kepada perbuatan baik dan ketinggian budi peketi, agar dapat melaksanakan kewajiban dan pekerjaan dengan baik dan sempurna, sehingga hidup akan bahagia. Sebaliknya apabila manusia cenderung berbuat jahat, berburuk prasangka kepada orang lain, maka hal ini sebagai pertanda bahwa orang itu hidup resah sepanjang hayatnya karena tidak ada keserasian dan keharmonisan dalam pergaulannya dengan sesama manusia. Hal ini juga dipertegas oleh Raja Ali Haji dalam petikan syair berikut:

 Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya janganlah lari,
Masyhurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.

(bait 6)
 

Patut juga mencari jasa,
Kepada raja yang itu masa,
Tetapi dengan budi dan bahasa,
Supaya negeri ramai tamasya.

(bait 14)

5. Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan mempunyai dua fungsi pokok, yaitu: untuk memungkinkan manusia mengetahui sesuatu dan untuk memungkinkan manusia berbuat sesuatu. Empat ratus tahun sebelum Masehi orang Yunani Purba, kecuali Archimedes, hanya tertarik pada fungsi yang pertama. Hasrat mereka untuk mengetahui memang luar biasa, tetapi mereka sama sekali tidak tertarik untuk menerapkan ilmu pengetahuan itu. Perhatian pada kegunaan praktikal dari ilmu pengetahuan pada mulanya datang melalui takhayul dan sihir. Orang Arab ingin menemukan kunci dari kebijaksanaan para filosof, dari rahasia keabadian hidup, dan bagaimana merubah logam-logam dasar menjadi emas. Dalam melakukan penelitian untuk tujuan tersebut, mereka menemukan banyak fakta dalam pengetahuan kimia, tetapi mereka tidak pernah sampai pada perumusan hukum-hukum umum yang penting dan benar.

Ilmu pengetahuan terbentuk dari dorongan untuk memecahkan masalah. Dalam pemecahan masalah ini seseorang harus terlibat dalam kesibukan atau kegiatan seperti meneliti, termasuk mengadakan uji-coba. Meneliti adalah usaha menemukan kebenaran ilmiah atau membuktikan kekeliruannya. Ilmu pengetahuan adalah ciptaan yang terbentuk dari dorongan untuk mencari kebenaran melalui pemecahan masalah. Jadi ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit sebagai anugerah Yang Maha Kuasa, tetapi sumbangan dari pemikiran manusia. Persoalannya adalah, apakah pengetahuan itu berupa pengetahuan ilmiah ataukah non ilmiah. Karena, berupa apapun pengetahuan itu, semua mempunyai fungsi yang sama, yaitu membantu manusia dalam kehidupannya.

Dalam agama Islam, mengenai ilmu pengetahuan ini sangat diutamakan, karena banyak rahasia-rahasia alam yang belum terungkap. Semua ini diperlukan pengetahuan manusia untuk menemukan jawaban-jawaban dari teka-teki alam tersebut. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW banyak bersabda tentang kewajiban setiap manusia untuk menuntut ilmu, misalnya : tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat, menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim, dan tuntutlah ilmu sekalipun ke negeri Cina.

Dalam al-Quran, Allah berfirman yang artinya, “....Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan” (Al-Mujadalah : 11). Jadi, Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan. Tentu saja ilmu pengetahuan yang mendatangkan kebaikan bagi umat manusia atau bermanfaat bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Raja Ali Haji dalam syairnya menegaskan tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Pada bait kesepuluh dari syairnya ia menyebutkan:

 Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takabur tidak membilang orang,
Dengan manusia selalu berperang.

Dari petikan syair di atas, kita dapat melihat gambaran seseorang yang kurang ilmu pengetahuannya. Sehingga ia menyangka paling pandai, bersikap takabur, dan sesama manusia senantiasa bermusuhan. Tidak ada kedamaian dihatinya dan tidak mau menghargai jasa-jasa orang lain. Dia tidak menyadari dan tidak tahu bahwa Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Allah dapat saja mengkayakan orang miskin dan memberi kepintaran pada orang yang bodoh, demikian pula sebaliknya.

6. Dalam Bertindak Harus Menggunakan Akal dan Pikiran

Manusia diciptakan oleh Allah dengan mempunyai otak, akal, hati, dan panca indera. Manusia tinggal mempergunakannya menurut fungsi alat tersebut. Lalu manusia mencari rezeki, memilih rezeki yang baik atau yang buruk, berbuat dan memilih perbuatan yang baik atau yang buruk, belajar dan memperoleh pelajaran yang baik atau yang salah. Dengan alat atau panca indera yang Allah berikan, maka manusia harus berpikir dan berusaha. Hasil pikiran, perasaan dan perbuatan itulah yang mengakibatkan manusia memperoleh takdir dari Allah.

Mempergunakan akal pikiran, hati dan panca indera, berarti manusia telah berikhtiar atau berusaha. Namun demikian Allah tidak membiarkan manusia menggunakan akan dan pikirannya begitu saja. Allah sangat kasih dan sayang pada hamba-Nya, karena itu diturunkan-Nya kitab suci al-Quran dan mengutus Rasul untuk membimbing manusia kepada kebaikan dan kebahagiaan.

Petunjuk-petunjuk agama inilah yang harus diikuti oleh manusia dalam mempergunakan akal pikirannya. Apabila akal pikiran ini dipergunakan, maka akan memperoleh takdir yang baik di dunia dan di akhirat. Manusia dianjurkan oleh Allah untuk berusaha. Perubahan cara hidup manusia dari jaman ke jaman jelas karena fungsi akan pikiran yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya yang paling istimewa. Dalam menghadapi kehidupan baik yang merupakan rintangan dan bahaya maupun untuk kemajuan dan kebahagiaan, manusia telah memutar otaknya untuk berpikir. Fase demi fase kehidupan manusia berubah dan berkembang terus. Dari segala sumber alam dilakukan pengolahan yang menghasilkan alat-alat dan konsumsi untuk kebutuhan dan kepentingan dirimereka. Hasil hutan, laut dan tambang dicari, diselidiki dan diolah untuk digunakan bagi kebahagiaan hidupnya.

Manusia yang telah berhasil menemukan sumber-sumber alam, teori-teori alam, dan menciptakan penemuan-penemuan baru, alat-alat baru bagi kepentingan manusia adalah manusia yang besar jasanya bagi umat manusia dan telah melaksanakan fungsinya sebagai manusia yang diberikan Allah kelebihan dari makhluk lain, yaitu akal pikiran.

Orang yang menggunakan akal dan pikiran dengan baik akan memperoleh keberhasilan dalam segala tindakannya. Orang-orang yang cerdik dan pintar tidak mudah panik dalam menghadapi suatu masalah. Kecerdikan atau kepintaran yang ada pada diri, dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menghadapi persoalan dengan tenang. Allah telah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 12 dan 13 yang artinya:

”Dialah yang menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang memikirkan. Dan, dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintahnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang mau berfikir.”

Dari firman Allah di atas, dapat disimpulkan bahwa alam dan segala isinya ini diciptakan-Nya adalah sebagai tanda bagi orang-orang yang mau berpikir. Manusia disuruh berpikir untuk mengetahui dan memecahkan segala persoalan.

Melalui Syair Nasehat Kepada Anak, Raja Ali Haji mencoba menasehati pembaca agar jangan bertindak ceroboh. Jika ada suatu masalah atau persoalan, hendaklah dipikirkan secara matang dan harus dipertimbangkan baik buruknya. Semua harus dinilai dengan akal sehat dan apakah itu sudah sesuai dengan ajaran Islam dan hukum adat yang berlaku dalam lingkungan setempat. Jika bertindak dengan perasaan, maka itu bukan sikap yang bijaksana, karena perasaan kadang kala membuat seseorang melupakan kebenaran yang hakiki. Dalam syairnya, Raja Ali Haji menegaskan:

Ke sana ke mari langgar dan rempuh,
Apa yang terkena habislah roboh,
Apa yang terjumpa latas dipelupuh,
Inilah perbuatan sangat ceroboh.

Dari kutipan syair di atas, dapat kita lihat penyair mengambil perbandingan terhadap orang yang bertindak ceroboh. Kebenaran tidak lagi berbicara, yang penting tujuan terlaksana walau ada pihak yang merasa dirugikan, tanpa memikirkan orang lain. Akal dan pikiran tidak lagi digunakan, agama dan adat tidak lagi menjadi patokan. Hal ini didukung juga oleh petikan syair pada bait keduabelas berikut:

Setengah yang kurang akan dan bahasa,
Sangatlah gopoh hendak berjasa,
Syarak dan adat kurang periksa,
Seperti harimau mengejar rusa.

Oleh sebab itu, sebagai manusia hendaklah selalu menggunakan akal dan pikiran, karena pikiran itu adalah pelita hati. Jika kita tidak menggunakan akal pikiran, maka nyatalah kita sama seperti binatang. Manusia disuruh menggunakan akal dan pikirannya agar tidak salah untuk memahami makna kebenaran yang sesungguhnya dan kebenaran yang dibenarkan atau yang dianggap benar. Kebenaran yang sesungguhnya adalah kebenaran yang menunjukkan adanya hubungan ide dengan fakta.

7. Pengendalian Hawa Nafsu

Salah satu potensi yang diciptakan Tuhan di dalam diri manusia sehingga dapat hidup dan hidup lebih maju, penuh kreatif dan bersemangat, yaitu nafsu. Dengan ungkapan lain, jika manusia tidak mempunyai nafsu, tidaklah ada kemajuan dalam kehidupan manusia, karena ketiadaan nafsu ini tentu tidak akan ada kompetisi di antara manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya yang selalu berkembang setiap saat.

Jadi sebenarnya manusia tidak boleh mematikan nafsunya, tetapi manusia diharuskan untuk menguasai nafsunya, sehingga dapat mengendalikan agar nafsunya tidak sampai membawa kepada kesesatan. Menurut tabiatnya, nafsu ini kecenderungannya adalah kepada kesenangan, lupa diri, bermalas-malasan yang membawa kepada kesesatan. Dan nafsu selalu tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Kehidupan dunia yang didasari hawa nafsu tidak ada batasnya, dapat satu mau dua, dapat dua mau tiga, mau empat dan seterusnya. Kadang-kadang yang diperolehnya itu sudah berlebihan, berlimpah ruah, namun manusia belum merasakan puas. Kepuasan ini baru berakhir setelah maut datang menimpa dirinya.

Menurut sifatnya, nafsu sering dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:

a.   Nafsu Amarah. Nafsu ini adalah yang pertama kali timbul dalam diri manusia. Nafsu ini sama dengan nafsu yang dimiliki oleh hewan, ia melahirkan bermacam-macam keinginan yang harus dipenuhi. Nafsu ini belum mengenal batas dan ketentuan, pendidikan dan bimbingan sehingga belum bisa membedakan antara baik dan buruk. Nafsu ini merupakan sumber segala kejahatan.

b.      Nafsu Lawwamah. Yaitu nafsu yang menyebabkan manusia terlanjur untuk melakukan kesalahan, tetapi setelah itu menyesal atas perbuatannya. Sayangnya. apabila dorongan nafsu ini datang lagi, ia tidak mampu menahannya, walaupun setelah itu menyesal lagi.

c.     Nafsu Mutma’innah. Yaitu nafsu yang benar-benar tenang, nafsu yang dapat dikendalikan oleh akal yang sehat dan telah mendapat bimbingan dan tuntutan yang baik. Nafsu ini ibarat kendaraan yang dapat dikuasai (Asmaran, 1992 : 140-141).

Jenis nafsu yang pertama dan kedua inilah yang harus dikendalikan. Kebanyakan manusia sudah dirongrong dan dihalang-halangi hawa nafsu dalam perjuangan mencapai taraf hidup yang tinggi, sehingga mereka terseret ke lembah kehinaan. Jika telah demikian hawa nafsu merajalela dan mengganas menjerumuskan manusia ke tempat yang hina, maka kesengsaraan yang akan menimpa. Kalau hawa nafsu ini diperturutkan keinginannya, maka manusia tidak akan dapat menghindarkan diri dari tabiat yang cenderung kepada keburukan yang dapat menyesatkan orang dari jalan yang benar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Shad ayat 26,

”Dan jangan kamu memperturutkan hawa nafsu, hawa nafsu itu akan dapat menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah kelak akan mendapatkan siksaan yang pedih, lantaran mereka lalai akan adanya hari perhitungan.”

Perbuatan yang senantiasa mengikuti hawa nafsu tidak akan memperhatikan kemarahan dan ancaman Allah SWT. Yang penting baginya adalah untuk memperoleh kemenangan sesuai dengan kehendak hawa nafsu. Semua tindakan dilandasi hawa nafsu dan nafsu amarah, sehingga apabila mencintai atau membenci seseorang, dan memberikan sesuatu kepada orang lain, semuanya didasari dengan perintah hawa nafsunya. Hawa nafsu dijadikan sebagai tuhannya.

Sebenarnya nafsu manusia mempunyai kecenderungan untuk baik dan buruk. Nafsu akan menjadi baik jika dibersihkan dari pengaruh-pengaruh jahat dengan menanamkan ajaran-ajaran agama sejak dini untuk mengendalikan tabiat nafsu yang jahat. Berbagai contoh dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam masyarakat yang longgar hubungannya dengan agama. Misalnya seseorang yang digoda oleh keinginan yang tidak terkendalikan, akan mudah terseret kepada perbuatan atau tindakan jahat yang kemudian hari akan menjadi sumber penyesalan yang tiada putus-putusnya, bahkan mungkin menjadi sebab dari kesengsaraan seumur hidup.

Untuk mengendalikan hawa nafsu dan dorongan yang tidak baik, agama Islam memperingatkan agar kita berhati-hati, jangan sampai kita tersesat dan terdorong untuk melanggar ajaran agama. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, kelihatan bahwa kecenderungan orang untuk mengejar kesenangan duniawi. Orang-orang tidak mampu mengendalikan dirinya dalam menghadapi dorongan hawa nafsu, akan tersesat dan sengsara hidupnya, bahkan tidak jarang menjadi sakit dan terganggu jiwanya karena hilang pegangan. Dalam syairnya, Raja Ali Haji dengan tegas menasehati agar jangan diperturutkan hawa nafsu, tetapi hawa nafsu ini hendaklah dikendalikan. Ini dapat kita lihat pada petikan syair berikut ini:

Nasehat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.

 (bait ke-7)
 

Inilah nasehat ayahanda tuan,
Kepada anakanda muda bangsawan,
Nafsu yang jahat anakanda lawan,
Supaya kita jangan tertawan.

 (bait 17).

Oleh karena dorongan dan keinginan hawa nafsu ini banyak yang membawa kepada bahaya dan kesusahan, maka usaha untuk mengendalikan diri dan hawa nafsu perlu ditingkatkan. Pengendalian diri yang baik dan wajar adalah pengendalian yang timbul dari dalam diri sendiri, bukan karena paksaan atau perintah dari luar.Mereka yang dapat mengendalikan hawa nafsu inilah yang dikatakan Allah sebagai penghuni surga.


Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab terdahulu maka dapat kesimpulan, sebagai berikut:

Pertama, Genre puisi yang berbentuk syair ini mempunyai peranan yang tersendiri dalam perkembangan masyarakat dan pemikirannya. Fungsi syair nampak nyata dalam bait-bait syair ataupun melalui bentuk syair itu sendiri. Syair sebagai genre puisi telah mempunyai bentuk dan ciri yang memperlihatkan karya cipta yang tinggi nilainya. Bentuk ini digunakan untuk menyatakan segala isi dan maksud, perasaan dan emosi masyarakat, mencerminkan pemikiran masyarakat, menjadi alat pengajaran dan hiburan yang dapat dilihat melalui tema-tema yang berbagai jenisnya.

Kedua, dalam kehidupan sehari-hari syair digunakan, diperluas dan diperkaya dengan pelbagai warna dan nada sesuai dengan konteks dan suasana kehidupan masyarakat yang menggunakannya. Tegasnya, peranan syair dalam masyarakat Melayu menunjukkan genre ini merupakan hak masyarakat, lahir dari cita rasa dan daya cipta masyarakat Melayu yang kolektif dan kreatif.

Ketiga, Syair Nasehat Kepada Anak, tergolong ke dalam syair yang berbentuk non naratif. Syair ini membicarakan tentang nasehat seorang ayah kepada anaknya. Raja Ali Haji telah memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan atau lingkungan masyarakat yang akan ditempuh si anak. Berbagai kata-kata yang berbentuk nasehat, ingatan, dan pedoman, serta ibarat telah dinyatakan dalam syair tersebut.

Keempat, dalam Syair Nasehat Kepada Anak, kita lihat unsur diksi, keindahan atau gaya bahasa, dan imajinasi, serta kata-kata konkrit saling berkaitan satu sama lain untuk memberi gambaran yang menarik dan indah yang terdapat dalam syair ini. Dalam setiap bait, pemilihan katanya melambangkan keindahan, kreatifitas, dan imajinasi pengarangnya yang sesuai dengan tema dan nada syair tersebut. Ini semua menunjukkan dan memenuhi fungsi syair sebagai media penyampai nasehat dan sebagai alat hiburan.

Kelima, selain mencerminkan masyarakat, syair juga berperan sebagai alat penyampai nasehat dan pengajar. Ini dapat kita lihat melalui Syair Nasehat Kepada Anak yang memiliki antara lain:

a)   Prinsip-prinsip dan kriteria seorang pemimpin. Adapun prinsip-prinsip dan kriteria seorang pemimpin yang terdapat dalam syair ini adalah: memiliki kemampuan sebagai pengawas, kecerdasan, ketegasan, percaya diri, bertanggung jawab, memiliki rasa kemanusiaan, dan inisiatif.

b)   Akhlak seorang Muslim. Akhlak seorang Muslim pada umumnya dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yaitu akhlak muila atau budi pekerti terpuji dan akhlak atau sikap yang tercela. Untuk membentuk kepribadian seorang Muslim sejati, akhlak yang tercela ini harus dihindari.

c)     Hormat dan patuh kepada guru. Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai peranan ganda yaitu sebagai pendidik dan sebagai pengajar. Sebagai seorang pendidik, guru berperan membentuk sikap pekerti yang mulia, sedangkan sebagai pengajar guru bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, berarti guru ikut membantu kecerdasan anak didiknya. Oleh sebab itu wajiblah seorang guru itu dihormati.

d)     Pandai menempatkan diri. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan jiwa dan ikut menentukan masa depan seseorang. Oleh sebab itu, pandai menempatkan diri dan memilih teman akan membawa kepada kebahagiaan hidup.

e)   Ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dimiliki  seseorang, dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya.

f)      Dalam bertindak harus menggunakan akal dan pikiran. Akal dan pikiran merupakan karunia dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia dan sekaligus yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan mempunyai akal dan pikiran, diharapkan manusia mampu menjadi khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Orang yang menggunakan akal pikirannya dengan baik akan memperoleh keberhasilan dalam segala tindakan.

g)    Pengendalian hawa nafsu. Hawa nafsu diciptakan Tuhan untuk manusia bukan untuk dibunuh atau dimusnahkan, melainkan untuk dikendalikan. Salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu ini adalah dengan mengisi rohani kita dengan ajaran agama dan keyakinan serta mendekatkan diri kepada Allah. Amar ma’ruf atau amal kebajikan harus kita tingkatkan untuk mencegah kemungkaran. Nafsu yang jahat harus kita lawan supaya tidak tergoda oleh rayuan setan.

Keenam, bahwa nilai-nilai didaktis yang terdapat dalam Syair Nasehat Kepada Anak, masih relevan dengan kehidupan sekarang. Dalam syair ini pengarang lebih menekankan kepada aspek moral yang didasarkan kepada ajaran agama Islam.

------------ooOoo---------------

 
Daftar Pustaka

  • Abadi, Jihati dkk. 1982. Sari Sejarah Kesusasteraan Melayu Indonesia (Klasik & Modern). Kuala Lumpur : Publishing.
  • Ahmad, Annas Haji. 1988. Sastra Melayu Lama dan Baru. Selangor : Masa Enterprise.
  •  Alisjahbana, S. Takdir. 1985. Puisi Lama. Jakarta : Dian Rakyat.
  •   Aminudding. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru.
  •  Asmaran As. 1992. Pengantar Ilmu Sastra. Surabaya : Usaha Nasional.
  • Balai Pustaka. 1991. Pantun Melayu. Jakarta.
  • Departemen Agama Republik Indonesia. 1987. Al-Quran dan Terjemahannya. Jakarta.
  • Hamid Ismail. 1987. Perkembangan Kesusastraan Melayu Lama. Selangor: Longman.
  • ___________. 1990. Asas Kesusastraan Islam. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • J. Waluyo, Herman. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga.
  • Jalaluddin dan Usman Said. 1994. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
  • M. Manullang. 1982. Beberapa Segi Management Perusahaan. Yogyakarta : BKLM.
  • M. Sastrapradja. 1981. Kamus Istilah Pendidikan dan Umum. Surabaya : Usaha Nasional.
  • Masya, Ismail dkk. 1978. Manajemen. Jakarta : Departemen Pendidikan danKebudayaan.
  • Mat, Naapie, 1992. Puisi Lama. Kuala Lumpur : Nurin Interprise.
  • Nasution, Harun. 1982. Kedudukan Akal Dalam Islam. Jakarta : Yayasan Idayu.
  • Nor, Mohd. Yusof Md. 1991. Puisi Melayu Tradisi. Selangor : Fajar Bakti.
  • Osman, Mohd. Taib. 1986. Warisan Puisi Melayu. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Piah. Harun Mat. 1989. Puisi Melayu Tradisional. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Poerbakawatja. 1976. Ensiklopedi Pendidikan. Jakarta : Gunung Agung.
  • Rasyid, Sulaiman. 1984. Fiqih Islam. Jakarta : Jaya Murni.
  • Situmorang, B.P. 1983. Puisi dan Metodologi Pengajarannya. Ende-Flores: NusaIndah.
  • _____________. 1983. Puisi Teori Apresiasi Bentuk dan Struktur. Ende-Flores: Nusa Indah.
  • Sudjiman, Panuti (Ed.). 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta : Gramedia.
  • Sukapiring, Peraturen. 1989. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Medan: Fakultas Sastra USU.
  • Sumarjo, Jakob dan Saini K.M. 1991. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta : Gramedia.
  • Tarigan, Hendri Guntur. 1991. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.
  • WJS Purwadarminta. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Ya’qub, Hamzah. 1983. Etika Islam. Bandung : Diponegoro.

 [1] Naskah ini telah mengalami proses editing seperlunya. Naskah asli tulisan ini di download dari:  http://library.usu.ac.id

[2] Ramlan Damanik adalah dosen Fakultas Sastra Jurusan Sastra Daerah Universitas Sumatera Utara

Foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM)
           Lukisan Koleksi Mahyudin Al Mudra, Karya Firdaus Alamhudi (Original),
           Judul : "Mengaji Dengan Mata Hati", ukuran : 80 x 122, 1995

Dibaca 11.248 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !